DIRIKANLAH SALAT UNTUK MENGINGAT ALLAH TA’ALA

Alkisah, Abu Thalhah ra. adalah seorang Muslim yang taat dan patuh kepada Allah Ta’ala. Suatu hari, ia tengah giat bekerja di kebun kurma.

 

Ketika waktu salat tiba, sesegera mungkin ia mengambil air wudu, lalu melaksanakan salat di kebunnya. Saat salat, tiba-tiba perhatiannya tertuju pada seekor burung yang sedang terbang. Burung itu hinggap dari satu batang pohon ke batang lainnya, lalu terbang hingga tersesat di rimbunan pepohonan yang lebat.

 

Abu Thalhah ra. terus mengikuti pergerakan burung hingga ia lupa berapa rakaat salatnya. Kelalaian itu menimbulkan penyesalan tak terhingga. Ia sadar bahwa kebunnyalah yang membuatnya kehilangan perhatian dalam salat. Setelah mengakhiri salat, ia pergi menghadap Hadhrat Rasulullah saw. lalu menceritakan semuanya. Ia berkata:

 

“Ya Rasulullah, kebunku ini telah membuatku lalai dari salatku. Karenanya, aku ingin menyerahkan kebun ini di jalan Allah. Apapun yang engkau sukai untuk digunakan, pergunakanlah!” [1]

 

Kisah seperti ini kemungkinan besar dialami oleh hampir semua orang yang mendirikan salat. Tak bisa dipungkiri, sebagai makhluk yang lemah, hal seperti ini adalah wajar. Bahkan, mengalaminya merupakan pengakuan jujur atas keterbatasan diri. Kuncinya: teruslah mendirikan salat, bukan meninggalkannya. Sebagaimana Allah berfirman (artinya):

 

“Dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” [2]

 

Inilah yang diinginkan Allah dari makhluk-Nya: diingat. Apa pun yang terjadi, apa pun yang dialami, selalu mengingat Allah Ta’ala. Dan zikir yang paling disukai Allah Ta’ala adalah salat. Jika salat hanya digugurkan sebagai kewajiban, maka kenikmatannya akan terasa lain. Berbeda bila salat dijadikan sebagai kebutuhan maka ketika tidak mendirikan salat, akan terasa ada yang kurang.

 

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda:

 

“Seseorang hendaknya merendah dan kemudian memohon kepada Tuhan mencukupi kebutuhannya. Kecuali seseorang merendahkan dirinya saat salat dan menjadikan salat sebagai permohonannya, salat tidak dinikmati dengan sepenuhnya.” [3]

 

Mujahadah untuk meraih kenikmatan dalam salat akan timbul seiring dengan kebutuhan yang dirasakan. Semakin tergantung kepada Allah Ta’ala, manusia akan terus berupaya mencapainya. Jatuh bangun dalam meraih kenikmatan salat tentu akan menarik ganjaran Allah Ta’ala berupa pahala dan keridaan-Nya. Ketika segala usaha telah membuahkan hasil, salat baginya menjadi santapan dan penyejuk mata seakan-akan bonus dari surga. [4]

 

Hadhrat Masih Mau’ud as. berpesan:

 

“Jika seluruh umur ini dilewatkan di dalam pekerjaan-pekerjaan duniawi, maka apa yang telah dikumpulkan untuk akhirat? Bangunlah secara khusus untuk tahajud dan dirikanlah dengan penuh minat dan khusyuk. Karena di antara salat-salat itu ada pekerjaan, maka akan timbul ujian. Hendaknya dirikan salat pada waktunya. Zuhur dan Asar kadang-kadang bisa dijamak. Allah Ta’ala mengetahui bahwa akan ada orang-orang yang lemah (uzur); untuk itulah kelonggaran ini diberikan.” [5]

 

Hakikatnya, perintah mendirikan salat adalah untuk mengingatkan bahwa manusia hanya bisa bergantung kepada Allah Ta’ala. Jika mereka bergantung kepada selain-Nya, Allah Ta’ala akan terus menarik mereka agar kembali kepada-Nya. Kenikmatan dan musibah yang manusia rasakan sebenarnya bertujuan membuatnya selalu mengingat keberadaan Allah Ta’ala. Itulah sebabnya Allah Ta’ala memerintahkan untuk mendirikan salat sarana untuk selalu mengingat Sang Pencipta, agar selalu bersyukur atas segala karunia-Nya, dan tentu juga sebagai sarana meraih keridaan-Nya.

 

Referensi:

 

[1] Kumpulan Kisah Teladan dan Humor Sufi, hlm. 131–132

[2] QS. Tha-Ha 20:15

[3] Malfuzat, Vol. II, hlm. 145

[4] Pidato Jalsah Salanah, 25 Desember 1897; Malfuzat, Jld. I, hlm. 29–31

[5] Malfuzat, Vol. I, hlm. 6

 

Views: 16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *