MEMAAFKAN: MENGUBAH LUKA MENJADI CAHAYA

Pada tahun 1995 di Amerika Serikat, putra Azim Khamisa yang berusia 20 tahun, Tariq Khamisa, tewas ditembak oleh seorang remaja anggota geng. Kehilangan anak tentu merupakan luka yang sangat berat bagi seorang ayah. Banyak orang menduga bahwa Azim akan dipenuhi kebencian dan keinginan balas dendam.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

 

Setelah melalui pergulatan batin yang panjang, Azim memilih memaafkan pelaku. Ia bahkan menjalin hubungan baik dengan keluarga pelaku dan bersama-sama mendirikan yayasan yang mengajarkan perdamaian kepada para remaja agar tidak terjerumus ke dalam kekerasan.

Ketika ditanya mengapa ia memaafkan, Azim menjelaskan bahwa kebencian hanya akan melahirkan kebencian baru. Dengan memaafkan, ia tidak mengubah masa lalu, tetapi ia dapat mengubah masa depan.

Keputusan memaafkan tersebut tidak menghilangkan rasa sedihnya sebagai seorang ayah. Namun, hatinya menjadi lebih tenang, dan dari tragedi itu lahirlah gerakan yang telah membantu ribuan anak muda menjauhi kekerasan.[1]

Kisah ini menunjukkan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan atau membenarkan kejahatan. Memaafkan berarti membebaskan diri dari belenggu kebencian dan berusaha menghadirkan kebaikan setelah terjadinya keburukan.

 

Sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Dan pembalasan terhadap suatu keburukan adalah keburukan yang serupa, tetapi barangsiapa memaafkan dan mengadakan perbaikan, maka pahalanya atas tanggungan Allah.”[2]

 

Ayat ini mengajarkan keseimbangan yang sangat indah. Islam mengakui bahwa seseorang yang dizalimi memiliki hak untuk membalas sesuai dengan kadar kezaliman yang diterimanya. Namun, Allah SWT menunjukkan jalan yang lebih tinggi, yaitu memaafkan dan memperbaiki hubungan. Bagi orang yang mampu melakukannya, Allah SWT menjanjikan pahala yang sangat besar, bahkan tanpa menyebutkan jumlahnya. Allah SWT sendiri yang akan memberikan ganjaran tersebut.

Di zaman sekarang, banyak perselisihan terjadi karena orang lebih memilih mempertahankan ego daripada memelihara persaudaraan. Kata-kata yang menyakitkan, kesalahpahaman, atau perlakuan yang tidak menyenangkan sering kali dibalas dengan kebencian yang lebih besar. Akibatnya, luka semakin dalam dan hubungan semakin renggang.

Padahal, memaafkan bukanlah tanda kelemahan. Memaafkan adalah tanda kekuatan hati. Orang yang mampu menahan amarah dan memberi maaf justru menunjukkan kematangan iman dan akhlaknya.

 

Allah Ta’ala berfirman kembali di dalam Al-Qur’an:

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?”[3]

 

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap manusia membutuhkan ampunan Allah Ta’ala. Jika kita berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita, maka kita juga harus belajar mengampuni kesalahan orang lain.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seseorang memberi maaf kecuali Allah akan menambah kemuliaan baginya.”[4]

 

Hadis ini mengandung pesan luar biasa. Banyak orang mengira bahwa memaafkan akan menjatuhkan harga diri. Padahal Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang yang memaafkan justru akan ditinggikan derajatnya oleh Allah Ta’ala.

 

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”[5]

 

Kekuatan sejati bukan terletak pada fisik atau kemampuan membalas, melainkan kemampuan mengendalikan diri saat hati sedang terluka.

Teladan terbesar dalam memaafkan adalah Rasulullah ﷺ . Saat peristiwa Penaklukan Makkah, beliau saw. memiliki kekuasaan penuh untuk membalas perlakuan kaum Quraisy yang selama bertahun-tahun menyiksa, mengusir, dan memerangi beliau serta para sahabat.

Namun apa yang beliau ﷺ lakukan?

Beliau ﷺ hanya mengatakan kepada mereka untuk pergi dan mereka semua telah bebas.

Perkataan Rasulullah ﷺ. itu mengubah banyak musuh menjadi sahabat dan membuka jalan bagi tersebarnya Islam dengan damai.

Setiap orang pasti pernah disakiti. Mungkin oleh teman, keluarga, tetangga, atau rekan kerja. Memaafkan memang tidak mudah, tetapi di situlah letak keutamaannya. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk memaafkan, tetapi juga memperbaiki hubungan yang rusak.

Mungkin kita tidak bisa langsung melupakan luka, tetapi kita bisa mulai dengan mendoakan orang yang pernah menyakiti kita, menahan diri dari membalas keburukan, dan membuka pintu perdamaian.

Karena pada akhirnya, orang yang paling merasakan manfaat dari memaafkan adalah diri kita sendiri.

Mari kita menjadi pribadi yang kuat, bukan karena mampu membalas, tetapi karena mampu memaafkan. Sebab pahala bagi orang yang memaafkan bukan ditentukan manusia, melainkan dijanjikan langsung oleh Allah Swt.

 

Referensi:

[1] https://people.com/dad-forms-bond-with-man-who-murdered-his-son-storycorps-exclusive-8605087?

[2] QS. Asy-Syura: 41

[3] QS. An-Nur: 23

[4] HR. Muslim

[5] HR. Bukhari dan Muslim

 

Views: 16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *