MERAIH KEDEKATAN DENGAN ALLAH TA’ALA MELALUI DOA
Ketika manusia tidak lagi memiliki tempat bergantung, pada akhirnya ia akan kembali kepada doa. Berdoa adalah salah satu bentuk ibadah yang paling sederhana tapi sangat efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Manusia memiliki berbagai kebutuhan dan keinginan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Berdoa menjadi sarana untuk mengungkapkan semua itu kepada Allah Ta’ala, sebagai wujud ketergantungan dan pengakuan akan kekuasaan-Nya. Selain itu, berdoa juga merupakan kewajiban bagi umat Muslim, sebagai perintah langsung dari Allah Ta’ala untuk meminta dan memohon kepada-Nya.
“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doamu.” [1]
Doa bukanlah suatu istilah kosong, tetapi merupakan bagian dari karakteristik fitrah manusia. Manusia berperan sebagai pemohon, sedangkan Tuhan sebagai Yang Mengabulkan. Seperti ketika seorang anak menangis karena dorongan lapar perutnya, maka susu segera dihasilkan di dada ibunya. Anak itu tidak tahu tentang apa itu doa tetapi tangisnya telah menghasilkan susu. Hal ini merupakan suatu hal yang bersifat universal.
Terkadang meski si ibu tidak menyadari adanya air susu di dadanya, tangis si anak akan membantunya menghasilkan air susu. Lalu apakah tangis kita di hadapan Tuhan tidak akan menghasilkan apa pun? Sesungguhnya tangis itu akan menarik segalanya. [2]
“Hal besar yang dapat diraih dalam doa adalah qurub (kedekatan) Ilahi, melalui doalah manusia dapat menjadi dekat dengan Allah Ta’ala dan dia menarik manusia itu ke arahnya.” [3]
Berkat selalu berdoa, manusia bisa meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala. Dengan berdoa, hati manusia menjadi lebih lembut dan khusyu, sehingga lebih mudah untuk merasakan kehadiran-Nya dalam hidupnya. Doa juga menjadi penghubung antara manusia dan Allah Ta’ala, sehingga manusia menjadi lebih sadar akan tindakannya dan berusaha untuk selalu menjadi lebih baik.
Patut diketahui bahwa doa (salat) diwajibkan bagi umat Muslim menurut firman Ilahi berdasarkan empat pertimbangan, yaitu:
Pertama, dengan cara selalu berpaling kepada Tuhan-nya setiap saat dan dalam keadaan apapun maka manusia meyakini sepenuhnya akan Ketauhidan Ilahi karena dengan memohon kepada-Nya maka yang bersangkutan jadinya mengakui hanya Tuhan saja yang dapat mengabulkan harapan seseorang.
Kedua, keimanan akan dikuatkan melalui pengabulan doa dan tercapainya tujuan yang diharapkan
Ketiga, dengan beranekanya bentuk rahmat maka pengetahuan dan kebijaksanaan menjadi ditingkatkan.
Keempat, jika seseorang diberitahukan tentang pengabulan doa melalui kasyaf atau wahyu yang kemudian terpenuhi, maka pemahaman akan samawi menjadi ditingkatkan dimana pemahaman itu akan berkembang menjadi kepastian. Adapun kepastian berkembang pula menjadi kecintaan dan melalui kecintaan inilah maka yang bersangkutan akan terbebas dari segala dosa serta melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah SWT. Dan inilah yang merupakan intisari keselamatan hakiki. [4]
Sesungguhnya doa berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Melalui doa maka Tuhan mendekat kepada kalian sebagaimana nyawa kalian dekat dengan kalian. Doa adalah obat penawar paling utama yang merubah segenggam debu menjadi logam mulia. Doa merupakan air yang membasuh kekotoran di dalam batin. Melalui doa maka kalbu akan meleleh yang kemudian mengalir seperti air dan jatuh di Hadirat Ilahi. Doa akan tegak di Hadirat Ilahi, ruku di hadapan-Nya, dan bersujud di hadapan-Nya. Sesungguhnya salat yang diajarkan dalam Islam merupakan refleksi dari doa seperti itu.
Referensi:
[1] QS. Al-Mu’min 40: 61
[2] Malfuzat, vol.I, hal. 129-130. Inti Ajaran Islam bagian kedua hal. 182
[3] Malfuzat jilid VII, hal. 56-61
[4] Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; Ruhani Khazain, vol.14, hal.242, London, 1984 (Inti Ajaran Islam bagian kedua)
Views: 116
