Ketika Dunia Tidak Sesuai Keinginan

Manusia selalu berharap semua berjalan sesuai dengan keinginannya. Namun, nyatanya hasil akhirnya seringkali tak seindah yang diharapkan. Ada kalanya sesuatu yang kita upayakan dengan sungguh-sungguh bahkan dengan rintihan doa, namun hasil akhirnya takdir membawa kita ke arah yang berlawanan.

 

Kita sudah berdoa agar sesuatu terjadi, tetapi ternyata belum juga terkabulkan. Kita sudah berusaha membuka satu jalan, tetapi jalan itu justru tertutup. Kita sudah berharap seseorang berubah, tetapi ternyata tetap seperti sebelumnya.

 

Bahkan terkadang kita bertanya dalam hati, “Ya Allah, bukankah aku sudah berdoa? Bukankah aku sudah berusaha? Mengapa masih seperti ini?”

 

Di situlah kita perlu belajar bahwa doa bukanlah cara untuk memaksa Allah mengikuti keinginan kita. Doa adalah cara seorang hamba menyerahkan keinginannya kepada Zat Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik baginya. Allah Ta’ala berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(QS. Al-Baqarah 2:286)

Allah Ta’ala juga berfirman: “Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat.”

(QS. Al-Baqarah 2:45)

 

Rasulullah bersabda:

“Sungguh menakjubkan perkara orang beriman. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Jika memperoleh kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.”

(HR. Muslim)

 

Lalu teringat sebuah ungkapan:

“Kita tidak bisa mengubah arah angin, tetapi kita bisa menyesuaikan layar kita untuk mencapai tujuan kita.”

— Jimmy Dean

 

Apa sebenarnya maksudnya?

Angin adalah keadaan yang datang kepada kita.

Angin adalah hal-hal yang tidak selalu dapat kita kendalikan: keputusan orang lain, perubahan keadaan, kegagalan, kehilangan, penolakan, kesempatan yang tidak datang, doa yang belum terkabul, bahkan jalan hidup yang tiba-tiba berubah dari rencana kita.

Kita tidak bisa memerintahkan angin untuk selalu bertiup ke arah yang kita inginkan.

 

Tetapi layar adalah apa yang masih berada dalam kendali kita.

Layar adalah bagaimana kita memilih untuk menyikapi keadaan: apakah kita akan bersabar atau mengeluh, tetap berusaha atau menyerah, memperbaiki diri atau menyalahkan keadaan, mendekat kepada Allah atau justru menjauh.

 

Ketika angin berubah, seorang pelaut tidak menyalahkan angin sepanjang perjalanan. Ia menyesuaikan layarnya.

 

Begitu pula kita.bKita tidak selalu bisa mengubah keadaan, tetapi kita bisa mengubah cara kita menghadapi keadaan. Jika keadaan sulit, kita perbaiki ikhtiar. Jika doa belum terkabul, kita perbaiki hubungan dengan Allah dan terus berdoa. Jika rencana gagal, kita belajar dan mencoba jalan lain. Jika seseorang mengecewakan, kita tetap menjaga akhlak. Jika kehidupan membawa kita ke arah yang tidak pernah kita rencanakan, kita tetap percaya bahwa Allah mengetahui arah yang tidak mampu kita lihat.

 

Lihatlah kehidupan para nabi.

Nabi Nuh AS berdakwah dalam waktu yang sangat panjang dan menghadapi penolakan kaumnya. Namun beliau tidak berhenti menyeru kepada Allah.

 

Nabi Ibrahim AS menghadapi kaumnya dan bahkan dilemparkan ke dalam api. Namun keyakinannya kepada Allah tidak berubah.

 

Nabi Yusuf AS dikhianati saudara-saudaranya, dibuang ke dalam sumur, dijual, dan kemudian dipenjara. Namun beliau tidak membiarkan penderitaan mengubah akhlaknya.

 

Nabi Ayyub AS menghadapi penderitaan yang berat dalam waktu yang panjang. Namun kesabarannya tetap menjadi teladan.

 

Dan Rasulullah AS sendiri mengalami berbagai penderitaan dalam perjalanan dakwah. Ketika pergi ke Thaif, beliau ditolak dan disakiti. Tetapi beliau tidak berhenti.

Badai datang, tetapi perjuangan tidak berhenti.

 

Itulah yang membedakan orang yang hanya menginginkan kehidupan sesuai kehendaknya dengan orang yang belajar menerima kehendak Allah.

 

Seperti seorang petani. Ia menanam benih dengan sungguh-sungguh. Ia mengolah tanah, memberikan pupuk, merawat tanaman dan menunggu. Tetapi ia tidak bisa memerintahkan hujan turun tepat ketika ia menginginkannya. Ia tidak bisa memaksa matahari bersinar sesuai kebutuhannya. Ia hanya bisa melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya, kemudian bersabar menunggu hasil.

 

Begitu pula hidup kita. Kita bertugas menanam benih kebaikan. Kita bertugas berusaha. Kita bertugas berdoa. Kita bertugas memperbaiki diri. Tetapi kapan dan bagaimana hasilnya tumbuh, itu berada dalam ketetapan Allah Swt.

 

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud AS, banyak menekankan pentingnya kesabaran, keteguhan, doa dan usaha dalam menghadapi ujian. Kesabaran bukan berarti berhenti berusaha, tetapi tetap teguh dalam kebaikan meskipun hasil yang diharapkan belum terlihat.

 

Maka jika hari ini dunia tidak sesuai dengan keinginan kita, jangan buru-buru menganggap hidup kita sedang gagal. Mungkin kita hanya sedang menghadapi angin yang berbeda. Jangan habiskan tenaga untuk memarahi angin. Perbaiki layar kita. Kalau keadaan tidak bisa kita ubah, ubahlah sikap kita.

 

Kalau jalan pertama tertutup, carilah jalan lain. Kalau doa belum terkabul, jangan berhenti berdoa. Kalau hasil belum terlihat, jangan berhenti menanam. Kalau hati sedang kecewa, jangan berhenti percaya kepada Allah.

 

Karena tertundanya doa bukan berarti Allah tidak mendengar. Dan berubahnya rencana bukan berarti Allah tidak memiliki rencana. Bisa jadi apa yang kita anggap sebagai keterlambatan adalah perlindungan. Bisa jadi apa yang kita anggap sebagai kehilangan adalah pengalihan menuju sesuatu yang lebih baik. Dan bisa jadi jalan yang sekarang terasa berat sedang membentuk diri kita menjadi seseorang yang lebih sabar, lebih kuat, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah.

 

Kita tidak dituntut untuk mengendalikan seluruh kehidupan. Kita hanya diminta melakukan bagian kita dengan sebaik-baiknya: berusaha, bersabar, berdoa, bersyukur dan bertawakal. Kita tidak selalu bisa memilih angin yang datang. Tetapi kita bisa memilih bagaimana mengembangkan layar. Kita tidak selalu bisa menentukan kapan benih akan berbuah. Tetapi kita bisa memastikan bahwa benih yang kita tanam adalah benih kebaikan.

Ya Allah ketika kehidupan tidak sesuai dengan keinginanku, ajarilah aku untuk tidak kehilangan arah. Jika doaku belum Engkau kabulkan, berikan aku kesabaran untuk menunggu.

Jika jalanku Engkau belokkan, berikan aku keyakinan untuk tetap berjalan. Jika angin kehidupan bertiup berlawanan, ajarilah aku mengatur layarku dengan ikhtiar, kesabaran, doa dan tawakal.

 

Karena mungkin bukan dunia yang harus selalu mengikuti keinginanku. Mungkin justru hatiku yang harus belajar mengikuti kehendak-Mu. Dan selama tujuan kita tetap menuju Allah, angin boleh berubah, jalan boleh berbelok, tetapi jangan sampai kita kehilangan arah.

 

 

Views: 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *