Dibalik Usaha Manusia, Ada Tangan Tuhan yang Bekerja
Hidup ini bukanlah serangkaian kebetulan acak, melainkan sebuah maha karya yang dirajut dengan benang-benang rahmat dan kasih sayang Ilahi yang tak pernah putus.
Jika kita bersedia melambatkan langkah dan menepikan kebisingan dunia, maka akan disadari bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan sendirian. Setiap langkah kita ditopang oleh karunia Ilahi yang tak terhitung jumlahnya.
Bantuan Tuhan seperti udara yang tidak kasat mata, selalu ada dan menghidupkan saat kita sesak oleh dunia merupakan salah satu contohnya. Dengan menyadari kebaikan Tuhan membuat kita paham bahwa semua capaian itu bukan karena kehebatan kita, melainkan karena izin dan kemurahan-Nya. Karunia Allah merupakan bentuk anugerah, nikmat atau pemberian mulia dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya.
Sebuah simfoni tak bersuara yang kita sebut karunia Ilahi senantiasa mengalun, lalu seberapa sering kita benar-benar berhenti dan mendengarkannya?
Marilah kita pahami lebih mendalam mengenai persepsi ‘karunia’ dalam ajaran Islam. Sesungguhnya karunia itu adalah segala bentuk anugerah, pemberian atau kebaikan istimewa yang datang dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, baik berupa nikmat lahiriah maupun batiniah.
Mensyukuri karunia Allah berarti kita menyadari bahwa pemberi, hakikatnya adalah Allah. Lalu manusia menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan dan kebaikan. Syukur juga menjadi pengikat agar nikmat tersebut kekal dan ditambah oleh Allah, namun jangan sampai karunia yang diterima membuat seseorang menjadi sombong atau lalai dari mengingat Allah, karena hal tersebut dapat mengubah nikmat menjadi ujian atau bahkan _istidraj_ (kenikmatan yang melalaikan dan berujung kepada kebinasaan).
Seperti yang telah diperingatkan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
“Dan ketika Tuhan engkau mengumumkan, Jika kamu bersyukur, pasti akan Aku limpahkan lebih banyak Karunia padamu, Jika kamu tidak bersyukur, maka ketahuilah sesungguhnya azab-Ku amat keras.” [1]
Oleh karena itu hendaknya setiap Muslim menyadari bahwa karunia dari Allah adalah merupakan tanda cinta-Nya untuk mendekatkan diri kita kepada Sang Khalik.
Dengan memahami bahwa segala nikmat berasal dari Allah maka kita akan menggunakan pemberian tersebut dalam ketaatan bukan kemaksiatan.
Misalnya menikmati rezeki yang halal secara wajar tanpa sikap sombong, mubazir atau melampaui batas. Dan hendaknya memanfaatkan waktu luang, kesehatan dan kelebihan harta untuk kebaikan sesama. Karena hal tersebut sejalan dengan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as.:
“Tidak ada seorangpun yang dapat berbuat sesuatu tanpa karunia dan bantuan Tuhan, tetapi ketika seseorang ditarik ke arah Tuhan dan menyatu dengan wujud-Nya, dia melakukan tindakan yang disebut sebagai perbuatan Tuhan dan kemudian cahaya kesempurnaan mulai menyinarinya.” [2]
Makna dari kalimat, “Tidak seorangpun yang dapat berbuat sesuatu tanpa karunia dan bantuan Tuhan”, menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya lemah dan tidak memiliki daya serta kekuatan mandiri, semua tindakan, nafas dan kemampuan yang kita miliki merupakan aliran energi karunia dan izin dari Allah semata.
Lalu makna kalimat, “Tetapi ketika seseorang ditarik ke arah Tuhan dan menyatu dengan wujud-Nya”, menggambarkan fase spiritual yang tinggi. Ketika seorang hamba membersihkan hatinya dan fokus beribadah, maka ia akan ditarik oleh cinta Ilahi menyatu dengan wujud-Nya. Bukan berarti zat manusia berubah menjadi zat Tuhan secara fisik, melainkan kehendak ego pribadi manusia tersebut telah lebur, keinginannya adalah keinginan Tuhan dan cintanya adalah apa yang dicintai Tuhan.
Sedangkan makna dari kalimat, “dia melakukan tindakan yang disebut sebagai perbuatan Tuhan” menjelaskan ego dan nafsu manusia tersebut telah hilang, maka setiap tindakan yang ia lakukan murni di gerakan oleh petunjuk Tuhan. Ia menjadi “alat” perpanjangan tangan Tuhan di bumi.
Dan makna kalimat, “Dan kemudian cahaya kesempurnaan mulai menyinarinya” bermakna sebagai hasil dari kedekatan jiwa orang tersebut dengan Tuhan-Nya maka akan diliputi cahaya kebijaksanaan, kedamaian dan pengetahuan spiritual yang sejati (makrifat) ia mencapai tingkat kesempurnaan kemanusiaan (insan kamil). Ia menyadari hakikat kebenaran alam semesta dan memancarkan kebaikan murni mutlak kepada makhluk lainnya.
Jadi kesimpulannya kalimat tersebut menggambarkan puncak pencapaian spiritual seseorang yang telah melampaui ego dirinya sendiri hingga setiap gerak-gerik, keputusan dan perbuatannya dituntun langsung oleh Tuhan, menjadikannya manusia yang membawa rahmat dan cahaya kesempurnaan di dunia.
Untuk itu marilah kita bersyukur atas seluruh anugerah dan karunia Ilahi yang telah melapangkan jalan kita. Semoga segala capaian ini menjadi bukti nyata atas karunia Ilahi yang tiada putus serta senantiasa menuntun langkah kita menuju keberkahan.
Referensi:
[1] QS. Ibrahim 14: 8
[2] Malfuzat, Vol.1, hal. 352
Views: 18
