Ketika Ujian Terasa Berat, Pahala Menanti

Ada masa ketika hidup terasa begitu berat. Kita sudah berusaha, tetapi hasil belum sesuai harapan. Kita sudah berdoa, tetapi jawaban seolah belum datang. Kita berusaha menjadi orang baik, tetapi justru mendapatkan perlakuan yang menyakitkan. Ada yang diuji dengan kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, masalah keluarga, kesulitan ekonomi, penyakit, kegagalan, atau perjalanan hidup yang jauh lebih berat daripada yang pernah dibayangkan.

 

Pada saat seperti itu, sering kali muncul pertanyaan:

“Mengapa Allah Ta’ala memberikan ujian seberat ini kepadaku?”

Rasulullah saw. memberikan sebuah jawaban yang sangat menenangkan:

“Sesungguhnya pahala amal akan terlalu besar dihadapan besarnya ujian yang diberikan”[1]

 

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran sebuah ujian bukan hanya dilihat dari beratnya penderitaan yang kita rasakan, tetapi juga dari besarnya pahala yang Allah siapkan bagi orang yang menghadapinya dengan kesabaran dan keridhaan. Manusia sering menganggap bahwa kehidupan yang sulit berarti Allah Ta’ala sedang menjauhinya. Sebaliknya, ketika hidup penuh kemudahan, seseorang merasa bahwa dirinya sedang disayangi Allah Ta’ala.Padahal, tidak selalu demikian.

 

Ketika ujian benar-benar datang, seorang mukmin diajarkan untuk melihatnya dengan perspektif iman, ujian dapat menjadi jalan menuju kedekatan dengan Allah Ta’ala dan menjadi sebab bertambahnya pahala. Allah Ta’ala sendiri telah mengingatkan:

 

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”[2]

 

Allah Ta’ala tidak mengatakan bahwa orang yang diuji adalah orang yang gagal. Justru setelah menyebutkan berbagai bentuk ujian, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Seolah-olah Allah Ta’ala sedang mengatakan kepada kita:

 

“Jangan hanya melihat beratnya ujian. Lihat pula pahala yang menantimu setelah kesabaranmu.”

 

Salah satu kisah paling mengagumkan tentang kesabaran adalah kisah Nabi Ayyub as.

Nabi Ayyub as. dikenal sebagai seorang hamba Allah yang mendapatkan banyak kenikmatan. Namun kemudian beliau menghadapi ujian yang sangat berat. Kehidupannya berubah. Kenikmatan yang sebelumnya dimiliki tidak lagi seperti dahulu. Dalam keadaan demikian, Nabi Ayyub as. tidak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk berpaling dari Allah Ta’ala. Al-Qur’an mengabadikan doa beliau:

 

“Dan ingatlah kisah Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘Sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.’”[3]

 

Lihatlah bagaimana Nabi Ayyub as. mengadu.

Beliau tidak berkata, “Allah tidak adil kepadaku.”

Beliau tidak berkata, “Mengapa aku yang harus mengalami semua ini?”

Beliau hanya mengungkapkan keadaannya kepada Allah dan tetap mengakui kasih sayang-Nya:

 

“Engkaulah Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

Kemudian Allah Ta’ala menjawab doa tersebut:

 

“Maka Kami mengabulkan doanya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya…”[4]

 

Kisah Nabi Ayyub as. memberikan pelajaran penting, kesabaran bukan berarti seseorang tidak boleh merasa sakit. Nabi Ayyub merasakan penderitaan. Beliau mengadu kepada Allah. Namun, beliau tidak kehilangan keyakinan kepada rahmat Allah.

 

Sebagian orang mengira bahwa sabar berarti hanya diam, pasrah, dan tidak melakukan apa-apa. Padahal, sabar bukan berarti berhenti berusaha. Sabar berarti tetap berada di jalan yang benar meskipun keadaan sulit. Jika sedang mengalami kesulitan ekonomi, tetap berusaha mencari rezeki yang halal.

 

Jika gagal, mencoba kembali.

Jika disakiti, menahan diri dari membalas dengan keburukan.

Jika sakit, berobat dan berdoa.

Jika doa belum terkabul, terus berdoa tanpa berburuk sangka kepada Allah Ta’ala. Sabar adalah kekuatan untuk tetap taat ketika keadaan sedang tidak sesuai dengan keinginan.

Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar. Aamiin.

 

Referensi:

[1] HR. Ibnu Majah no. 2111

[2] QS. Al-Baqarah: 156

[3] QS. Al-Anbiya: 84

[4] QS. Al-Anbiya: 85

 

Views: 22

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *