KECINTAAN HADHRAT USMAN R.A TERHADAP AL-QURAN

Malam itu, para pengepung sudah berkerumun mengelilingi rumah Hadhrat Khalifah Usman bin Affan r.a. Beliau r.a. tahu, namun beliau tidak gentar. Beliau r.a. sadar kematian sudah mendekat. Dengan tenang, beliau r.a. mengambil Al-Qur’an dan membacanya.

 

Sebelum para pembunuh menerobos masuk, Hadhrat Khalifah Usman r.a. sempat bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ yang bersabda, “Wahai Usman, kemarilah, berbukalah bersama kami.” Mengetahui ajal sudah dekat, beliau semakin memperbanyak bacaan Al-Qur’an-nya.

 

Ketika para pemberontak berhasil mendobrak masuk dan mengayunkan pedang, Hadhrat Khalifah Usman sedang dalam keadaan berpuasa dan menghadap mushaf Al-Qur’an yang terbuka di pangkuannya. Salah seorang di antara para pemberontak “menghampiri Khalifah Usman r.a. dengan membawa sebatang besi, lalu dipukulkannya ke kepala beliau. Dan lembaran Al-Qur’an yang terletak di hadapan beliau diinjak-injak dan ditendang-tendang, sehingga lembaran-lembaran Al-Quran itu jatuh berserakan.” [*]

 

Darah beliau r.a. pun tumpah akibat tebasan pedang. Darah suci nan mulia tersebut menetes tepat di atas lembaran Al-Qur’an yang sedang dibacanya. Para sejarawan mencatat bahwa darah beliau r.a. menetes pada Surah Al-Baqarah ayat 137: “Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

 

Hadhrat Usman bin Affan r.a. adalah salah satu contoh nyata betapa besar dampak Al-Qur’an dalam hati orang-orang yang berhati bersih. Bahkan di saat-saat terakhirnya, beliau r.a. tidak merasakan ketakutan sedikitpun akan datangnya kematian, karena Al-Qur’an menenangkan jiwanya.

 

Kecintaan beliau r.a. terhadap Al-Qur’an sudah tertanam sedemikian kuat sejak muda. Dalam berbagai sejarah dan hadis tercatat bahwa Hadhrat Usman bin Affan r.a. terbiasa mendirikan shalat malam di depan Ka’bah dan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat saja.

 

Mendirikan shalat malam dan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat adalah saat-saat yang demikian berarti bagi beliau r.a. karena pada saat-saat semacam itulah beliau r.a. merasa bisa melepaskan diri dari segala beban pikiran duniawi yang membelenggu beliau r.a., khususnya setelah menjadi Khalifah.

 

Hadhrat Usman bin Affan r.a. pernah memberikan nasehat yang terus bergema hingga kini:

 

“Seandainya hati kita bersih, niscaya kita tidak akan pernah kenyang (puas) dari membaca kalam Tuhan kita (Al-Qur’an). Sungguh, aku benci jika berlalu satu hari tanpa aku melihat (membaca) Mushaf.”

 

Hadhrat Usman bin Affan r.a. telah membuktikan kata-katanya sendiri. Hatinya yang bersih dari kecintaan duniawi—meskipun beliau adalah seorang miliarder—membuatnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setia sejak masa mudanya hingga hembusan napas terakhirnya.

 

Demikianlah kualitas orang-orang mulia yang telah bergaul dengan nabi utusan Allah Ta’ala. Mereka menampilkan kualitas akhlak yang luar biasa tinggi dalam keimanan, kerendahan hati, dan juga kecintaan serta keyakinan yang luar biasa terhadap firman-firman Allah Ta’ala.

 

Semoga kita semua dapat meneladani kemuliaan diri dan amalan dari para sahabat nabi-nabi yang mulia. Walau tentu tidak pernah mudah untuk bisa meresapkan sepenuhnya kemuliaan tersebut dalam diri kita, namun Allah Ta’ala senantiasa melihat kebersihan dan kelurusan hati kita. Insya Allah.

 

Referensi:

[*] Awal Perselisihan dalam Islam oleh Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a. halaman 98

 

 

Views: 69

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *