Ketika Dunia Menjadi Bekal dan Allah Ta’ala Menjadi Tujuan
Hidup seorang mukmin adalah keseimbangan. Siang adalah waktu bekerja, mencari nafkah, mengurus keluarga, dan mengejar cita-cita. Namun di tengah hiruk-pikuk dunia, hati tidak boleh menjadi milik dunia. Ia harus tetap terpaut pada Pemilik dunia.
Ketika malam tiba, dunia mulai tenang. Kesibukan mereda. Di sanalah seorang mukmin berhenti sejenak dan bertanya pada dirinya, “Hari ini aku sudah berusaha, tetapi sudahkah aku menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala?”
Jika mendapat rezeki, bersyukurlah. Jika berhasil, jangan sombong. Jika gagal, jangan putus asa. Siang tangan kita bekerja, malam hati kita berserah.
Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik dalam keseimbangan ini. Beliau menghadapi berbagai urusan umat, berdakwah, dan menjalankan tanggung jawab. Namun ketika malam tiba, beliau tidak membiarkan kesibukan siang memutus hubungannya dengan Allah Ta’ala.
Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. berdiri dalam salat malam hingga kedua kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab, “Tidakkah aku suka menjadi hamba yang bersyukur?”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan! Beliau beribadah bukan hanya saat susah, tetapi juga saat bahagia. Karena syukur. Jangan sampai kita hanya mencari Allah Ta’ala ketika dunia menyakiti kita. Carilah Dia juga ketika dunia memberikan apa yang kita inginkan.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan pada sebagian malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang.”
(QS. Al-Insan: 26)
Ayat ini mengajak kita menghidupkan malam dengan sujud dan tasbih. Sujud adalah puncak kerendahan hati seorang hamba di hadapan-Nya.
Dalam hadis sahih, Rasulullah Saw. bersabda bahwa pada sepertiga malam terakhir, Allah Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman,
“Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Malam mengajarkan kejujuran. Siang kita bisa terlihat baik dihadapan manusia. Namun malam menunjukkan siapa kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Jika seseorang mampu bangun dalam kesunyian, lalu bersujud tanpa pujian manusia, disitulah terdapat keindahan keikhlasan. Malam adalah tempat rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya.
Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) dalam salah satu khutbahnya mengingatkan bahwa banyak orang merasakan ketenangan dan penerimaan doa ketika meningkatkan ibadah. Namun pengalaman itu tidak boleh membuat semangat sementara. Hubungan dengan Allah harus terus dipertahankan secara konsisten dalam segala kondisi.
Jangan hanya bekerja keras mengejar rezeki pada siang hari, tetapi lupa mengetuk pintu Pemilik rezeki pada malam hari. Jangan hanya menyusun rencana untuk dunia, tetapi lupa mempersiapkan perjalanan menuju akhirat.
Ketika dunia terlelap, bangunlah meski hanya sebentar. Bersujudlah. Karena mungkin di antara kesunyian malam dan air mata yang tidak diketahui manusia, Allah sedang membentuk hati yang lebih dekat kepada-Nya.
Sebab kita semua sedang menunggu satu waktu yang tidak bisa kita jadwalkan: waktu ketika penjemputan tiba. Dan ketika waktu itu datang, game over untuk kehidupan dunia. Yang tersisa bukan lagi berapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dekat kita kepada Allah ketika waktu itu tiba.
Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang berhasil memiliki dunia, namun tercatat sebagai hamba yang senantiasa khusyuk dalam setiap sujud.
Views: 9
