Doa: Kunci Mengatasi Berbagai Masalah.
Setiap manusia pasti pernah merasakan kesulitan dan permasalahan dalam hidupnya. Namun, sedikit dari mereka yang mengambil jalur langit sebagai penyelesaiannya.
Bagi mereka yang tidak mempercayai adanya Tuhan, beranggapan bahwa setiap kesulitan dan permasalahan hidup akan berlalu seiring berjalannya waktu, tanpa adanya ritual doa dalam menjalaninya. Namun, bagi mereka yang yakin dengan Tuhan nya, yang pertama kali dicari adalah Dia. Karena islam mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan ujian yang selalu disertai sebuah harapan.
Allah Swt menegaskan dalam Al-quran bahwa di setiap kesulitan terdapat kemudahan. Allah Swt berfirman: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” [1]
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan yang Allah janjikan. Karena itu, seorang muslim tidak diajarkan untuk berputus asa. Ikhtiar harus terus dilakukan, sedangkan hasilnya akan diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT melalui jalur tawakal.
Akan tetapi disinilah letak kekeliruan yang acap kali terjadi dimasyarakat, mereka beranggapan hanya sebatas doa sekali-dua kali saja sudah cukup. Lalu mengharapkan doa itu akan dikabulkan secepat kedipan mata. Seolah doa hanyalah sebuah kegiatan formalitas belaka.
Padahal doa adalah suatu ritual yang sakral antara hambanya dengan Allah Ta’ala.
Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa:
“Doa memiliki efek magnetis, dan itu menarik rahmat dan berkah.”[2]
Terdapat sebuah kisah tentang seorang hamba yang rajin beribadah dan melafalkan doa secara rutin setiap hari. Namun, ia melakukannya layaknya membaca sebuah daftar belanjaan atau aturan kerja, begitu cepat, monoton, dan selesai tanpa membekas di jiwanya.
Suatu malam, ia bermimpi ditegur melalui perenungan batin yang dalam. Ia merasa heran mengapa hidupnya terasa hambar dan doa-doanya seperti terpantul kembali tanpa kelapangan jiwa. Ia sadar bahwa selama ini ia hanya berbicara kepada langit menggunakan mulutnya, tetapi hatinya seolah terkunci di bumi, ia masih saja memikirkan ego, mengharapkan pujian dari manusia, dan mementingkan kenyamanan dirinya sendiri.
Ketika ia terbangun dari kelalaian itu, ia mulai menangis, bukan karena masalah dunianya yang belum selesai, tetapi karena malu menyadari bahwa ia selama ini menjadikan Sang Pemilik Semesta seperti relasi formal yang hanya disapa seadanya. Ia pun mengubah cara berdoa nya. Berhenti mengebut lafal, menghadirkan rasa rendah diri dalam jiwanya, mengakui segala kekurangan serta kelemahan, dan meresapi setiap kata yang diucapkannya.
Dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa doa adalah bentuk penghambaan paling suci seorang hamba kepada Tuhannya, jika hal ini dilakukan dengan cara-cara yang baik maka balasan yang akan kita terima pun akan baik.
Seperti seorang anak kecil yang mengharapkan dibelikan mainan oleh orang tuanya pasti akan melakukan berbagai kebaikan agar dapat meluluhkan hati orang tuanya. Begitupun saat kita berdoa, doa hendaknya diucapkan dengan cara penyerahan diri seutuhnya kepada Sang Pemilik Kehidupan, hingga Dia luluh dan mengabulkan setiap doa yang kita panjatkan.
Hal ini selaras dengan sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. beliau mengatakan bahwa:
“Doa adalah kunci untuk mengatasi semua kesulitan dan mencegah semua bencana. Namun, doa bukan berarti doa yang dipanjatkan orang-orang sebagai formalitas, melainkan doa yang membuat hati seseorang luluh di hadapan Allah Ta’ala.”[2]
Referensi:
1. QS. Al-Insyirah: 6-7.
2. https://ahmadiyah.id/upaya-untuk-meraih-ketakwaan
Views: 12
