JALAN HIJRAH SEORANG REMAJA URAKAN MENJADI ISTRI MUBALIGH

Namaku Dina Mariani, namun aku lebih nyaman dengan nama Dina Mahdi pasca hijrah dari masa laluku.

Oktober 2017 silam aku memutuskan kembali berhijab tepat nya saat duduk di kelas 11 di salah satu SMA di bilangan Senayan. Kali itu aku bertekad untuk istiqomah, mengosongkan lemariku dari pakaian-pakaian “kurang bahan” milikku. Kembali mengambil air wudhu dan kembali melafalkan bacaan shalat setelah demikian kelu lidahku lama tak melafalkannya.

Bukan tanpa sebab. Aku sudah terlalu banyak terlibat masalah dan merasa iba kepada kakek nenekku yang harus banyak menanggung malu. Dan pastinya batin mereka sering terluka melihat cucu yang mereka cintai tumbuh menjadi anak urakan.

Aku tahu kakek lelah sering bolak-balik datang ke sekolah sebab ulahku. Tapi tak pernah beliau menunjukan raut kekecewaan. Juga nenek, masih setia mengurus seluruh keperluanku. Tak pernah aku dengar kata-kata kasar terlontar dari lisan mereka.

Justru, seringkali saat aku bermasalah mereka menatapku seraya meminta maaf telah gagal mendidikku yang kalimat itu membuat hatiku teriris mendegarnya. Tak jarang juga aku pergoki keduanya menangis saat sujud di sepertiga malam mereka, tepat saat aku pulang setelah menghabiskan malam dengan kawan-kawanku.

Mereka tak pernah ikut menyudutkanku saat keluarga besar menyebutkan segala keburukanku. Aku sudah hafal jawaban mereka “Yaa.. doain aja.. Hidayah kan nggak ada yang tahu”

Puncaknya, saat aku terlibat perkelahian dengan salah seorang kakak kelasku yang mengakibatkan luka parah di bagian hidungnya sebab tanganku menyebabkan aku harus dirumahkan selama seminggu lebih dan diancam drop out.

Ini bukan kali pertama aku dapat hukuman skorsing. Label negatif sudah melekat pada diriku jauh sebelum kejadian itu.

Aku memiliki 3 kawan sefrekuensi saat itu, bisa dibilang kami berempat punya squad sendiri terpisah dari siswi lain. Kami berempat siswi yang sejak kelas 10 sering terlibat masalah baik dengan kakak kelas maupun dengan guru.

Ketika kembali masuk setelah skorsing , pihak sekolah sengaja memisahkan aku sendiri sedang tiga temanku yang lain dikelas yang berbeda. Sejak itu aku seperti kehilangan dunia. Siswi di kelas baruku juga enggan bergaul denganku sebab label negatif yang sudah melekat pada diriku meski sekarang aku telah berhijab .

Hatiku makin hancur kala mengetahui squadku sering ke kantin tanpa “nyamper” ke kelasku terlebih dahulu. Dan ternyata memang aku tersisih, sejak aku memakai hijab. Mereka sering hang out , dan sengaja tidak mengajakku. Bahkan belakangan aku ketahui mereka punya grup whatssapp baru tanpa menyertakan aku.

Sepertinya, Tuhan telah mengatur segalanya agar aku fokus bertaubat. Kini aku baru menyadari bahwa tak ada yang mencintaiku setulus kakek dan nenekku mencintaiku.

Bahkan mereka yang aku anggap duniaku. Aku sering berbohong juga membantah kakek nenekku demi mereka . Tapi saat ini justru mereka menjadi penyebab keterpurukanku.

Sejak itu aku tak ada semangat pergi kesekolah, meski nenek memintaku tidak terlalu ambil pusing perihal kawan-kawanku. Aku masih keras kepala, apa yang jadi mauku tak akan bisa dirubah siapapun.

Hari-hari di rumah kuhabiskan dengan menonton kajian di youtube. Kini aku rutin ikut sholat berjamaah dengan kakek nenekku . Tak jarang juga aku ikut pergi ke Masjid Al-Hidayah, Balikpapan untuk shalat jum’at.

Memang pada dasarnya aku bukanlah anak yang nakal. Saat SMP aku aktif di organisasi islam di sekolah, juga sempat menjuarai Musabaqoh Tilawatil Quran tingkat Kota.

Entah apa yang merasukiku hingga aku demikian berubah ketika mulai masuk jenjang SMA. Mungkin aku hanya kurang pengawasan sejak ibu dan ayahku bercerai 2015 silam.

Saat aktif di organisasi islam kala SMP, aku biasa duduk di majlis-majlis dzikir dan sholawat tiap malam jum’at dan malam minggu. Bacaan maulid dan ratib sudah jadi santapan rutin bagiku.

Namun sepertinya kali ini aku akan pindah haluan, memutuskan untuk “nyunnah” dan menjauhi segala amal yang tak dicontohkan Nabi . Aku lebih selektif dalam urusan agama kali ini. Ustadz Khalid Basalamah (Blok M) jadi ustadz favoritku kini .

Aku mengikuti kajian dengan seksama baik hadir langsung maupun streaming. Kakek dan nenekku tidak pernah ikut campur soal pandanganku dalam beragama meskipun mereka seorang Ahmadi. Mereka hanya pernah menyampaikan kepadaku bahwa mereka berharap kelak ada yang meneruskan kejemaatan mereka.

Bukannya tak mau, aku hanya belum mengerti soal pendakwaan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi. Sangat jauh dari apa yang aku pelajari di luar.

Hingga pada suatu ketika tiba-tiba muncul ketertarikan dalam hatiku untuk mengenal Ahmadiyah setelah membaca buku Riwayat Rasulullah SAW karya Khalifah Kedua yang tergeletak di kamar nenek. Itulah buku terbitan Ahmadiyah yang pertama kali aku baca.

Hari itu juga aku browsing di internet apapun tentang Ahmadiyah dari berbagai sumber. Tentunya ada yang postif, juga ada yang negatif. Yang menarik ialah aku menemukan bahwa Ahmadiyah memiliki tempat pengkaderan untuk usia SMP dan SMA dari akun facebook LPPI .

Lokasinya di Perigi, Pondok Aren. Tak lain ialah Arif Rahman Hakim Boarding Class. Sepertinya, ini jalan dari Tuhan untuk aku dapat mempelajari Ahmadiyah langsung dari sumbernya.

Aku menyusun kata-kata hendak mengutarakan keinginanku menuntut ilmu disana kepada kakek dan nenekku. Alhamdulillah responnya positif , segera nenekku menghubungi ibuku untuk meminta persetujuan.

Ibuku setuju, sebab ibu sempat menjadi Lajnah Imaillah ketika masih menjadi menantu nenek. Kurang lebih ibuku sudah mengenal Ahmadiyah.

Hari yang ditunggu tiba, dimana aku diantar menuju ARH . Kawanku yang tahu bahwa aku akan pindah sekolah kaget dan bersedih datang kerumah. Memintaku mengurungkan niat dan kembali bersama mereka. Tapi tekadku telah bulat.

Waktu begitu cepat berlalu hingga aku di penghujung masa belajarku di ARH selama satu tahun setengah. Tempat dimana aku sepuas-puasnya mereguk khazanah rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dan para Khalifahnya dari para guru yang luar biasa.

Aku telah memahami pendakwaan Imam Mahdi, seluruh kebimbanganku mengenai apa yang telah aku pelajari di luar juga aku selesaikan saat menuntut ilmu disana.

Inilah jalanku. Ujung daripada skenario berliku tak disangka yang Allah khususkan untukku. Inilah satu yang tak akan aku lepas sepanjang hidupku. Betapa beruntungnya aku telah dipilih-Nya menjadi penerus kejemaatan keluargaku.

Akhir cerita, menjelang kelulusan datang pinangan dari seorang Mubaligh. Tentu saja keluarga menerimanya dengan perasaan sangat bahagia. Pernikahan pun dilangsungkan di bulan yang sama.
Rupanya satu persatu doa yang dipanjatkan kakek dan nenek berhasil menembus langit.

Aku masuk kedalam babak baru didalam hidupku, semoga Allah Ta’ala selalu menyertaiku untuk istiqomah di jalan ini.

Hits: 1823

Dina Mahdi

14 thoughts on “JALAN HIJRAH SEORANG REMAJA URAKAN MENJADI ISTRI MUBALIGH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *