BELAJAR IKHLAS DI BULAN RAMADAN DARI RABI’AH BIN KA’AB
Banyak orang melakukan kebaikan. Tetapi tidak semua kebaikan bernilai sama di sisi Allah. Mengapa? Karena Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya segala amalan itu tergantung pada niat.” [1]
Hadis tersebut sebenarnya cukup panjang, namun yang paling melekat di ingatan kita adalah kalimat pertamanya. Penggalan itulah yang seakan mengingatkan kita untuk selalu memeriksa kembali niat di balik setiap langkah dan perbuatan yang kita lakukan.
Seberapa penting sih niat itu? Niat itu unik karena tak terucap, tetapi ada di dalam hati seseorang. Kita mungkin saja tidak menyadari bahwa setiap gerak-gerik kita ada yang mengawasi, yakni Sang Maha Kuasa. Dialah yang menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya. Allah SWT pun menciptakan satu bagian tubuh manusia yang merupakan akar dari segala perbuatan yang dijalankan semasa hidupnya. Bagian tubuh inilah yang bisa menyimpan segala niat tadi, yaitu “hati”.
Manusia tak akan pernah bisa menyembunyikan isi hati mereka dari diri mereka sendiri dan dari Allah SWT, meskipun seberapa kuat ia berusaha menyembunyikannya dari orang lain. Maka dari itulah kita sebagai umat manusia diharapkan mempunyai hati yang bersih agar amal perbuatan kita juga merupakan amalan yang lurus.
Di zaman Rasulullah saw. ada seorang sahabat, yakni Rabi’ah bin Ka’ab. Beliau adalah seorang yang miskin dan menjadi pelayan setia Rasulullah saw. dalam melayani dan menemani beliau di setiap waktu. Bahkan, beliau menjadi saksi bagaimana Rasulullah memecah kesunyian malam dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Suatu ketika, Rasulullah saw. pernah bertanya kepadanya apakah ada permintaan yang Rabi’ah inginkan untuk beliau doakan kepada Allah SWT. Dengan ketulusan hati yang dimiliki oleh Rabi’ah, beliau tidak meminta keduniawian yang bisa membawa dirinya keluar dari kemiskinan. Justru, Rabi’ah meminta agar didoakan untuk bisa menemani Rasulullah saw. di surga nanti sebagaimana yang sering dilakukannya di masa hidupnya.
Kemudian Rasulullah saw. pun berdoa dan mengatakan kepada Rabi’ah agar membantunya dengan memperbanyak sujud.
Pada suatu ketika, Rabi’ah juga pernah diriwayatkan berselisih paham dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang membuat Abu Bakar mengucapkan kata-kata kasar, namun segera menyesalinya dan meminta Rabi’ah untuk mengucapkan kata-kata yang sama kepadanya. Namun hebatnya, Rabi’ah sangat bijaksana dan tidak membalas dengan hal yang sama. Ia tetap menunjukkan kesopanan yang tinggi dan tidak ingin melukai hati Rasulullah saw. maupun Abu Bakar. Ia menyadari bahwa perbuatan Abu Bakar terhadapnya merupakan cerminan sifat ash-shiddiq beliau, yang jujur atas kejadian apa pun, dan mereka pun berdamai.
Inilah contoh bagaimana ketulusan hati seseorang dapat memadamkan api amarah. Ia tak terucap, namun dapat dirasakan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, kita sebagai umat manusia hendaknya sangat memperhatikan kebersihan hati yang kita miliki agar setiap perbuatan yang muncul dari niat di hati adalah perbuatan yang diridai Allah SWT.
Hati yang tulus dan ikhlas akan tercermin dalam setiap perbuatan. Kita harus ingat bahwa apa yang tak terucap dan tersembunyi sejatinya Allah SWT mengetahui segala hal itu. Jadi, jangan biarkan perbuatan kita yang baik dikotori oleh niat yang tidak lurus.
Sebagaimana Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”[2]
Ayat ini turun sebagai respons terhadap kelakuan orang-orang musyrik di zaman Rasulullah saw. yang berbicara berbisik-bisik agar perkataan mereka tidak terdengar. Padahal setiap perkataan mereka, baik yang terucap maupun yang tidak, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui segala hal itu.
Referensi:
[1] HR. Bukhari-Muslim.
[2] QS: Al-Mulk: 14.
Views: 42
