Ketika Pagi dan Petang Menjadi Jalan Pulang kepada Tuhan

Ada waktu ketika hati tidak membutuhkan banyak nasihat. Ia hanya membutuhkan satu hal: kembali mengingat Tuhan.

 

Ketika pagi datang membawa cahaya. Petang perlahan menutup hari dengan senja. Di antara keduanya, manusia menjalani hidup, menghadapi kabar baik dan buruk, lalu menyimpan banyak hal di dalam hati. Namun, pernahkah kita bertanya: apa yang mengisi hati kita ketika hari dimulai, dan apa yang kita bawa ketika hari berakhir?

 

“Dan ingatlah nama Tuhan engkau pada waktu pagi dan petang.”

(QS. Al-Insan: 26)

 

Ayat ini seolah mengajarkan bahwa mengingat Allah Ta’ala bukan hanya perkara meluangkan waktu di sela-sela kesibukan. Zikir adalah cara hati menjaga arah agar sejak memulai hari, kita tidak berjalan sendirian, dan ketika petang tiba kita tidak lupa kepada siapa segala perjalanan ini akan kembali.

 

Betapa Rasulullah Saw. sendiri mengajarkan hal ini secara langsung kepada keluarga tercintanya. Suatu malam, beliau menemui putrinya, Fatimah, dan suaminya, Ali bin Abi Thalib, ketika mereka hendak beristirahat. Beliau bersabda, “Maukah kalian aku ajari sesuatu yang lebih baik daripada seorang pembantu? Bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali setiap kali kalian hendak tidur.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

 

Ini adalah pelajaran berharga bahwa mengakhiri hari dengan zikir adalah sunnah yang membawa ketenangan, bahkan lebih bernilai daripada harta dan pembantu dunia.

 

Setiap pagi sering kali menjadi awal dari banyaknya harapan. Terkadang ada hari-hari ketika rencana tidak berjalan sebagaimana yang kita inginkan. Ada kabar yang membuat dada sesak. Ada pekerjaan yang melelahkan. Ada perkataan seseorang yang menetap lebih lama daripada yang seharusnya. Jika pagi telah diawali dengan mengingat Allah Ta’ala, hati memiliki tempat yang aman untuk berserah diri.

 

Rasulullah Saw. pun mengajarkan kita untuk membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing tiga kali di pagi dan petang hari sebagai benteng perlindungan, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Khubayb. Jika baginda Nabi yang maksum saja tidak pernah meninggalkan zikir perlindungan ini, sudah sepantasnya kita meneladani ketergantungan total hanya kepada-Nya di setiap awal dan akhir hari.

 

Kemudian petang datang. Cahaya mulai redup. Kesibukan perlahan berhenti. Hari yang panjang hampir selesai. Inilah waktu untuk menoleh sejenak. Apa yang telah kita lakukan hari ini? Adakah perkataan yang melukai seseorang? Adakah nikmat yang lupa disyukuri? Adakah kesempatan berbuat baik yang kita lewatkan? Atau mungkin ada sesuatu yang membuat hati kecewa dan belum mampu kita lepaskan? Di saat seperti itu, mengingat Allah Ta’ala menjadi seperti mengetuk pintu rumah setelah perjalanan panjang.

 

Sahabat Umar bin Khattab ra adalah teladan terbaik dalam momen evaluasi petang ini. Beliau sangat terkenal dengan ucapannya, “Hisablah (periksalah) diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah).” Diriwayatkan bahwa di malam hari, Umar kerap menangis sambil mengecek amalannya sepanjang hari; ia khawatir ada waktu yang terlewat sia-sia, ada hak hamba yang belum ditunaikan, atau ada amal yang tidak ikhlas karena riya’. Maka, mengaca pada kebiasaan Umar, sudah seharusnya petang menjadi waktu bagi kita untuk mengoreksi diri, memohon ampun atas khilaf, dan bersyukur atas pertolongan-Nya sepanjang hari.

 

Di antara ribuan hal yang kita pikirkan sepanjang hari, mengingat Allah Ta’ala adalah satu hal yang paling sering kita lupakan, padahal justru itulah yang paling kita butuhkan.

 

Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang disebutkan dalam firman-Nya, yang di akhirat kelak menyesal dan berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

(QS. Al-Munafiqun: 10).

 

Penyesalan itu muncul karena mereka menyia-nyiakan pagi dan petangnya dengan lalai, baru tersadar ketika waktu telah habis.

 

Pagi mengajarkan kita untuk memulai bersama-Nya. Petang mengajarkan kita untuk menyerahkan kembali segala sesuatu kepada-Nya. Dan di antara keduanya, semoga kita belajar menjalani hidup dengan hati yang tidak pernah benar-benar jauh dari Tuhan.

 

Semoga kita dipertemukan dengan pagi dan petang yang penuh berkah, serta diwafatkan dalam keadaan hati yang selalu berzikir dan menyerahkan diri kepada-Nya.

Views: 31

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *