MENGGAPAI SURGA DENGAN KESUCIAN HATI

Pernahkah kita bertanya, mengapa dua orang bisa melakukan hal yang sama, tetapi hasilnya begitu berbeda? Jawabannya sering kali terletak pada satu hal yang tak terlihat—hati.

 

Manusia merupakan makhluk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk lain di muka bumi ini. Allah Swt. memberikan sebuah keistimewaan luar biasa, yaitu akal pikiran dan hati yang secara rohani menjadi pusat kendali tertinggi yang dapat menentukan pikiran, perkataan, serta perbuatan seseorang. Kondisi hati yang baik dapat mencerminkan kebaikan seluruh anggota tubuhnya.

Hati juga bertindak sebagai “raja” atau penggerak utama perilaku dan moralitas seseorang.Hal inilah yang menjadikan hati harus terus dijaga agar tetap bersih, tidak tertutup penyakit batin yang dapat merusak segalanya.

Namun, sayangnya di zaman yang serba modern ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kemunduran rohani dalam masyarakat Islam, terutama, nyata adanya.

Tak jarang kita temui orang-orang bergerombol bukan membicarakan hal-hal yang baik, tetapi sebaliknya. Akibat iri hati, mereka membicarakan keburukan orang lain seolah itu merupakan hal yang lumrah.

Ada pula kasus lain, ketika kebencian telah merasuk ke dalam diri, maka hal-hal yang terlarang pun dapat ia lakukan. Kesemuanya bersumber dari hati yang tidak terjaga dengan baik.

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan,

 “Hati yang sehat adalah hati yangmengenal kebenaran, menginginkannya, serta memenangkannya di atas hawa nafsu.”

Ini dapat diartikan bahwa seseorang harus mengenali sebuah kebaikan atau kebenaran serta menjaganya agar tetap terpelihara dengan baik, meski dorongan hawa nafsu terus mendesaknya.

Kebersihan hati inilah yang dapat menjadi penghubung seseorang menuju surga-Nya kelak.

Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

“Kecuali orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang sehat.” [1]

“Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa.”[2]

Sebegitu pentingnya menjaga hati agar selalu sehat dan bersih sehingga dapat mendekatkan kita dengan surga-Nya.

Kisah berharga yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. menceritakan bahwa saat sedang duduk bersama Rasulullah saw., beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang penduduk surga.” Baru saja Rasulullah diam, tampak seorang sahabat Ansar satang, janggutnya masih basah terkena bekas air wudu, dan terlihat tangan kirinya menenteng kedua sandalnya.

Keesokan harinya, Nabi Muhammad saw. kembali mengatakan hal yang sama persis seperti kemarin. Muncul kembali orang dengan ciri-ciri yang sama. Hal ini kembali berulang hingga hari ketiga.

Pada hari ketiga tersebut, usai Rasulullah saw. berdiri meninggalkan majelis, salah seorang sahabat, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash r.a., membuntuti orang tersebut lalu berkata kepadanya, “Aku sedang punya masalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Bolehkah aku menginap di rumahmu sampai tiga hari?”

“Oh, silakan,” jawab lelaki yang dipastikan Rasulullah saw. sebagai penduduk surga ini.

Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash kemudian menginap di rumah lelaki tersebut selama tiga malam. Ia sama sekali tidak melihat sang tuan rumah mengerjakan salat malam. Hanya saja, jika ia terjaga di malam hari dan bolak-balik di tempat tidur, ia tampak berzikir kepada Allah dan bertakbir hingga bangun untuk menjalankan salat Subuh.

Dalam kisah yang disampaikan Abdullah, ia menyebutkan, “Tidak ada yang istimewa dari lelaki tadi. Hanya saja, aku tidak pernah mendengarnya mengatakan apa pun kecuali ucapan yang baik.”

Setelah tiga hari berlalu, Abdullah berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya antara aku dan ayahku tidak ada masalah, apalagi hingga saling memboikot.

Aku hanya mendengar Rasulullah saw. berkata sebanyak tiga kali, ‘Akan muncul di hadapan kalian seorang penduduk surga, dan engkaulah orangnya. Hal itu mendorongku untuk menginap bersamamu agar aku dapat melihat amalanmu sehingga bisa menirunya. Namun, aku tidak melihat engkau melakukan banyak amalan. Sebenarnya amalan apa yang mengantarkan mu pada derajat sebagaimana sabda Nabi saw?”

Saat Abdullah hendak beranjak pergi, lelaki itu memanggilnya dan berkata,

“Amalanku hanyalah yang engkau lihat. Hanya saja, aku tidak menemukan perasaan dengki dalam hatiku kepada seorang Muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada siapa pun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya.”

Mendapat jawaban tersebut, Abdullah menimpali, “Nah, inilah amalan yang mengantarkan engkau menjadi penduduk surga. Dan inilah yang kami tidak mampu.”[3]

Dari kisah yang luar biasa indah ini seolah membuka mata kita bahwa hal yang tampak kecil, namun terasa begitu sulit untuk dilakukan, memiliki nilai yang luar biasa dahsyat, yaitu menjaga kesucian hati. Hati yang bersih akan terpancar dari perilaku dan perbuatan seseorang, serta membawanya menuju surga.

Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah Swt. berikan rahmat-Nya, memiliki hati yang sehat dan bersih, hingga nantinya Allah Ta‘ala membukakan pintu surga-Nya untuk kita. Aamiin.

Referensi:

1. QS: Asy-Syu‘ara: 90

2. QS: Asy-Syu‘ara: 91

3. HR Ahmad: 12236

Views: 36

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *