Inti Ketaatan dan Penyerahan Diri Secara Utuh

Dalam perjalanan hidup seorang mukmin, tidak ada prinsip yang lebih agung, lebih menenangkan, dan lebih menyelamatkan selain sikap tunduk sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Ia bukan sekadar aturan agama, tetapi fondasi keimanan bahwasanya hati mengakui Allah sebagai satu-satunya sesembahan, dan raga membuktikannya dengan ketaatan.

 

Taat di dalam bahasa Indonesia adalah patuh atau tunduk pada perintah atau aturan yang berlaku dalam kaitannya dengan Tuhan, hukum atau regulasi lainnya. Secara tegas bisa dinyatakan bahwa taat artinya adalah patuh dan tunduk. Jadi arti secara kebahasaan tentang taat kepada Allah artinya adalah patuh dan tunduk kepada Allah. Demikian pula arti taat kepada Rasulullah adalah patuh dan tunduk kepada Rasulullah.

 

Sebagaimana dijelaskan, bahwa tentu ada perbedaan antara patuh dan tunduk kepada Allah dan patuh dan tunduk kepada Rasulullah. Ini merupakan sama tetapi berbeda. Artinya, manusia harus sama kepatuhan dan ketundukannya kepada Allah dan Rasulnya, akan tetapi berbeda corak dan ekspresinya.

 

Dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman;

 

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan diantara kamu. Dan jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu memang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.”

(Qs. An-Nisa: 60)

 

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

 

“Al-Quran memerintahkan kalian, “athii’ul laaha wa athii’ur rasuula wa ulil amri minkum” Taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya serta mereka yang memegang kekuasaan diantara kalian.”

 

Ayat ini dengan sangat jelas memerintahkan untuk menaati para memegang kekuasaan, dan menjadi sangat tidak benar jika seseorang yang mengatakan pemerintah tidak termasuk kedalam “minkum” mereka yang memegang kekuasaan diantara kalian’. Apapun yang pemerintah katakan yang sejalan dengan syariah termasuk kedalam ‘mereka yang memegang kekuasaan diantara kalian.’ Siapa pun yang tidak melawan pemerintah adalah dari kalangan kita. Hal ini jelas terbukti dari Al-Quran bahwa pemerintah harus ditaati dan apapun yang pemerintah katakan hendaknya diterima.”

 

Ringkasnya, Hakam dan Adal zaman ini secara jelas telah menyatakan hukum negara harus dipatuhi secara sempurna dengan pengecualian terhadap sesuatu yang bertentangan dengan apa yang Tuhan dan Rasul-Nya katakan. Jika orang-orang Muslim menerapkan dasar ini, maka segala kekacauan yang terjadi di berbagai negara Islam dapat sangat berkurang.

 

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

 

“Bagaimana seharusnya standar (ukuran) ketaatan itu, seberapa pentingnya ketaatan itu, kerugian di dalam ketidaktaatan, dan peranan ketaatan dalam penyebaran Islam. Di masa ini, hanya orang-orang Ahmadi sajalah yang dapat menggambarkan ketaatan sejati dan dapat menunjukan kepada dunia bagaimana martabat umat Islam dapat dibangun. Bagaimanapun juga, yang paling utama adalah kita harus meninggikan standar ketaatan kita terlebih dahulu.”

 

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis bahwa “Itu artinya, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang memegang kekuasaan. Jika ketaatan itu dilakukan dengan tulus, maka hati akan memperoleh sinar sedangkan jiwa akan mendapatkan kebahagiaan serta cahaya. Bentuk sikap keagamaan lainnya tidak perlu ditunjukan sebanyak ketaatan. Ketaatan harus ditunjukan dengan tulus terlebih dahulu dan itulah bagian yang sulitnya. Adalah penting untuk meleburkan keakuan kedalam ketaatan karena tidak mungkin untuk menjadi seseorang yang taat tanpa hal ini. Sedangkan ego merupakan emosi yang dapat menciptakan suatu berhala bahkan di dalam hati para penganut Tauhid Ilahi.

 

Betapa penuh berkatnya para sahabat ra, mereka segolongan orang yang benar-benar mengabdikan diri dalam ketaatan kepada Rasulullah saw. Memang benar bahwa tidak akan menjadi suatu golongan serta tidak akan memiliki semangat kebangsaan dan kerukunan jika suatu golongan itu tidak mengamalkan prinsip ketaatan. Jika perbedaan serta perselisihan pendapat merupakan hal yang lazim terjadi, maka pandanglah hal ini sebagai pertanda kondisi yang buruk dan mundur. Dengan berbagai alasan, pertentangan serta konflik internal pun juga terjadi di balik lemahnya serta mundurnya kondisi umat Islam.

 

Sekarang ini perlu sekali untuk mencontoh kondisi serta persatuan para sahabat, karena Allah Ta’ala telah menghubungkan Jemaat di bawah tangan Hadhrat Masih Mau’ud as dengan Jemaat di bawah tangan Rasulullah saw. Kesuksesan suatu golongan hanya tergantung pada teladan orang-orang seperti itu.

 

Karena itu, diantara kalian yang dikenal sebagai golongan Hadhrat Masih Mau’ud as dan ingin bergabung dengan golongan para sahabat, tanamkanlah kondisi para sahabat di dalam diri kalian, tirulah ketaatan mereka, contohlah kecintaan dan kesatuan mereka. Pendeknya, terapkanlah akhlak para sahabat dalam segala bentuk.

 

Hadhrat Masih Mau’ud telah menjelaskan dengan gamblang berbagai aspek dalam kutipan ini.

 

Pertama, seperti telah saya uraikan, “Taatlah kepada Allah Ta’ala!” lalu“ Taatlah kepada Rasul Allah Ta’ala!” Dan selanjutnya, “Taatlah kepada ulil amri, yaitu para pemimpin dan pemerintah kalian!” Termasuk di dalam ulil amri ialah ‘Nizham al-Hukuumah’ administrasi pemerintahan dan juga Nizham ‘al-Jama’ah’ (Nizam atau administrasi Jemaat). Ketaatan kepada Khilafat berada diatas dua administrasi/Nizham ini karena Khilafat menegakkan perintah Tuhan dan Rasul-Nya dan Nizham Jemaat adalah tabi’ (pengikut, berjalan di bawah) Khilafat. Ini merupakan keindahan Khilafat bahwa jika ada suatu masalah atau perselisihan diantara mereka yang ditunjuk untuk menjalankan administrasi Jemaat dengan anggota Jemaat, maka Khalifa-e-Waqt dapat menyelesaikannya. Sungguh, ini merupakan salah satu tugas seorang Khalifa-e-Waqt. Dengan jelas telah saya katakan, ketaatan kepada Khilafat hendaklah berada di atas ketaatan kepada pemerintah. Namun, janganlah salah paham dalam hal ini karena Khalifah-e-Waqt adalah orang yang paling terdepan dalam menaati hukum negara dimana beliau berada serta memastikan anggota Jemaat lainnya pun melakukan hal yang sama.

 

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda di suatu tempat:

 

“Istilah Ulil Amr (mereka yang memegang kekuasaan) dalam terminologi jasmani berarti raja sedangkan dalam terminologi rohaniah berarti Imam Zaman. Di dalam kerangka sistem pemerintahan duniawi, suatu sistem rohaniah pun dapat menjalankan fungsinya dan memang telah berjalan. Berbahagialah kita yang telah menjadi bagian dari sistem rohaniah ini. Allah telah mendirikan dan menjalankan Nizham Khilafat, pelanjut Nizham Imamuz Zaman yang bertujuan untuk mendirikan pemerintahan Allah dan Rasul-Nya di dalam hati serta pikiran. Dalam situasi adanya perselisihan, Khalifah mengambil keputusan sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

 

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai sesuatu yang cukup penting:

 

“Ketaatan yang diterapkan dengan ketulusan melahirkan cahaya di dalam hati serta kebahagiaan dan kelezatan di dalam jiwa.”

 

Tentu yang dimaksud di sini adalah ketaatan kepada Nizham rohaniah. Ini juga menjadi sarana pengukur ketaatan, yaitu apakah ada cahaya di dalam hati? Apakah ruh mengalami kebahagiaan dan kelezatan? Perhatikanlah standar ketaatan kalian sendiri, dan nilailah seberapa tinggi ketaatan kalian kepada Allah, Rasul-Nya dan Khilafat yang didirikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Ketaatan kepada pemerintah membawa keamanan dan ketenangan sementara cahaya dan kelezatan rohaniah hanya didapat dengan ketaatan kepada sistem rohaniah.

 

Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda:

 

“Tidak ada sesuatu keharusan untuk mujahadah (perjuangan rohaniah) yang senilai dengan tuntutan untuk melakukan ketaatan.”

 

Tanpa ketaatan, kita tidak dapat merasakan kebahagiaan dan kilauan ruhani atau kedamaian di dalam kehidupan kendatipun seberapa banyak mujahadah telah dilakukan. Orang-orang yang membanggakan banyaknya shalat mereka dan menggantungkan diri pada ibadah mereka kepada Allah tetapi tidak menampilkan ketaatan maka mereka tidak bisa menjadi orang yang memperoleh berkat dari Allah.

 

Bagaimanapun juga, ketaatan selalu menunjukan hasil yang luar biasa bahkan dalam masyarakat duniawi sekalipun. Kita lihat dalam sejarah, Napoleon berkuasa di Prancis ketika negara tersebut sedang mengalami kehancuran. Dia berkata kepada negara itu, “Jika kalian tidak berhenti dari perselisihan, maka kalian tidak akan memperoleh kemajuan. Jika kalian menghiasi diri dengan ketaatan, kalian peroleh kemajuan dan kemenangan.”

 

Orang-orang yang bertabiat baik di negara tersebut menerima etos ini, mengangkatnya sebagai pemimpin, serta menunjukan ketaatan dan kepatuhan yang begitu luar biasa, sehingga Napoleon pun mengalami suatu perubahan di dalam hidupnya.

 

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengutip kisah kembalinya kekuatan Napoleon: “Napoleon atau para pemimpin lain seperti dia tidak memperoleh pertolongan Allah seperti yang dimiliki oleh orang yang memiliki iman sejati namun mereka membawa perubahan. Keadaan mereka yang berbaiat adalah berbeda. Sungguh, tujuan utama baiat adalah untuk mengabdikan dirinya secara sempurna melalui ketaatan. Tujuan ini begitu halus sehingga ketaatan dalam urusan duniawi tidak akan pernah dapat menyainginya. ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya serta kepada mereka yang memegang kekuasaan diantara kalian’ merupakan suatu konsep yang jika tidak diterapkan oleh suatu bangsa, baik oleh mereka yang merupakan pengikut keimanan sejati ataupun tidak, maka bangsa tersebut tidak akan memperoleh keberhasilan.

 

Kita hendaknya selalu merenungkan perkataan Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa adalah penting untuk membangun kesatupaduan dan ketaatan untuk menjadi sebuah negara atau golongan. Tanpa hal itu, hanya akan ada penurunan dan kemunduran. Al-Quran menyatakan mengenai hal ini: “Dan, berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah Ta’ala dan janganlah bercerai-berai serta ingatlah akan nikmat Allah atas kalian ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia menyatukan hati kalian dengan kecintaan antara satu sama lain sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara; dan kalian dahulu berada di tepi jurang Api, kemudian Dia menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu mendapat petunjuk.”

(Surah Ali Imran; 3:105)

 

Amat disayangkan, meskipun telah ada pesan yang jelas dari Allah, namun umat Muslim telah sampai pada kemunduran yang paling rendah karena saling berselisih, melupakan karunia yang mereka peroleh dan berada di titik kegelapan dan kemunduran yang menakutkan. Telah terjadi kemunduran sejak masa Hadhrat Masih Mau’ud as. Tapi kini bahkan mencapai titik terendahnya. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Tinggalkanlah perbedaan diantara kalian dan taatilah satu orang – yakni Imam Zaman – dan barulah kalian akan merasakan bagaimana segala hal yang kalian lakukan akan senantiasa diberkati.” Semoga Tuhan memberikan pengertian kepada mereka.

 

Inilah tanggung jawab yang sangat besar dari para Ahmadi, yaitu setelah berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, kita harus menunjukan teladanَ“..Taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya dan kepada mereka yang memegang kekuasaan diantara kalian…” yang akan menarik dunia kepada kita. Inilah satu-satunya cara yang dapat kita tempuh untuk membawa dunia ke haribaan Tuhan dan Rasul-Nya serta untuk dapat membimbing dunia. Ini adalah jalan yang dapat kita tempuh untuk mengakhiri kekacauan dunia.

 

Sebab, seperti telah saya sampaikan, kita mempunyai perintah Al-Quran yang pantas untuk diamalkan dan pantas untuk ditaati.

 

Kita mempunyai teladan Nabi yang penuh berkat, dan adalah kewajiban kita untuk menaatinya. Dan kita juga mempunyai sistem ruhani dari ‘ulil Amr’ (mereka yang memegang kekuasaan) diantara kita yang selalu menarik perhatian kita kepada perintah Tuhan dan Rasul-Nya.

 

Tidak ada alasan bahwa kita tidak dapat menciptakan perbedaan yang jelas antara kita dengan yang lainnya. Semoga Tuhan memungkinkan kita untuk berbuat demikian dan semoga kita senantiasa memenuhi harapan Hadhrat Masih Mau’ud as.

 

Views: 27

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *