PERBAIKI IBADAH DENGAN BERSYUKUR
Manusia diciptakan sebagai makhluk Allah Swt. yang sempurna, namun tetap memiliki kekurangan dan kelemahan seiring perjalanan hidupnya. Oleh karena itu, kita sejatinya harus senantiasa bersyukur atas setiap rahmat yang Allah berikan kepada kita semua.
Dalam salat, kita senantiasa membaca doa “ihdinas shiratal mustaqim” yang artinya
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Hal ini menunjukkan bahwa bahkan dalam keadaan beribadah sekalipun, kita tidak luput dari kemungkinan melakukan kesalahan dan menyimpang dari jalan yang seharusnya.
Setelah selesai salat, kita juga sering berdoa, di antaranya: “Allahumma a‘inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.”
Artinya: “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” [1]
Doa ini mengingatkan kita pada kisah sahabat Hadhrat Rasulullah saw., yaitu Mu‘adz bin Jabal. Beliau merupakan sahabat dari kaum Anshar yang masih muda, gagah, dan memiliki keilmuan yang sangat diakui oleh para sahabat lainnya. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat memahami perkara halal dan haram.
Meskipun memiliki ilmu yang tinggi, Mu‘adz bin Jabal ra. dikenal rendah hati. Beliau tidak banyak berbicara kecuali ketika diminta. Namun, ketika diminta pendapatnya, semua yang hadir akan menyimak dengan penuh perhatian. Beliau juga diutus oleh Hadhrat Rasulullah saw. sebagai pendakwah ke negeri Yaman, menunjukkan besarnya kepercayaan Rasulullah saw. kepadanya.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah memegang pundak Mu‘adz dan menyampaikan rasa cinta kepadanya. Beliau kemudian berpesan agar Mu‘adz senantiasa membaca doa:
“Allahumma a‘inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.”
Artinya: “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.”
Jika seorang sahabat yang telah terjamin kesalehan dan ketaatannya kepada Allah saja dianjurkan untuk membaca doa tersebut, maka terlebih lagi kita sebagai manusia biasa. Oleh karena itu, doa ini sepatutnya senantiasa kita baca setelah salat, disertai dengan pemahaman terhadap maknanya agar dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah Mu‘adz bin Jabal mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Setiap insan tetap membutuhkan pegangan, yaitu Allah Swt., Sang Pencipta.
Dalam Al-Qur’an,, Allah Swt. berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”[2]
Syukur memiliki tiga bentuk:
(1) Dengan hati, yaitu menyadari dan meyakini nikmat yang diperoleh berasal dari Allah;
(2) Dengan lisan, yaitu memuji dan mengagungkan Allah atas nikmat-Nya;
(3) Dengan perbuatan, yaitu menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak-Nya.
Oleh sebab itu, seseorang baru dapat disebut benar-benar bersyukur apabila ia memanfaatkan segala karunia Allah dengan tepat (Tafsir No. 1455).
Rasa syukur akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari, seperti dengan beribadah dengan baik, saling membantu sesama, taat kepada pemimpin, menghormati orang tua, serta menggunakan waktu yang dimiliki dengan bijak.
Semoga tulisan ini dapat kita pahami dan memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin.
Referensi:
(1) HR Abu Dawud
(2) Qs. Ibrahim: 7
Views: 62
