KENAPA HARUS TAKUT DENGAN IDENTITAS SEBAGAI AHMADI?

Memangku identitas sebagai seorang Ahmadi atau pengikut Ahmadiyah perlu menyiapkan diri untuk disikapi berbeda oleh orang lain, meski jika saya masih duduk di bangku sekolah. Mungkin inilah bagian dari yang namanya ujian. Bukankah jalan cinta penuh onak duri?

Nama saya Lisna Naimah. Saya seorang pelajar di salah satu sekolah menengah kejuruan di Sukabumi. Di sekolah, saya satu-satunya Ahmadi. Saya tahu dan sudah menyiapkan diri atas konsekuensi dari identitas saya ini.

Saya tidak pernah menutupi ke-Ahmadiyah-an saya. Karena pada akhirnya, teman-teman dan guru-guru juga pasti akan tahu. Daripada mereka tahu ketika saya tidak siap untuk menjelaskan sesuatu tentang Jemaat, lebih baik saya mempersiapkan diri dan membuka diri untuk orang lain mengenal saya sebagai seorang Ahmadi.

Sejak SD sampai SMP, kebanyakan teman dan guru tahu saya pengikut Ahmadiyah. Saya tak malu. Mungkin awalnya takut dengan asumi “nanti gimana kalau disikapi berbeda dari yang lain?” Tapi pada akhirnya, saya bertanya, buat apa juga harus menghindar?

Saat SD dan SMP, para guru dan teman-teman menerima saya apa adanya. Mereka menghargai dan menghormati keyakinan saya. Meskipun bisa jadi keyakinan tersebut bertabrakan dengan keyakinan yang mereka anut.

Saat masuk SMK. Saya tetap bersikap terbuka. Saya tak lantas mengungkap identitas saya ke teman-teman atau guru. Tapi ketika saya harus mengakui ke-Ahmadiyah-an saya, saya harus siap dengan segala konsekuensinya.

Awal saya masuk SMK, tak seorang pun teman dan guru yang tahu kalau saya seorang Ahmadi. Hingga datanglah satu waktu, ketika saya menghadapi ujian lisan. Saya ditanya oleh seorang bu guru, darimana asal saya?

Saya jawab dengan jujur darimana saya berasal. Dan benar saja, saat saya menjawab raut wajah ibu guru berubah. Lalu ia bertanya lagi ke saya sambil berbisik, “Lisna, kamu Ahmadiyah ya?”

Tanpa ragu saya menjawab, “Iya bu betul.”

Dari situlah kabar tentang ke-Ahmadiyah-an saya menyebar dengan cepat. Guru-guru pun akhirnya tahu semua. Tapi saya tidak menyesal. Bagi saya ini adalah saat membuktikan bahwa seorang Lisna tak berbeda dari kebanyakan siswa di sekolah itu. Saya tetap punya impian yang sama dengan teman-teman tentang masa depan sebagai seorang anak bangsa yang lahir di bumi nusantara ini.

Saya jadi banyak berdoa kepada Allah Ta’ala supaya hal ini tak menjadi hambatan saya untuk menimba ilmu di sekolah. Dan alhamdulillah, kebanyakan guru dan kepala sekolah sendiri tidak merasa terganggu dengan ke-Ahmadiyah-an saya.

Tapi tidak untuk ibu guru yang tadi. Rupanya beliau memang tidak senang dengan Ahmadiyah. Dan ironisnya memperlihatkan ketidak-senangannya itu dalam kelas. Seringkali saya mendengar beliau tengah menyisipkan materi soal Ahmadiyah yang tak ada dalam kurikulum.

Sebagai seorang muslim yang baik, saya selalu meminta waktu kepada ibu guru tadi untuk menjelaskan perihal Ahmadiyah yang dipersepsikan keliru oleh beliau. Seorang muslim punya tanggung jawab meluruskan sesuatu yang keliru, tentu dengan cara-cara yang baik.

Saking ingin mengklarifikasinya, saya minta untuk mengobrol satu menit pun cukup dengan beliau. Tapi beliau malah menjawab, “Maaf Lisna, ibu gak ada waktu.” Atau tanpa jawaban beliau melengos pulang begitu saja, tanpa mau mendengarkan penjelasan dari sisi saya yang merupakan warga Ahmadiyah sendiri.

Tak cuma ibu guru ini yang menaruh perasaan tidak suka kepada Jemaat Ahmadiyah, guru agama saya pun menaruh kebencian yang sama. Saya kadang berpikir, jika upaya mengklarifikasi tidak bisa, lantas apa yang saya harus lakukan agar saya bisa diterima oleh beliau-beliau?

Karena bagi saya, seberapa pun mereka benci kepada saya yang seorang Ahmadi, tapi mereka tetap guru saya, panutan saya, yang harus dihormati dan dicintai. Sebab, saya diajarkan dalam Jemaat Ahmadiyah untuk berlaku “Love for all, hatred for none”, yakni cinta untuk semua kebencian tidak untuk siapapun.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti kegiatan ekstra-kurikuler dan organisasi-organisasi yang ada di sekolah. Saya ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang berbeda dengan seorang Ahmadi di lingkungan sekolah ini. Dan saya juga punya visi-misi yang sama dari apa yang diharapkan sekolah.

Rupanya, keaktifan saya di dalam dan luar kelas ini disambut baik oleh para guru, terutama juga mereka yang menaruh sikap yang berbeda kepada saya. Alhamdulillah, sikap mereka jadi lebih baik dan lebih menghargai saya sebagai seorang Ahmadi.

Saya sangat bersyukur sekali kepada Allah Ta’ala yang telah mengabulkan doa-doa saya selama ini. Dia telah membolak-balikan hati dan fikiran bapak-ibu guru, sehingga kini mereka bisa menerima saya sebagai siswanya lagi, sama seperti kepada siswa-siswa yang lain.

Semoga tulisan ini bisa memotivasi para pelajar Ahmadi di seluruh nusantara agar tetap bangga dengan identitasnya sebagai seorang Ahmadi. Kita tak perlu takut dikucilkan. Tak perlu takut diperlakukan berbeda. Karena kita punya Allah Ta’ala yang mampu membolak-balikan hati manusia.

.

.

.

Penulis: Lisna Naimah

Editor: Muhammad Nurdin

Hits: 301

Lisna Naimah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *