PENGORBANAN SEJATI: MENEMUKAN NIAT DAN KEIKHLASAN DALAM SETIAP TINDAKAN
Dalam menjalani kehidupan, kita pasti dihadapkan pada beberapa pilihan, misalnya dalam menentukan tempat pendidikan, menentukan lokasi tempat tinggal, menentukan pasangan hidup, dan banyak hal lain yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
Berkaitan dengan kehidupan beragama, kita telah mendapatkan karunia dengan menjadi seorang Muslim. Kemudian kita kembali dihadapkan pada pilihan saat menjalankan kegiatan ibadah, di antaranya ketika kita melakukan pengorbanan.
Berlandaskan rasa kekeluargaan dan kemanusiaan, umat Muslim berlomba untuk melakukan berbagai macam pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan mulai dari menyumbang harta benda, tenaga, hingga pikiran. Tujuan pengorbanan pun bermacam-macam, ada yang ingin meringankan beban ekonomi saudaranya, ada yang ingin membantu pembangunan masjid, ada yang ingin menyumbangkan dana untuk mencetak buku agama dan lain sebagainya.
Pada kenyataannya, ada beberapa latar belakang yang membuat seseorang melakukan pengorbanan. Ada orang yang melakukan pengorbanan murni karena keinginan sendiri, ada yang melakukan pengorbanan atas perintah orang lain, ada yang melakukan pengorbanan setelah tergerak melihat pengorbanan orang lain, dan ada pula yang melakukan pengorbanan karena ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu melakukan kebaikan.
Lalu pengorbanan seperti apa yang seharusnya kita pilih untuk dilakukan?
Pengorbanan harus diawali dengan niat hanya untuk memperoleh rida Allah Ta’ala, setiap kebaikan yang kita lakukan haruslah didasari ketakwaan. Muslim sejati tidak akan pernah mengikuti suara negatif yang muncul dalam hati dan pikiran. Pengorbanan dilakukan dengan kesadaran dan keikhlasan, tanpa sedikit pun mengharapkan penghargaan dari sesama makhluk.
Hazrat Masih Mau’ud a.s menyatakan bahwa:
“Pengorbanan sejati adalah pengorbanan hati .”
Pengorbanan hati adalah bentuk pengorbanan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain, tetapi terasa sangat dalam bagi orang yang menjalaninya. Pengorbanan ini tidak selalu berupa materi atau tenaga, melainkan perasaan, keinginan, dan ego yang ditahan demi kepentingan orang banyak. Pengorbanan yang dilakukan dengan niat hanya untuk meraih rida Allah akan memberi kedamaian bagi yang melakukannya.
Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda bahwa dalam bertindak dengan ketakwaan, setiap pengorbanan jasmani yang kita lakukan harus menarik perhatian kita pada pengorbanan yang harus kita lakukan di dalam. Hanya dengan demikian ini dapat dianggap sebagai pengorbanan sejati, dan roh ketakwaannya, bukan pengorbanan jasmani itu sendiri, mencapai Tuhan.
Hadhrat Masih Mau’ud as pun mengatakan bahwa jika Tuhan hanya menuntut ketakwaan hati sedangkan jasmani tidak mencapai-Nya, lalu apa perlunya pengorbanan jasmani?
Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa siapa yang tidak menggunakan kemampuan jasmaninya, maka ruhnya tidak terpengaruh, karena ada hubungan antara jasmani dan ruhani. Dengan demikian, tindakan jasmani berdampak pada jiwa. Demikian pula, jika tindakan jasmani dilakukan tanpa semangat jiwa di belakangnya, maka itu berbahaya dan tidak berarti apa-apa. Jadi, tindakan jasmani ada untuk memengaruhi jiwa dan membawa keadaan serupa di dalam. (*)
Ketakwaanlah yang memungkinkan Nabi Ibrahim as untuk bersedia mengorbankan putranya. Ketakwaanlah yang memungkinkan Nabi Muhammad Saw. Yang meskipun menghadapi keadaan dan perlakuan yang paling keras, untuk tetap teguh dalam perilaku moral tertinggi.
Hendaklah kita menjadikan Rasulullah Saw. Dan para Nabi sebagai suri teladan dalam melakukan pengorbanan, di mana hanya ketakwaanlah yang menjadi dasar utama dalam melakukan segala bentuk kebaikan.
***
Referensi :
(*) https://ahmadiyah.id/ketakwaan-esensi-sejati-pengorbanan.html?amp
Views: 22
