Menjauhi Dosa Besar, Kunci Dibukanya Ampunan dan Kemuliaan
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Setiap hari tak luput dari melakukan dosa. Salat 5 waktu yang sudah diketahui wajibnya seringkali ditinggalkan tanpa pernah ada rasa bersalah. Padahal meninggalkannya termasuk dosa besar. Saudara muslim jadi incaran untuk dijadikan bahan gunjingan/ghibah. Padahal sebagaimana daging saudaranya haram dimakan, begitu pula dengan kehormatannya, haram untuk dijelek-jelekkan di saat ia tidak mengetahuinya. Gambar yang tidak senonoh jadi bahan tontonan setiap kali browsing di dunia maya. Tidak hanya itu, yang lebih parah, kita selalu jadi budak dunia sehingga ramalan primbon tidak bisa lepas, mengambil berkah di kubur-kubur wali atau habib jadi rutinitas, dan jimat pun sebagai penglaris dan pemikat untuk mudah dapatkan dunia. Hati ini pun tak pernah kunjung sadar. Tak bosan maksiat terus diterjang, detik demi detik, di saat pergantian malam dan siang. Padahal pengaruh maksiat pada hati sungguh amat luar biasa. Bahkan bisa memadamkan cahaya hati.
Mengapa seseorang begitu mudah terjerumus ke dalam dosa, padahal ia mengetahui bahwa perbuatan itu dilarang? Mengapa ada hati yang semula lembut berubah keras, hingga nasihat tak lagi mampu menembusnya? Dan mengapa kesyirikan, dosa terbesar dalam Islam, sering kali tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan dari dosa-dosa yang dianggap sepele?
Pertanyaan-pertanyaan itu mendapat jawaban yang mendalam dalam Al-Jawaab al-Kaafii liman Sa’ala ‘an ad-Dawaa’ asy-Syaafii, karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (691–751 H). Bagi Ibnu Qayyim, dosa bukan sekadar pelanggaran terhadap aturan syariat. Dosa adalah racun yang perlahan menggerogoti hati, melemahkan iman, merusak akhlak, dan apabila terus dibiarkan, dapat menyeret manusia menjauh dari Allah hingga terjatuh ke dalam kesyirikan.
Allah Ta’ala berfirman :
“Dan apa pun yang menimpa kamu berupa musibah, maka itu disebabkan apa yang telah tanganmu perbuat. Dan Dia memaafkan banyak dosa-dosamu.” [1]
Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh bentuk kemaksiatan pada dasarnya kembali kepada dua akar utama: meninggalkan apa yang diperintahkan Allah atau melakukan apa yang dilarang-Nya. Dari dua pangkal inilah tumbuh seluruh cabang dosa, baik yang tampak pada perilaku maupun yang bersemayam di dalam hati.
Namun, Allah SWT dengan sifat Ar-Rahman dan Al-Ghafur-Nya tidak membiarkan kita tenggelam dalam rasa bersalah. Dia memberikan sebuah penawaran agung yang sangat meringankan beban kita, yang termaktub dalam firman-Nya:
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar yang darinya kamu dilarang, Kami akan menjauhkan darimu keburukan-keburukanmu dan kami akan memasukkanmu ke tempat yang mulia.” [2]
Ayat ini menjelaskan, bila seseorang menghindarkan diri dari perbuatan yang sukar dan berat sekali bagi dia untuk menghindarinya, ia akan diberi taufik untuk menjauhi dosa-dosa yang lain juga. Dengan kata lain, ayat ini merupakan janji. Janji penghapusan dosa-dosa kecil dan janji tempat yang mulia, dengan syarat menjauhi yang besar.
Lalu apa sebenarnya dosa besar (Al-Kaba’ir) itu?
Para ulama mendefinisikan dosa besar adalah setiap perbuatan maksiat yang diiringi dengan ancaman hukuman khusus di dunia (𝘩𝘢𝘥𝘥), ancaman siksa neraka, kemurkaan, atau laknat Allah di akhirat.
Jika dosa kecil itu seperti kerikil, maka dosa besar adalah batu besar yang bisa menenggelamkan kapal kehidupan kita. Hadhrat Rasulullah SAW telah memberikan rambu-rambunya. Beliau bersabda:
“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan (𝘈𝘭-𝘔𝘶𝘣𝘪𝘲𝘢𝘢𝘵).” Para sahabat bertanya, “Apa itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “(1) Syirik kepada Allah, (2) Sihir, (3) Membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, (4) Memakan riba, (5) Memakan harta anak yatim, (6) Lari dari medan perang (jihad), dan (7) Menuduh wanita mukminah yang menjaga kehormatannya dengan zina.” [3]
Ulama lain menambahkan beberapa dosa besar lainnya, seperti durhaka kepada orang tua, memberikan kesaksian palsu, memutuskan silaturahmi, dan meninggalkan salat dengan sengaja.
Mengapa dosa besar harus dijauhi?
𝟭. 𝗞𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗶𝘁𝘂 𝗦𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 𝗔𝗴𝗮𝗿 𝗗𝗼𝘀𝗮 𝗞𝗲𝗰𝗶𝗹 𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗗𝗶𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗶
Ini merupakan janji langsung dari Allah. Kita yang setiap hari tidak bisa lepas dari dosa kecil_salah lihat, salah ucap, salah sangka_diberikan keringanan. Artinya, kunci agar dosa-dosa kecil kita berguguran setiap hari adalah dengan tidak menyentuh yang besar.
𝟮. 𝗞𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗜𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗹𝗮𝗻𝗴𝗶 𝗧𝗲𝗿𝗸𝗮𝗯𝘂𝗹𝗻𝘆𝗮 𝗗𝗼𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗥𝗲𝘇𝗲𝗸𝗶
Hadhrat Rasulullah SAW menceritakan seorang musafir yang berdo’a dengan kusut dan berdebu, tapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram. “Bagaimana mungkin do’anya dikabulkan?” [4]
Dosa besar, terutama yang berkaitan dengan harta haram menjadi penghalang antara kita dan Allah.
𝟯. 𝗞𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗗𝗼𝘀𝗮 𝗕𝗲𝘀𝗮𝗿 𝗠𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗸 𝗛𝘂𝗯𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗟𝗮𝗻𝗴𝘀𝘂𝗻𝗴 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵
Dosa kecil itu seperti debu di kaca, masih bisa dilap. Sedangkan dosa besar seperti kaca yang pecah.
Sebagai contoh: syirik memutus total hubungan kita dengan Allah, meninggalkan salat dengan sengaja memutus tali utama antara hamba dan Tuhannya, riba membuat Allah dan Rasul-Nya menyatakan perang kepada kita (QS. Al-Baqarah: 280)
Salah satu cara untuk menjauhi dosa besar adalah taubat. Taubat bukan sekadar berhenti melakukan maksiat akan tetapi usaha membersihkan akar-akar penyakit sebelum tumbuh menjadi pohon yang sulit ditebang. Sebab selama hati masih hidup dan mau mengenali penyakitnya, selalu ada jalan kembali menuju Allah.
Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:
Arti taubat adalah meninggalkan dosa dan kembali kepada Allah Ta’ala. Meninggalkan keburukan dan melangkahkan kaki ke arah kebaikan. Taubat itu menuntut suatu maut yang sesudahnya manusia akan dihidupkan dan kemudian tidak akan mati. Setelah bertaubat, manusia akan menjadi sedemikian rupa seolah-olah datang ke dunia ini dengan suatu kehidupan baru. Yang dia miliki bukan lagi tingkah-lakunya; bukan lagi lidahnya sendiri; bukan lagi tangan maupun kakinya sendiri, melainkan keseluruhannya merupakan wujud baru yang tampak bergerak di bawah kendali sesuatu yang lain. Orang-orang yang melihat dapat mengetahui bahwa itu bukan lagi dia, tetapi seorang yang lain.
Lebih lanjut Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:
Yakinlah bahwa di dalam taubat terdapat buah- buah yang besar. Ini merupakan sumber mata air beberkat. Pada hakikatnya para wali dan saleh adalah orang-orang yang melakukan taubat dan kemudian berpegang teguh di atasnya. Mereka jauh dari dosa dan dan semakin dekat dengan Allah. Orang yang melakukan taubat dengan sempurna itulah yang dapat dikatakan 𝘸𝘢𝘭𝘪 (orang yang memperoleh qurub/kedekatan ilahi, 𝘲𝘶𝘵𝘩𝘣 (seorang wali yang diserahi pengaturan suatu kawasan tertentu), 𝘨𝘩𝘢𝘰𝘴 (salah satu derajat Waliullah). Dalam kondisi demikianlah mereka menjadi kekasih Allah. Sesudah itu bala dan musibah-musibah yang telah ditetapkan untuk manusia akan sirna. [5]
Semoga Allah memudahkan kita untuk menjauhi setiap dosa besar, mengampuni setiap dosa kecil kita, dan mengumpulkan kita semua di tempat-Nya yang paling mulia, yaitu Jannatul Firdaus.
Referensi :
[1] QS. Asy-Syura, 42: 31
[2] QS. An-Nisa, 4: 32
[3] HR. Bukhari dan Muslim
[4] HR. Muslim
[5] Malfuzhat, Add. Nasir Ishaat, London, 1984, jld. V, h. 187-193
Views: 22
