Iman Dan Amal Saleh: Investasi Terbesar & Warisan Yang Mengguncang Keabadian
Hidup ini ibarat lembaran kitab yang setiap harinya kita tuliskan dalam tinta iman dan amal. Setiap jejak langkah , setiap desah nafas , bahkan setiap kata yang terucap ,semuanya tak luput dari catatan ilahi yang sempurna. Dalam alur perjalanan yang fana ini, manusia sering kali terjebak dalam hiruk pikuk dunia , hingga lupa bahwa hidup hanyalah persinggahan, sebuah titian menuju keabadian. kita semua, tanpa terkecuali tengah berjalan menuju satu kepastian : kematian, gerbang yang membawa kita pada alam kubur , padang mahsyar,dan akhirat yang abadi.
Namun, apa yang sesungguhnya akan kita bawa saat waktu tiba? Apakah gemerlap dunia yang kita banggakan? Ataukah pujian manusia yang pernah kita dengar? Tidak, semua itu hanyalah ilusi yang sirna bersama hembusan napas terakhir. Yang akan tetap menyertai kita hanyalah amal saleh , sebuah warisan abadi yang tak lerang oleh waktu dan tak lapuk oleh manusia.
Amal saleh adalah lentera yang akan menerangi kegelapan alam kubur, pelindung yang akan menyelamatkan kita di padang mahsyar, dan penentu yang akan menuntun kita menuju surga yang di janjikan. Allahh swt. Berfirman dalam surah Al-nahl ayat 98: ” Barang siapa yang berbuat amal saleh dari antara laki-laki maupun perempuan , dan ialah orang beriman , tentulah akan kami berikan dia kehidupan yang suci ; dan pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka ganjaran yang lebih baik, sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
Amal saleh tidak hanya menciptakan harmoni di dunia, tetapi juga menjadi bekal utama di akhirat. Ketika tubuh kita terbujur kaku di liang lahat, amal saleh lah yang tetap hidup, menjadi cahaya yang menemani kita dalam kesendirian. Namun, amal saleh tidak selalu berwujud besar dan megah. Ia bisa berupa sedekah kecil yang diberikan dengan hati tulus , sebuah kata yang menghibur hati yang terluka , atau bahkan sebuah doa yang di panjatkan tanpa di ketahui orang lain .
Rasulullah SAW. Mengingatkan : “Janganlah meremehkan kebaikan sekecil apapun, melainkan hanya dengan bertemu saudaramu dengan wajah yang ramah.”
( HR.Muslim).
Dalam ajaran agama Islam, amal shaleh mencakup tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat, termasuk upaya untuk memperbaiki kondisi sosial dan lingkungan. Menjaga keadilan sosial berarti memastikan setiap individu mendapatkan hak yang adil, tanpa diskriminasi.
Memberantas kemiskinan adalah tanggung jawab sosial untuk mengurangi kesenjangan antara yang kaya dan miskin, serta memberi kesempatan yang lebih besar kepada mereka yang kurang beruntung. Sedangkan menjaga lingkungan mencerminkan kepedulian terhadap keberlanjutan hidup di bumi, yang juga merupakan bagian dari tanggung jawab moral kepada sesama dan generasi mendatang.
Dalam konteks keindonesiaan, pemahaman ini harus diperluas agar amal shaleh tidak hanya berdampak sesaat, tetapi juga memberikan kontribusi jangka panjang bagi masyarakat.
Modernisasi dan globalisasi membawa pengaruh besar pada cara masyarakat memahami nilai-nilai agama. Di satu sisi, teknologi dan informasi memperkuat akses terhadap ajaran agama. Di sisi lain, arus konsumerisme dan budaya asing sering kali melemahkan komitmen terhadap nilai-nilai iman dan amal shaleh.
Pada suatu ketika Hadhrat Masih Mau’ud (Imam Mahdi) ‘alaihis salaam bersabda, ”Di dalam Al-Quranul Karim, Allah Ta’ala meletakkan iman berdampingan dengan amal saleh. Yang dikatakan Amal Saleh adalah amal yang murni sedikitpun tidak dicampuri oleh suatu keburukan. Ingatlah bahwa amal manusia selalu diintai oleh pencuri. Apakah gerangan pencuri itu? Tiada lain adalah riya (pamer). Itu artinya, apabila manusia berbuat kebaikan itu karena pamer, untuk dilihat orang. Bangga, di dalam hatinya timbul rasa bangga setelah melakukannya. Yakni merasa gembira karena mengharapkan pujian.
Akibatnya ia membuka jalan keburukan yang menjurus kepada perbuatan dosa, karenanya amal saleh nya itu menjadi bathil. Amal Saleh adalah amal yang murni tidak tercemar oleh suatu keburukan misalnya; khianat, kebanggaan, riya, takabur, sombong dan tidak tercemar oleh pikiran untuk merampas hak-hak orang lain.
Sebagaimana karena Amal Saleh manusia akan mendapat keselamatan di alam akhirat nanti, begitu juga di dunia ini mendapat keselamatan. Yakni, begitu pentingnya amal saleh itu, sehingga apabila manusia melakukan-nya di dunia ini, maka perhitungannya akan ia peroleh di akhirat juga dan di dunia ini juga. Atau amal saleh di dunia ini akan menjadi sarana baginya untuk mendapat ganjaran di akhirat nanti. Atau dapat diartikan juga bahwa amal saleh itu akan membuat kehidupan di dunia ini juga sebagai surga.”
Sungguh, iman itu laksana akar, sekalipun seorang Muslim menyatakan diri, ‘Iman saya kuat’ seringkali kita mendengar pernyataan orang Muslim seperti itu, ia mempunyai gairah terhadap agama juga, namun ia terperosok, siap sedia melakukan pembunuhan atas nama Islam.
Pada waktu ini umat Islam telah terpecah menjadi dua buah kelompok dan telah terbentuk banyak sekali organisasi. Berbagai macam pernyataan dikumandangkan, bahwa iman mereka kokoh kuat. Tetapi, apakah iman mereka itu seperti sebatang pohon atau sebuah taman yang indah yang memberi faedah kepada dunia, sehingga banyak manusia datang menghampirinya?
Padahal, betapa dahsyat kejamnya mereka, menunjukkan keberingasan dan keganasan sehingga dunia berlari menjauhkan diri dari mereka.
Sekarang tugas kewajiban setiap orang Ahmadi untuk menampilkan gambaran sejati amal saleh dan kebaikan itu, sebab ia telah beriman kepada Imam dan Nabi di zaman ini.
Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as, yakni Jemaat Ahmadiyah-lah sesungguhnya pohon yang telah ditanam oleh Allah Ta’ala. Yang akar-akarnya kokoh-kuat dan dahan-dahannya subur menghijau, naungannya sangat rindang dan teduh, sangat indah dipandang mata serta berbuah lebat.
Yang sangat menarik perhatian dunia. Keadaan seperti itu semua telah berhasil diraih karena Hadhrat Masih Mau’ud a.s telah memperkenalkan kita dengan ajaran Islam yang sejati dan telah menganjurkan kita dengan tegas untuk mengikuti jejak langkah suri teladan Hadhrat Rasulullah saw, telah selalu mengingatkan kami kearah itu dan telah menjelaskan betapa pentingnya hal itu kepada kami.
Maka, sekarang Jemaat Ahmadiyah-lah satu-satunya Jemaat yang akar-akarnya kokoh-kuat dan dahan-dahannya juga subur menghijau, sangat indah dipandang mata serta menghasilkan banyak buah, menarik perhatian dunia terhadapnya. Itulah pohon yang dengan menyaksikannya khalayak manusia di setiap tempat berkata:” Betapa indahnya Islam yang kalian persembahkan ini!
Hz. Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Beriman secara sempurna dan mengamalkannya adalah penting untuk meraih karunia Allah Ta’ala.”
Oleh sebab itu sedapat mungkin perilaku kalian harus sesuai dengan ajaran yang diberikan. Amal perbuatan itu seumpama sayap, tanpa amal perbuatan manusia tidak dapat terbang untuk meraih kemajuan rohaninya dan tidak akan dapat sampai ke puncak martabatnya yang sangat tinggi yang Allah Ta’ala telah meletakkannya dibawah amal-amal saleh itu.
Sebagaimana Allah Ta’ala menganugerahkan kecerdasan kepada binatang-binatang bersayap, namun jika tidak menggunakan kecerdasan yang telah dianugerahkan Tuhan itu mereka tidak dapat melakukan apa yang harus mereka kerjakan. Misalnya; jika kumbang madu tidak mempunyai pengertian seperti itu, ia tidak akan dapat menghasilkan madu dan begitu juga burung-burung merpati pos, yakni burung merpati yang mengirimkan surat-surat, bagaimana ia harus melaksanakan pekerjaannya, bagaimana ia harus terbang menyampaikan surat-surat itu ketempat tujuan setelah menempuh jarak terbang yang jauh-jauh. Demikianlah, banyak pekerjaan yang sangat ajaib dilakukan oleh binatang-binatang bersayap juga.
Beliau as bersabda menenai keharusan amal perbuatan, “Orang-orang menganggap sudah cukup (sebagai Muslim) hanya dengan mengucapkan dua kalimah syahadat saja dengan lisannya. Atau hanya dengan membaca ‘Astaghfirullah’ (aku mohon ampun kepada Allah) sudah cukup untuk membersihkan diri dari pada dosa. Tetapi ingatlah! Pernyataan hanya sekedar dengan mulut komat-komit tidak akan memadai. Sekalipun manusia membaca istighfar – ‘Astaghfirullah’ seribu kali, atau membaca tasbih seratus kali sedikit pun tidak akan memberi faedah, sebab Allah Ta’ala menciptakan manusia sebagai manusia, bukan menciptakan mereka sebagai burung beo. Kebiasaan burung beo selalu mengulang-mengulang perkataan atau suara. Sedikitpun ia tidak mengerti maksudnya. ( Khutbah Jumat , Hazrat Mirza Masroor Ahmad ATBA , 19 september 2014 ,Masjid Baitul Futuh, Uk, London).
Seseorang mungkin bertanya : “Mengapa syaitan mendurhaka meskipun ia memiliki pemahaman yang sempurna?”
Jawabannya adalah karena syaitan tidak memiliki pemahaman yang sempurna yang hanya dikaruniakan kepada mereka yang beruntung saja. Sudah menjadi bagian dari fitrat manusia bahwa dirinya dikendalikan oleh pengetahuan yang dimilikinya dan ia tidak akan menghancurkan dirinya sendiri ketika menyadari godaan dari wujud syaitan yang merugikan tersebut.
Keimanan adalah menyakini sebagai akibat dari berfikir baik tentang sesuatu, sedangkan yang dimaksud dengan pemahaman adalah menyadari sepenuhnya hal yang diimani tersebut. Karena itu dosa dan pemahaman tidak mungkin eksis bersamaan didalam satu kalbu sebagaimana malam dan siang tidak mungkin muncul bersamaan.
Sudah menjadi kebiasaan umum dimana sesuatu yang dianggap berharga akan menarik minat orang kepadanya, sedangkan jika ada sesuatu yang merugikan maka orang cenderung menjauh. Sebagai contoh, sesorang tidak mengetahui bahwa yang ada dalam genggamannya adalah racun arsenik, mungkin saja akan menelannya karena dikira sejenis obat. Namun, seseorang yang mengenal bentuk arsenik tersebut, pasti tidak akan mau mencicipinya meski hanya sekelumit kecil, karena sadar bahwa itu akan membawanya segera pindah dari dunia lain. Begitu juga halnya jika manusia menyadari secara pasti bahwa Tuhan itu memang ada dan semua bentuk dosa akan dihukum oleh-Nya, maka secara otomatis ia akan meninggalkan segala bentuk dosa. ( Inti Ajaran Islam Bagian kedua, hal 239 bab VII : Keselamatan)
Views: 12
