Kisah Tsa’labah bin Hathib: Ketika Setetes Dunia Melalaikan Samudra Akhirat

Di Madinah, hiduplah seorang sahabat Nabi saw. bernama Tsa’labah bin Hathib. Keadaannya sangat memprihatinkan. Ia tidak punya kendaraan, bahkan seekor keledai pun tidak. Pakaian yang melekat di tubuhnya hanya satu-satunya. Namun, di balik kemiskinan itu, Tsa’labah dikenal sebagai pribadi yang sangat taat. Ia tidak pernah absen dari salat berjamaah dan rajin beribadah.

 

Suatu hari, ia memohon kepada Rasulullah saw. agar diberi kekayaan. Beliau pun mendoakannya. Berkat doa Nabi dan kegigihannya, perlahan tetapi pasti, kehidupan Tsa’labah berubah. Domba-dombanya berkembang biak dengan pesat, dan ia akhirnya mampu membeli kebun yang luas.

 

Sayangnya, keberlimpahan harta justru menjadi ujian terbesar bagi Tsa’labah. Kesibukan mengurus ternak dan kebunnya membuat ia mulai meninggalkan salat berjamaah. Waktu demi waktu berlalu, hingga ia tak pernah lagi terlihat berada di barisan salat bersama Nabi Saw.

 

Ketika perintah zakat turun, Rasulullah saw. mengirim utusan untuk memungut zakat darinya. Namun, Tsa’labah enggan membayarnya. Hatinya telah terikat kuat pada harta.

 

Rasulullah saw. bersabda:

“Demi Allah, tidaklah kehidupan dunia dibandingkan akhirat melainkan hanya seperti salah satu dari kalian mencelupkan tangannya ke dalam lautan, maka silakan dilihat apa yang dibawa oleh jarinya.” (HR Muslim)

 

Bayangkan sebuah lautan yang luas. Jika kita mencelupkan jari ke dalamnya, hanya setetes air kecil yang menempel di ujung jari. Itulah perbandingan dunia dengan akhirat. Sungguh sangat kecil dan tidak sebanding.

 

Ketika miskin, Tsa’labah menganggap kekayaan sebagai sesuatu yang luar biasa besar. Namun setelah mendapatkannya, ia lupa bahwa kekayaan itu hanyalah “setetes ujian,” bukan tujuan hidup. Ia memperlakukan domba dan kebunnya seolah-olah itu adalah “lautan” yang harus dipertahankan mati-matian, padahal di sisi Allah Ta’ala nilainya hanya setetes air yang cepat kering.

 

Ia rela kehilangan pahala salat berjamaah, kebersamaan dengan Nabi saw., dan rida Allah Ta’ala (ibarat lautan) hanya demi mengurus harta (ibarat setetes air). Inilah kekeliruan paling mendasar: mengorbankan kehidupan abadi demi kesenangan sesaat.

 

Ketika utusan zakat datang, ia menolak membayar. Padahal zakat adalah sarana menyucikan harta dan menolong sesama. Ia begitu sayang pada “setetes” hartanya sehingga tega melanggar perintah Allah Ta’ala Akibatnya, ia kehilangan semuanya: baik dunia maupun akhirat.

 

Allah Ta’ala menguji Tsa’labah dengan mencabut kembali seluruh hartanya. Ia jatuh miskin lagi, bahkan keadaannya lebih sengsara daripada sebelum dikaruniai kekayaan. Ini membuktikan sabda Nabi saw: setetes air di jari sangat mudah lenyap, menguap, atau menetes begitu saja. Kekayaan duniawi memang tidak memiliki stabilitas. Ia datang karena doa Nabi saw., dan pergi dalam sekejap ketika disalahgunakan. Inilah bukti Nyata ketidakabadian dunia.

 

Namun, kesengsaraan Tsa’labah bukan hanya soal perut kosong. Kerugian terbesarnya adalah kehilangan kesempatan untuk mati dalam kebaikan. Ia kehilangan kehormatan sebagai sahabat yang istiqamah, kehilangan shaf bersama Nabi saw., dan bahkan Nabi saw. tidak lagi menegurnya karena kecewa. Ia mendapatkan “setetes” dunia lalu hilang, tetapi kehilangan “lautan” pahala yang kekal.

 

Kisah Tsa’labah bukanlah cerita kuno yang asing. Fenomena ini masih sering terjadi di sekitar kita. Banyak dari kita yang begitu bangga dengan rumah mewah, kendaraan terbaru, jabatan tinggi, atau harta melimpah. Seluruh waktu dan tenaga dikuras untuk mengejar kesenangan dunia, hingga lupa pada tujuan hidup yang sesungguhnya.

 

Padahal, Allah dengan tegas mengingatkan:

“Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui.”

(QS. Al-Hadid: 64)

 

Dan lagi Allah Ta’ala berfirman:

 

“Katakanlah: Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.”

(QS. An-Nisa: 77)

 

Hadis tentang setetes air dan lautan adalah pengingat abadi agar kita tidak terperangkap seperti Tsa’labah. Islam tidak melarang kita mencari kekayaan. Namun, kita dilarang menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Jadikanlah harta sebagai kendaraan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Karena pada akhirnya, hanya amal saleh dan ketakwaanlah yang akan menolong kita di samudra akhirat kelak. Semoga kita termasuk hamba yang cerdas memilih lautan, bukan terlena oleh setetes air. Amin.

 

Views: 14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *