CAHAYA YANG MENGANTAR PADA KETAATAN BARU
Dalam perjalanan spiritual seorang muslim, pernah merasa sudah beribadah dengan sungguh-sungguh, tetapi diam-diam bertanya dalam hati: apakah semua ini benar-benar diterima oleh Allah? Pertanyaan ini bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan bentuk kepekaan iman yang perlu dipelihara.
Para ulama menjelaskan bahwa ada tanda-tanda yang dapat menjadi syarat diterimanya suatu amal. Salah satu penjelasan yang sangat dalam disampaikan oleh ulama besar, Ibnu Rajab Al-Hambali, dalam kitabnya Lathoif al-Ma’arif. Beliau mengatakan:
“Barangsiapa melakukan dan menyelesaikan suatu ketaatan, maka di antara tanda diterimanya amalan tersebut adalah dimudahkan baginya untuk melakukan amalan ketaatan lainnya.” (Al-Maktab Al Islami, cetakan pertama 1428, hal. 393)
Ungkapan ini menggambarkan sebuah rahasia spiritual dalam kehidupan seorang mukmin. Amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas tidak berhenti pada satu titik. Ia seperti cahaya yang menyalakan cahaya lainnya. Sebuah ketaatan yang diterima sering kali menjadi pintu bagi ketaatan berikutnya.
Ketika seorang hamba selesai menunaikan suatu ibadah atau kebaikan, lalu hatinya terdorong untuk melakukan kebaikan lain, maka boleh jadi itulah bentuk kasih sayang Allah SWT kepadanya. Allah tidak hanya menerima amalnya, tetapi juga menuntunnya agar terus berjalan di jalan ketakwaan.
Prinsip ini ditegaskan oleh firman Allah SWT:
“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka.” (QS. Muhammad: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa petunjuk Allah bersifat bertumbuh. Ketika seorang hamba berjalan di jalan kebaikan, Allah menambahkan cahaya petunjuk lainnya sehingga langkahnya semakin mantap menuju ketakwaan.
Seorang hamba yang terus diberi kemudahan untuk melakukan kebaikan adalah hamba yang sedang dipilih oleh Allah untuk berada dalam lingkaran rahmat-Nya. Dari sini kita dapat memahami bahwa ketaatan tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah rangkaian perjalanan menuju kedekatan dengan Allah SWT.
Sebagaimana sabda Masih Mau’ud as:
“Kewajiban terhadap Allah itu adalah paling besar, namun cermin yang digunakan untuk mengetahui apakah ia melakukan kewajibannya terhadap Allah atau tidak, sesungguhnya adalah apakah dia melakukan kewajiban terhadap makhluk atau tidak.” (Malfuzat, Jilid 6)
Dari penjelasan di atas, kita dapat merenungkan sebuah pelajaran sederhana namun dalam: ketika kita merasa dimudahkan untuk terus berbuat baik setelah melakukan suatu kebaikan, hendaknya kita bersyukur. Bisa jadi itu adalah tanda bahwa amal kita diterima dan Allah sedang membukakan pintu-pintu kebaikan berikutnya.
Maka, jika setelah shalat kita merasa ringan untuk bersedekah, setelah membaca Al-Qur’an kita terdorong untuk berzikir, atau setelah membantu orang lain kita semakin ingin berbuat baik, jadikanlah itu sebagai motivasi untuk terus melangkah. Sebab, ketaatan yang lahir dari ketaatan sebelumnya adalah cahaya yang menerangi jalan menuju ridha-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang diberi kemudahan untuk istiqomah dalam kebaikan, dan menerima setiap amal kecil yang kita persembahkan dengan penuh keikhlasan. Aamiin.
Views: 25
