Hunusan Pedang Hazrat Ali bin Abi Thalib r.a.

Hazrat Ali bin Abi Thalib r.a. berdiri dengan gagah. Pedang di tangan kanannya tergenggam kuat. Musuh di seberangnya telah tersungkur, tanpa daya. Hazrat Ali mengangkat pedangnya, hendak mengakhiri pertarungan tersebut dengan tuntas. Menyadari kematiannya di depan mata, dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, sang musuh meludahi Hazrat Ali. Di ujung hidupnya, sang musuh ingin menghinakan Hazrat Ali sebagai kenangan terakhir darinya.

 

Namun, yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan. Hazrat Ali menghentikan ayunan pedangnya. Beliau r.a. menurunkan tangannya yang menggenggam pedangnya dan memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Hazrat Ali r.a. mundur, membiarkan musuhnya bangkit dengan sangat kepayahan.

 

Setelah sang musuh mampu menegakkan tubuhnya, ia menunjukkan keheranannya dan bertanya, “Mengapa engkau tidak membunuhku? Engkau telah mengalahkanku dan memiliki kesempatan penuh, terlebih setelah aku meludahi dan menghinamu.”

 

Hazrat Ali bin Abi Thalib r.a. menjawab dengan tenang, “Tadi aku bertarung dan hendak membunuhmu semata-mata karena Allah dan demi menegakkan kebenaran agama-Nya. Namun ketika engkau meludahi wajahku, timbul percikan amarah pribadi dalam diriku karena egoku merasa tersinggung. Jika aku membunuhmu saat itu, aku membunuhmu demi melampiaskan amarah dan nafsu pribadiku, bukan murni karena Allah. Aku tidak sudi membunuh seorang manusia demi membela hawa nafsu diriku sendiri.”

 

Melihat ketulusan, kendali diri, dan ketiadaan motif dendam pribadi dari Hazrat Ali bin Abi Thalib r.a., musuh tersebut diliputi rasa takjub tiada tara. Ia pun luluh dan memilih memeluk Islam di tempat tersebut. [1]

 

Kisah ini adalah salah satu perwujudan langsung ajaran Islam yang disabdakan kembali oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s., “Menahan amarah dan menerima perkataan yang pahit adalah sebuah wujud keberanian yang tinggi.” [2]

 

Kisah ini pun menjadi contoh klasik mengenai keberanian sejati. Menaklukkan musuh fisik di medan laga tentu memerlukan kekuatan fisik, namun menahan amarah saat ego terluka parah adalah bentuk keberanian spiritual (jihad an-nafs) tingkat tertinggi.

 

Manusia terlahir dengan ego. Namun, sejauh mana ia mampu mengendalikan egonya bergantung pada kemauannya untuk melatih diri seumur hidupnya. Semua potensi dalam diri manusia adalah fitrah yang ditanamkan Allah Ta’ala, termasuk amarah, ego, kesabaran, dan lain-lain. Potensi-potensi ini baru bisa menjadi akhlak ketika kita mampu mengendalikannya dan menampilkannya sesuai kondisi dan kebutuhannya.

 

Bukanlah sebuah akhlak apabila menampilkan perilaku yang tidak menimbulkan perbaikan diri pada orang yang kita tampilkan perilaku tersebut. Kisah Hazrat Ali bin Abi Thalib r.a. di atas adalah salah satu contohnya.

 

Demi Allah Ta’ala, beliau r.a. tidak takut apapun, termasuk menghunuskan pedangnya untuk membunuh orang lain. Tetapi, ketika amarah yang awalnya didasarkan demi Allah Ta’ala berubah menjadi amarah yang tersulut ketika ego pribadinya dilukai, beliau r.a. justru tidak jadi membunuh orang lain.

 

Beliau r.a. menyadari jika beliau r.a. tetap membunuh musuh tersebut dengan dasar bukan demi Allah Ta’ala, maka beliau r.a. tidak akan membuat Allah Ta’ala senang. Beliau r.a. menyadari bahwa membunuh manusia karena memuaskan hawa nafsu belaka hanya meninggalkan kerugian semata. Bukan hanya kehilangan kesempatan meraih surga, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk semakin dekat dengan Allah Ta’ala.

 

Menahan amarah dan menerima perkataan pahit memang membutuhkan keberanian yang tinggi. Karena untuk melakukannya, kita memerlukan ketebalan iman yang telah ditempa berkali-kali.

 

Menahan amarah dan menerima perkataan pahit juga adalah wujud keberanian yang sejati. Karena, ketika kita mau melatih diri untuk berani menerima semua tantangan kehidupan demi Allah Ta’ala, maka insyaallah, tidak ada satupun tantangan duniawi yang akan kita takuti.

 

Referensi:

[1] Ihya ‘Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali (Kitab Dzammi Al-Ghadhab wa Al-Hiqd wa Al-Hasad/Bahaya Marah, Dendam, dan Dengki); dinukilkan pula dalam Matsnawi karya Jalaluddin Rumi (Jilid I)

[2] Hazrat Masih Mau’ud a.s. dalam Majmu’ah Isytiharat, jilid I, hal 362, selebaran no. 117

Views: 10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *