JANGAN BERI SETAN RUANG DI DALAM RUMAH TANGGA
Rumah tangga bukan hanya tempat dua manusia hidup bersama. Rumah tangga adalah tempat dua jiwa belajar tentang kesabaran, pengorbanan, pengampunan, kasih sayang dan ketakwaan kepada Allah. Karena itu, jangan heran jika setan berusaha mencari celah di dalamnya.
Kadang dimulai dari perkara yang sangat kecil. Salah bicara. Salah memahami. Merasa tidak dihargai. Pesan yang tidak dibalas. Pasangan pulang dalam keadaan lelah. Kemudian satu pihak tersinggung, pihak lain membalas.
Perkara yang kecil menjadi besar. Perkara yang tadinya hanya persoalan hari ini, akhirnya membawa semua kesalahan masa lalu. Lalu hati mulai berkata:
“Dia memang selalu begitu.”
“Dia tidak pernah menghargai aku.”
“Aku yang selalu mengalah.”
Padahal bisa jadi, saat itu kita sedang memberi ruang kepada bisikan yang ingin memisahkan dua orang yang seharusnya saling menjaga.
Hadrat Khalifatul Masih V aba. mengingatkan tentang pentingnya mengikuti teladan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan rumah tangga. Beliau menjelaskan bahwa hubungan suami dan istri seharusnya seperti dua sahabat yang tulus, dan bahwa perlakuan baik kepada pasangan merupakan bagian penting dari standar keimanan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” [1]
Perhatikan baik-baik!Ukuran kebaikan seseorang bukan hanya bagaimana ia berbicara kepada orang lain di luar rumah. Bukan hanya bagaimana ia terlihat di hadapan masyarakat. Tetapi bagaimana ia memperlakukan orang yang hidup bersamanya setiap hari.
Bagaimana ia berbicara ketika sedang marah. Bagaimana ia bersikap ketika pasangannya melakukan kesalahan.
Bagaimana ia menjaga aib pasangannya. Bagaimana ia menghargai pengorbanan yang mungkin tidak pernah dilihat orang lain. Dan bagaimana ia tetap memilih kasih sayang ketika sebenarnya ia memiliki kesempatan untuk menyakiti.
Hadrat Khalifatul Masih V aba. juga menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ memperlakukan keluarga dengan kelembutan dan kasih sayang, bahkan beliau membantu pekerjaan rumah tangga. Ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan dalam rumah tangga bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tanggung jawab dan pelayanan dengan kasih sayang.
Maka kepada para suami: Jangan jadikan kepemimpinan sebagai alasan untuk bersikap keras.
Dan kepada para istri: Jangan jadikan kekecewaan sebagai alasan untuk merendahkan suami. Keduanya harus sama-sama bertakwa.
Jika suami salah, istri jangan mempermalukannya. Jika istri salah, suami jangan menghancurkan harga dirinya. Nasihatkan dengan lembut. Bicarakan dengan tenang. Dan jika hati sedang panas, lebih baik diam sejenak daripada mengucapkan kalimat yang akan membekas bertahun-tahun.
Hadrat Khalifatul Masih V aba. juga mengingatkan bahwa apabila seseorang menginginkan rumah yang damai, maka ia harus memperhatikan keadaan rohaninya sendiri. Hubungan yang baik dengan keluarga merupakan bagian penting dari kehidupan seorang mukmin. Sebab terkadang kita sibuk meminta pasangan berubah, tetapi lupa bertanya:
“Apa yang sudah aku ubah dari diriku?”
Kita ingin pasangan memahami kita, tetapi apakah kita sudah berusaha memahami pasangan? Kita ingin dimaafkan, tetapi apakah kita mudah memaafkan? Kita ingin pasangan berbicara lembut, tetapi apakah lisan kita sudah lembut?
Dan yang paling penting:
Apakah kita sudah membawa Allah ke dalam persoalan rumah tangga kita?
Ketika marah, beristighfarlah. Ketika kecewa, berdoalah. Ketika pasangan melakukan kesalahan, ingatlah bahwa kita pun memiliki kekurangan yang suatu hari mungkin membutuhkan pengampunan.
Jangan menghitung kesalahan pasangan satu per satu. Hitunglah berapa banyak kebaikan yang selama ini telah Allah izinkan kita terima melalui dirinya.
Jangan biarkan satu kekurangan menghapus seribu kebaikan. Jangan biarkan satu pertengkaran menghapus bertahun-tahun perjuangan bersama. Dan jangan biarkan ego menjadi lebih besar daripada kasih sayang.
Rumah tangga yang diberkati bukan rumah tangga yang tidak pernah bertengkar. Tetapi rumah tangga yang ketika pertengkaran datang, keduanya tahu ke mana harus kembali: kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan para suami sebagai pelindung yang penuh kasih. Menjadikan para istri sebagai sumber ketenangan dan kasih sayang. Menjadikan anak-anak sebagai saksi bahwa ayah dan ibunya saling menghormati.
Dan menjadikan setiap rumah kita sebagai tempat di mana nama Allah disebut, doa dipanjatkan, kesalahan dimaafkan, dan cinta dipelihara.
Jangan beri setan ruang di antara kita.
Kalau ada masalah, selesaikan. Kalau ada salah, maafkan. Kalau ada luka, obati. Kalau ada jarak, dekatkan kembali. Karena pada akhirnya, yang kita perjuangkan bukan sekadar mempertahankan sebuah pernikahan, tetapi membangun sebuah rumah yang Allah ridai.
Terakhir perbanyaklah doa pada Allah.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, jika di antara kami ada hati yang sedang terluka, lembutkanlah ia. Jika ada hati yang sedang keras, lunakkanlah ia. Jika ada kemarahan, gantikanlah dengan kesabaran.
Jika ada kesalahpahaman, bukakanlah jalan untuk saling memahami. Jika ada kesalahan, berikanlah kami kerendahan hati untuk meminta maaf dan keluasan hati untuk memaafkan.
Ya Allah, jangan biarkan ego kami lebih besar daripada cinta yang telah Engkau titipkan di antara kami. Jangan biarkan satu perkataan menghancurkan kasih sayang yang telah dibangun bertahun-tahun. Jangan biarkan satu kesalahan membuat kami melupakan begitu banyak kebaikan. Jangan biarkan bisikan setan menanam kebencian di dalam hati kami.
Ya Allah, jauhkanlah rumah kami dari pertengkaran yang sia-sia, prasangka buruk, amarah, dendam, kebohongan, dan segala sesuatu yang dapat menjauhkan kami satu sama lain serta menjauhkan kami dari-Mu.
Ajarkanlah kami untuk berbicara dengan kelembutan. Ajarkanlah kami untuk mendengar tanpa menghakimi. Ajarkanlah kami untuk mengalah ketika mengalah itu membawa kedamaian. Ajarkanlah kami untuk meminta maaf tanpa merasa hina.
Dan ajarkanlah kami untuk memaafkan tanpa terus mengungkit kesalahan yang telah berlalu.
Ya Allah, jadikanlah suami dan istri sebagai pakaian satu sama lain. Tutupilah kekurangan kami. Jagalah kehormatan kami. Hangatkan hati kami ketika kehidupan terasa berat. Kuatkan kami ketika salah satu dari kami sedang lemah. Dan jadikanlah kami pasangan yang bukan hanya saling mencintai di dunia, tetapi juga saling menuntun menuju keridhaan-Mu.
Ya Allah, jika suatu hari kami lupa mengapa kami menikah, ingatkanlah kami. Jika kami mulai melihat kekurangan satu sama lain, bukakanlah mata kami untuk melihat kebaikan yang selama ini kami terima. Jika kami mulai merasa ingin menyerah, berikanlah kami hikmah untuk mengetahui apakah yang kami perlukan bukan perpisahan, tetapi kesabaran, doa, komunikasi, dan usaha untuk memperbaiki diri.
Ya Allah, berkahilah rumah-rumah kami. Jadikan rumah kami tempat ketenangan. Jadikan percakapan kami penuh kasih sayang. Jadikan rezeki kami penuh keberkatan. Jadikan anak-anak kami sumber ketenangan hati. Jadikan ibadah kami hidup. Jadikan doa-doa kami diterima. Dan ketika kami menutup pintu rumah setelah seharian menghadapi dunia, biarkan rumah itu menjadi tempat di mana hati kami merasa aman untuk kembali.
Ya Allah, jangan biarkan setan mendapatkan kemenangan melalui rumah tangga kami. Jika ada jarak, dekatkanlah. Jika ada luka, sembuhkanlah. Jika ada air mata, gantilah dengan ketenangan. Jika ada kebencian, tumbuhkanlah kembali kasih sayang. Dan jika cinta kami mulai melemah, kuatkanlah ia dengan cinta kepada-Mu.
Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a’yunin waj’alnā lil-muttaqīna imāmā.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.” [2]
Āmīn, tsumma ā mīn, Yā Rabbal-’Ālamīn.
Referensi:
[1] HR. Tirmidzi, no. 3895; HR. Ibnu Majah, no. 1977
[2] QS. Al-Furqan 25: 74
Views: 6
