MEMPERBAIKI AMALAN DIMULAI DARI MEMPERBAIKI PIKIRAN

Manusia seringkali tidak sadar bahwa tindakannya mencerminkan isi pikirannya. Mulut selalu bisa berkata manis, tapi jika tindakannya bertentangan dengan apa yang dikatakannya, justru itulah isi pikiran dan hatinya yang sesungguhnya. Apalagi, kalau kata-kata yang dilontarkan adalah kata-kata kotor dan tak beradab.

 

Hal ini sudah dicontohkan oleh 16 mahasiswa FH UI yang tertangkap melakukan percakapan kotor dalam sebuah grup pesan di sebuah aplikasi. Berawal dari percakapan kotor dan seksis, lahirlah tindakan pelecehan yang kemudian membuat para pelaku disidang dalam forum persidangan terbuka yang digelar atas kerja sama BEM FH UI dengan Dekanat FH UI pada Selasa (14/4/2026) dini hari. [*]

 

Hazrat Masih Mau’ud a.s. pernah bersabda, “Pikiran-pikiran buruk yang timbul begitu saja tanpa ikhtiar di dalam kalbu, manusia tidak akan diperkarakan karenanya di hadapan Allah Ta’ala, melainkan orang yang mengikuti pikiran-pikiran setaniah seperti itulah yang akan ditangkap. Pikiran-pikiran yang timbul di dalam, itu berada di luar kemampuan dan kendali manusia.” (Malfuzhat jilid V)

 

Sebagai makhluk yang diberi akal, sangat wajar kalau kadang kala muncul pikiran-pikiran gelap dalam kepala manusia. Tetapi, manusia yang sehat jiwanya, sesungguhnya diberikan kemampuan untuk mengendalikan segala pikiran gelap tersebut sehingga tidak sampai menenggelamkan hati nuraninya dalam kegelapan pula.

 

Gus Dur pernah berkata, “Peran agama sesungguhnya membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya merupakan bagian dari anggota umat manusia, dan bagian dari alam semesta.”

 

Manusia yang beragama, yang benar-benar mengadopsi ajaran agamanya, akan sadar bahwa dirinya adalah bagian dari umat manusia, bahwa dirinya tidak hidup sendiri, sehingga ia tak punya kebebasan mutlak untuk melakukan apa pun di dunia ini, apalagi bebas berbuat keburukan dan kejahatan. Karena kebebasan untuk berbuat keburukan pasti akan bersinggungan dengan hak manusia lainnya untuk tidak disakiti dan hidup dalam kedamaian.

 

Manusia yang beragama, yang benar-benar mengadopsi ajaran agamanya, juga akan sadar bahwa dirinya adalah bagian dari alam semesta, bahwa dia hidup hari ini masih membutuhkan oksigen yang dihasilkan oleh makhluk hidup lainnya. Sehingga ia akan berhati-hati dalam merusak alam, karena pada akhirnya kerusakan yang ditimbulkannya akan merugikan diri sendiri dan keturunannya di masa depan.

 

Namun, tindak tanduk yang baik dan beradab tidak akan lahir dari pikiran yang kotor dan jahat. Oleh karenanya, adalah perlu untuk terus menerus memperbaiki pikiran kita. Islam sendiri tak bisa menghakimi isi pikiran, selama tak ada tindakan buruk yang dilakukan. Namun, bila manusia tak mau mengendalikan isi pikirannya, maka jangan kaget bila suatu hari ia akan melakukan keburukan hasil dari pikirannya sendiri.

 

Perilaku 16 mahasiswa FH UI ini sendiri adalah salah satu buktinya. Percakapan kotor mereka adalah bukti isi pikiran mereka yang juga kotor. Awalnya mereka pikir percakapan ini hanya candaan dengan teman-teman dekat. Tapi karena setiap hari, setiap saat, hal-hal kotor saja yang mereka bicarakan, eskalasi kekotoran pikiran dan ucapan mereka semakin meningkat.

 

Hati nurani mereka semakin gelap dan rusak oleh karat, sampai mereka merasa perlu ada tantangan. Kemudian terjadilah malapetaka untuk orang lain yang mendapatkan pelecehan mereka. Dan malapetaka pun menimpa mereka sendiri.

 

Begitupula dengan orang-orang yang tak peduli telah merusak alam. Kita bisa mengetahui bahwa dalam pikiran orang-orang semacam ini hanyalah harta dan harta. Tanpa sadar, mereka telah memperlihatkan ketakaman mereka sendiri. Sulit bagi mereka untuk bisa bersikap sebaliknya, yang menunjukkan kepedulian mereka kepada alam, selama pikirannya tak memedulikan hal yang sama.

 

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Amal salih adalah yang di dalamnya tidak ada pikiran akan keaniayaan, kesombongan, riyaa (pamer), takabbur, dan menginjak hak-hak manusia. Sebagaimana di akhirat manusia [akan] selamat akibat amal salih, demikian pula di dunia pun ia selamat. Jika satu orang saja di seisi rumah pelaku amal salih, maka seisi rumah akan tetap selamat.” (Malfuzat jilid IV)

 

Selama pikiran kita tidak bersih, mustahil akan lahir amal-amal salih dari diri kita. Amal salih inilah yang pada akhirnya bisa menyelamatkan diri kita sendiri, bahkan keluarga kita di dunia dan di akhirat kelak. Karena itu, hendaknya kita selalu berusaha dan bekerja keras untuk membersihkan dan menyucikan pikiran dan hati kita demi bisa melahirkan amalan-amalan yang betul-betul dipandang salih oleh Allah Ta’ala.

 

Salah satu tips dari Hazrat Masih Mau’ud a.s. untuk membersihkan pikiran kita adalah hendaknya kita terus membaca Al-Qur’an. “Teruslah engkau membaca Quran Syarif dengan sabar. Allah Ta’ala akan membukakan lidah engkau. Di dalam Quran Syarif terdapat sebuah berkat, yakni ia membuat pikiran manusia menjadi bersih dan lidah menjadi terbuka.” (Malfuzat jilid V)

 

Referensi:

[*] https://megapolitan.kompas.com/read/2026/04/14/09475711/momen-16-mahasiswa-fh-ui-dipampang-saat-sidang-terbuka-soal-pelecehan

 

 

Views: 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *