Menimbang Prioritas: Agar Harta dan Waktu Tidak Menjauhkan Diri Dari Allah

Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia pasti memiliki kebiasaan buruk yang disadari, tapi sulit untuk ditinggalkan. Kita mengetahui dampak dari kebiasaan buruk tersebut tidak baik bagi diri, kehidupan dunia, bahkan akhirat nanti. Namun, kita justru berulang kali melakukan perbuatan tersebut. Seperti scroll media sosial yang tanpa sadar bisa menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan hingga larut malam. Akibatnya, sulit bangun saat salat Tahajud atau Salat Subuh. Akal sudah memperingatkan bahwa itu keliru, tetapi hati dan tindakan terus melakukannya. Inilah bentuk ujian terhalus, bukan karena kita tidak mengetahui kebenaran, melainkan karena kita merasa nyaman dengan sesuatu yang sebenarnya merugikan diri sendiri.

 

Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita:

“Setengah dari bukti kebaikan Islamnya seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” [1].

 

Artinya proses perbaikan kualitas keimanan seseorang akan terlihat dari keberanian dan kemauan seseorang untuk berhenti dari hal-hal yang tidak berguna.

Pada masa Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang sahabat bernama Ka’ab bin Malik. Beliau seorang yang jujur dan ahli ibadah. Saat Perang Tabuk, ia menunda berangkat karena sibuk mengurus kebun kurmanya yang sedang panen. “Besok aku nyusul,” katanya. Tapi keesokan harinya, Ka’ab menunda lagi keberangkatan dan terus berulang, hingga pasukan sudah jauh. Akibatnya, ia tidak ikut berperang dan diboikot Nabi selama 50 hari. Harta yang halal pun bisa melalaikan jika tidak hati-hati. Apalagi jika hartanya dari jalan syubhat. [2]

 

Jika Ka’ab menunda ketaatan karena dilalaikan oleh harta, manusia hari ini sibuk dengan layar gadget. Niat membuka medsos 5 menit untuk hiburan, tanpa disadari menghabiskan waktu 3 jam bahkan sampai tertidur. Yang dilihat konten drama, gossip, hingga debat di kolom komentar. Tidak ada ilmu yang bertambah, tidak ada pahala yang di dapat, tapi waktu dan fokus habis terkuras.

 

Lebih parah lagi, muncul FOMO, yaitu takut ketinggalan tren. Semua harus diikuti, mulai dari gaya hidup, memiliki barang viral, hingga tren nongkrong bersama teman-teman tanpa ada kepentingan yang dikerjakan. Akibatnya, sering menunda waktu salat, waktu belajar terganggu, dan uang habis untuk hal yang tidak perlu.

 

Allah SWT berfirman, “Sungguh telah berhasil orang-orang yang beriman. Mereka yang khusyuk dalam salatnya. Dan mereka yang menjauhkan diri dari hal yang sia-sia.” [3]

 

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa seorang mukmin dapat meraih tidak hanya Najah (keselamatan), tapi juga Falah (kesuksesan). Mereka harus menghadap kepada Tuhan dengan penuh kerendahan diri, merasa gentar oleh keagungan Ilahi, dan dengan hati yang penuh penyesalan dan jiwa yang merendahkan diri. Mereka juga harus berpaling dari segala macam percakapan dan pemikiran yang tak berguna, dan dari amal perbuatan sia-sia, percuma, dan tidak membawa manfaat. Setiap mukmin harus mempergunakan setiap saat dalam kehidupannya dengan cara yang bermanfaat dan menjauhi semua kesibukan sia-sia yang tidak berguna.

 

Islam memberikan panduan untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang berulang kali dikerjakan:

Muhasabah: jujur pada diri sendiri. Tanya diri sendiri, kebiasaan buruk yang paling sering dilakukan. Lalu pikirkan, apakah kebiasaan tersebut menambah pahala atau dosa? Menambah ilmu atau skill ataukah malah hanya menghabiskan waktu dengan percuma.

Ganti dengan yang bermanfaat: ganti scroll medsos berjam-jam dengan membaca satu halaman Al-Qur’an. Ganti nongkrong sia-sia dengan olahraga atau menghadiri majelis taklim.

Batasi pemicu: jika HP adalah masalah, gunakan fitur screen time. Jika teman dan lingkungan adalah pemicu, carilah teman dan lingkungan yang mengajak pada kebaikan dan saling mengingatkan saat kita lalai.

Senjata terakhir tidak lain adalah meminta pertolongan Allah. Do’a adalah senjata. Mintalah kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.

 

Kebiasaan buruk tidak bisa hilang dalam waktu singkat. Tapi setiap langkah kecil untuk meninggalkannya adalah bukti bahwa Islam kita sedang berproses menjadi lebih baik. Kita tidak dituntut langsung sempurna, tapi wajib untuk terus memperbaiki diri. Sebab, hidup ini singkat, dan yang kita bawa pulang hanyalah amal yang bermanfaat.

Mulai hari ini, mari bersama-sama tinggalkan satu hal sia-sia, ganti dengan satu kebaikan. Meski terasa kecil, yakinlah di sisi Allah itu besar.

 

Referensi:

[1] HR. Tirmidzi

[2] HR. Bukhari no.4418, Muslim no. 2769

[3] Tafsir dan terjemah QS. Al-Mu’minun: 2-4

 

Views: 53

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *