ANTARA DUNIA DAN AKHIRAT: MENEMUKAN KESEIMBANGAN HIDUP

Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar istilah dokter tentram versus dokter tantrum? Beberapa waktu lalu, dua dokter ini sedang viral di media sosial karena sering muncul di berbagai podcast dan acara televisi. Ya, mereka adalah Dokter Gia dan Dokter Tirta.

 

Dokter Gia terkenal dengan kelembutannya. Sedangkan Dokter Tirta dikenal dengan kesan tegas dan keras.

 

Tak heran keduanya viral. Meskipun gaya mereka berbeda, mereka memiliki tujuan yang sama yakni mengedukasi masyarakat tentang kesehatan. Mereka adalah contoh nyata bahwa perbedaan pendekatan tidak selalu berarti pertentangan, selama tujuannya baik.

 

Yang cukup menarik bagi penulis adalah pribadi Dokter Gia. Dalam salah satu podcast, ia mengaku tidak pernah bisa marah. Ketika Dokter Tirta memancingnya untuk menunjukkan bagaimana cara marah, Dokter Gia tetap pada pendiriannya untuk bersikap lembut kepada siapa pun.

 

Apa kunci Dokter Gia untuk tidak mudah marah? ‘Beristighfar’ (memohon ampun kepada Allah). Dokter Gia berhasil menggabungkan ilmu duniawi dengan ilmu akhirat untuk menyeimbangkan kehidupan, sehingga terhindar dari kekacauan yang tidak diinginkan.

 

Manusia seringkali terjebak dalam dua sikap ekstrem:

 

1. Terlalu fokus pada dunia.

Sebagian umat manusia lupa akan akhirat dan lebih fokus pada urusan dunia. Mereka bekerja, berkarir, atau belajar semata-mata demi meraih kesuksesan duniawi. Padahal, dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan kehidupan akhiratlah tempat kita bermuara.

 

2. Terlalu fokus pada ibadah tanpa menghiraukan dunia.

Sebagian orang lain terfokus pada ibadah ritual hingga mengabaikan hak dan kewajiban terhadap keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekelilingnya.

 

Lalu, siapakah yang terbaik di antara mereka?

 

Di zaman Rasulullah Saw, ada seorang sahabat yang justru ditegur karena terlalu fokus beribadah hingga mengabaikan hak keluarganya, yaitu Utsman bin Mazhun.

 

Suatu ketika, ia meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk menceraikan istrinya agar bisa lebih fokus beribadah. Rasulullah Saw. pun menegurnya dengan tegas. Beliau menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Utsman bukanlah bagian dari sunnah dan bukan ajaran Islam.

 

Rasulullah Saw. sendiri memberikan teladan yang sempurna. Beliau memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan baik, memberikan nafkah lahir dan batin secara layak, tanpa mengabaikan perintah Allah untuk selalu dekat kepada-Nya.

 

Pernahkah kita berpikir untuk meninggalkan urusan duniawi demi fokus semata-mata pada ibadah? Sebagai manusia yang hidup penuh lika-liku, sangat sedikit di antara kita yang menyadari bahwa ibadah dan ikhtiar duniawi harus berjalan seimbang. Kita tidak bisa mengabaikan salah satu dari keduanya.

 

Rasulullah Saw. bersabda:

 

“Bukankah orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar akhirat, atau meninggalkan akhirat untuk mengejar dunia, sehingga dapat memadukan keduanya? Sesungguhnya kehidupan dunia mengantarkanmu menuju kehidupan akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban orang lain.”

(HR. Ibnu Asakir dari Anas)

 

Sahabat nabi yang lain, Amr bin Abdullah, pernah berkata:

 

“Kehidupan dunia dan akhirat di hati seorang manusia ibarat dua skala keseimbangan. Ketika salah satunya menjadi berat, maka yang lain akan menjadi ringan.”

 

Kutipan ini menegaskan bahwa dunia dan akhirat adalah dua hal yang saling mempengaruhi di dalam hati manusia. Jika seseorang terlalu fokus pada kesenangan duniawi (berat), maka kepeduliannya terhadap akhirat akan berkurang (ringan), begitu pula sebaliknya.

 

Jadi, agar kita bisa menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menata hati. Hati yang sehat akan menuntun setiap tindakan sesuai dengan porsinya masing-masing. Tidak berlebihan dalam urusan dunia, dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah serta sesama manusia.

 

Dengan keseimbangan itu, kita dapat menjalani hidup sebagai seorang muslim yang utuh. Taat kepada Allah, bermanfaat bagi sesama, dan selamat di dunia maupun di akhirat.

 

 

Referensi:

Hadis riwayat Ibnu Asakir dari Anas; perkataan Amr bin Abdullah; kisah Utsman bin Mazhun dari sumber sirah Nabawiyah.

 

Views: 20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *