KEMATIAN MEMBERIKAN PELAJARAN DALAM BERAMAL
Masjid kembali sepi, mushaf mulai tertutup, dan doa tak lagi seramai di bulan Ramadhan. Lalu, kemana perginya semangat ibadah kita?
Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan. Bulan ini sering menjadi momentum kebangkitan spiritual bagi banyak Muslim. Masjid menjadi lebih ramai, mushaf Al-Qur’an lebih sering dibuka dan hati menjadi lebih lembut dengan zikir dan doa. Namun, sebuah pertanyaan penting perlu kita renungkan bersama, apakah semangat ibadah kita hanya muncul saat Ramadhan saja?
Di antara nasihat emas dari para ulama, ada ucapan menyentuh dari Bisyr al-Hafi, beliau berkata:
“Sejelek-jelek kaum adalah mereka yang mengenal Allah hanya di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang shalih yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.” [1]
Seharusnya amal seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal datang menjemput. Sebagaimana yang disampaikan oleh Al Hasan Al Bashri bahwa:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.”
Dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman:
“Dan teruslah menyembah Tuhan engkau, hingga maut datang kepada engkau.” [2]
Ayat ini menegaskan bahwa ibadah kepada Allah tidak mengenal masa atau momen tertentu saja. Ia adalah perjalanan seumur hidup.
Ibnu ‘Abbas ra., mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa, maksud “al yakin” dalam ayat tersebut adalah kematian. Kematian disebut “al yakin” karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi.
Ibnu Katsir mengatakan, “Dari ayat ini menunjukkan bahwa ibadah seperti shalat dan semacamnya wajib dilakukan selamanya selama akalnya masih ada. Ia melakukan sesuai dengan kondisi yang ia mampu.” [3]
Salah satu sifat orang beriman sejati adalah istiqomah, atau konsisten dalam ketaatan. Hadhrat Nabi Muhammad saw., bersabda:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” [4]
Hadits ini mengajarkan kita bahwa kualitas ibadah tidak semata-mata diukur dari kuantitasnya dalam waktu singkat, tetapi dari konsistennya dalam jangka panjang. Lebih baik membaca Al-Qur’an satu halaman setiap hari sepanjang tahun, daripada menyelesaikan 30 juz hanya dalam Ramadhan tapi tak membukanya lagi setelahnya.
Ramadan merupakan madrasah ruhani yang Allah Ta’ala siapkan untuk melatih kita menjadi pribadi yang bertakwa. Jika setelah Ramadhan kita kembali kepada kelalaian dan maksiat, maka pertanda kita belum lulus dari pelatihan Ramadan. Padahal, tujuan dari Ramadhan bukan hanya untuk mengisi satu bulan dengan ibadah, tapi untuk membawa perubahan jangka panjang dalam hidup kita.
Ramadan memang spesial, tapi keistimewaan kita sebagai hamba Allah Ta’ala justru diuji di luar bulan itu. Apakah kita tetap menjaga shalat berjamaah? Apakah tilawah tetap mengisi hari-hari kita? Apakah hati masih gemetar ketika mendengar ayat-ayat Allah?
Mari kita buktikan bahwa kita bukan hanya Ramadhaniyyun yaitu orang-orang yang hanya semangat saat Ramadhan lalu kembali lalai setelahnya. Shalat malam hanya di 10 malam terakhir, tilawah Al-Qur’an berhenti di hari raya, dan masjid kembali sepi ketika takbir Idul Fitri berkumandang. Tetapi marilah kita menjadi Rabbaniyyun yaitu hamba-hamba yang setia dan taat sepanjang tahun bahkan hingga akhir hayat.
Semoga kita termasuk orang-orang yang istiqomah dalam ibadah, bukan hanya saat Ramadhan tetapi sepanjang hayat.
Referensi :
[1] Lathaiful Ma’arif, hal. 390
[2] QS. Al-Hijr 15: 100
[3] Tafsir Al-Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 8/287
[4] HR. Bukhari dan Muslim
Views: 29
