ETIKA BERGAUL: LANDASAN DALAM MENCARI SAHABAT SEJATI
Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan menggelapkan hati.” [1]
Maksud beliau adalah hanya memandang orang saleh hati seseorang bisa kembali tegar. Tak heran jika orang-orang saleh zaman dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka akan mendatangi orang-orang saleh lainnya.
Hadhrat Rasulullah saw. bersabda:
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” [2]
Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan karena pengaruh teman yang salah. tetapi tidak sedikit juga orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang saleh.
Hidup ini tidak bisa dipercaya, satu hari datang satu hari untuk pergi. Tidak tahu akan mati, ilmu terdapat di dalam diri manusia yang kuat. Selebihnya terdapat kebimbangan dan keraguan. Kuman-kuman adat kebiasaan seperti kotoran pada mangkuk melekat dalam diri manusia. Obat satu-satunya hanyalah:
“Kuunuu ma’ash shaadiqiin.” (Bergaullah bersama orang-orang yang benar) [3]
Kapan saja Allah Ta’ala membangkitkan para nabi, maka orang-orang yang mengimaninya merupakan para penegak standar ketakwaan yang tinggi. Standar ini senantiasa tegak dan menonjol hingga tampak pada dunia. Perubahan ini akibat upaya menciptakan perubahan suci di dalam dirinya yang diraih karena kedekatan pada nabi dengan bantuan Allah Ta’ala dan karunia-Nya sehingga menjadi orang-orang yang saleh. Kemudian selanjutnya mereka menjadi pembimbing bagi banyak orang.
Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda, bahwa berkah ini tidak akan terhenti, akan aktif terus menerus. Kalau tidak, maka makna yang terdapat dalam ayat وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (jadilah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang saleh) maksudnya menjadi hilang. Jika amal ini terhenti maka perintahnya hanya akan menjadi kisah sejarah belaka.
Timbullah pertanyaan, siapakah shadiq itu? Mereka adalah yang akan bersama kami lalu kami. meraih karunia-karunia Allah Ta’ala. Jadi kata-kata ma’rifat ini diketahui lewat perantaraan pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw. (Hadhrat Masih Mau’ud as.). Kekuatan daya pensuciannya telah menyiapkan sebuah laskar orang-orang yang saleh, kerohaniannya sedemikian maju sehingga meraih martabat para sahabat.
Kini setelah kalian tinggal dalam jamaah pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw., lalu meraih berkah ilmu-ilmu dan ma’rifat Al-Qur’an maka kalian dapat terhitung dalam kelompok orang-orang yang saleh/jujur. Perintah tinggallah kamu dengan orang-orang yang saleh, timbul rasa khawatir dalam diri yang seyogyanya memang hendaknya kita sendiri harus menjadi orang yang saleh/jujur.
Saudara-saudara yang telah bergabung dalam jamaah imam zaman ini, hendaknya ciptakanlah perubahan suci dalam diri, jadilah diri sendiri menjadi penyebab penyuluh jalan bagi orang-orang lain, jangan sampai jauh dari ajaran lalu jatuh dalam lubang kesesatan. Allah jelas akan terus mengirim hamba-hamba-Nya yang saleh untuk menegakkan dunia di atas petunjuk.
Kita seyogianya senantiasa tunduk pada-Nya, taat, memohon supaya terhitung sebagai orang-orang yang saleh dan terus terikat dengannya. Terus menyatu dengan imam zaman, menjadi orang-orang yang meraih karunia dari ajaran-ajarannya dan menjadi pencipta perubahan ruhani serta menjadi faktor petunjuk bagi orang-orang. Jangan cenderung tunduk pada dunia yang lama kelamaan makin jauh dari agama sehingga setan melakukan penyerangan pada kita.
Setan mula-mula mengiming-imingi untuk melakukan dosa, tatkala melakukan dosa lalu ditinggalkannya. Oleh karena itu melangkahlah dengan penuh kehati-hatian dalam hidup ini; senantiasalah tunduk pada Allah Ta’ala dan memohon doa pada-Nya.
Di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman:
“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari berdzikir pada Allah setelah datang kepadaku dan syaitan memang meninggalkan manusia tanpa penolong.” [3]
Agar terhindar dari setan harus memberikan perhatian pada perbaikan diri kita sendiri; terus memberikan perhatian pada peningkatan ketinggian keruhanian. Oleh karena itu, seyogiannya kita senantiasa membaca buku-buku beliau (Hadhrat Masih Mau’ud as.). Hal ini pun termasuk dalam kategori pergaulan dengan orang-orang yang saleh, yakni mengambil faedah dari ilmu kalam beliau.
Hadhrat Muslih Mau’ud ra. Berkaitan dengan ini bersabda:
“Sesudah itu Allah menyebut faktor-faktor dan sebab-sebab kehancuran manusia lalu terus jatuh dalam lubang kesesatan adalah akibat pergaulan bebas/kotor. Dia akan bangga tentang pergaulan dengan kawan-kawannya, tetapi apabila dia terperosok dalam malapetaka maka dengan sendirinya mereka mengucapkan:
يا ليتنى لم اتخذ فلانا خليلا
–yaa laitani lam attakhidh fulaanan khaliila –hai kiranya saya tidak menjadikan si fulan sebagai teman. Dia telah menyesatkan saya.
Pada hakikatnya manusia tidak mungkin tidak terpengaruh dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu perlu memilih orang-orang yang berakhlak luhur dan bertujuan luhur, agar dapat menjauhkan segenap kekurangan-kekurangan yang lama kelamaan akan membawa langkahnya ke arah keluhuran-keluhuran akhlak. Sebaiknya jika memilih kawan-kawan yang jahat, maka tidak akan pernah membawa pada jalan yang benar, bahkan akan mendorong pada akhlak yang rendah.
Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairah ra. Bahwa Hadhrat Rasulullah saw. Bersabda:
“Manusia berada pada agama kawannya.”
Yakni, pengaruh akhlak kawannya berpengaruh pada manusia. Oleh sebab itu berpikirlah dengan siapa harus berkawan.
Sunan Abi Daud dalam kitabul adab menyebutkan:
“Man yu’maraan majalis.” Kedua orang tua senantiasa harus memberikan pengawasan padahal itu dan pengawasan hendaknya jangan dilakukan dengan kekerasan. Anak-anak harus dilakukan tanpa formalitas atau dibuat-buat.
Lingkungan masyarakat Eropa dewasa ini yang terdapat pengaruh kekuatan-kekuatan dajal, serangan-serangan setan; itu telah terjadi di mana-mana akibat tersedianya sarana-sarana kemudahan dalam komunikasi, untuk menghadapi serangan-serangan setan itu kedua orang tua harus menciptakan lingkungan yang bersahabat dengan anak-anak. Mereka pertama-tama harus menunjukkan kelembutan, sesudahnya menjadi lebih tegas.
Tidak ada paradigma bahwa dengan anak-anak pun dapat diciptakan persahabatan. Oleh karena itu sepatutnya kepada mereka ditanamkan kesadaran dengan menciptakan lingkungan persahabatan ini sehingga dapat ditanamkan mana yang buruk dan baik. Dengan demikian anak-anak dari masa kanak-kanak sudah mengetahui sampai saat remaja pun akhirnya paham.
Ada lagi setelah sampai di suatu umur tertentu kedua orang tua enggan untuk berbicara dengan anak-anaknya, ini juga merupakan sebuah kekeliruan. Untuk membawa mereka kepada agama, menciptakan dalam diri mereka pentingnya agama harus terjalin dalam dalam diri mereka sebuah ikatan dengan Tuhan. Oleh karenanya kedua orang tua di samping mendoakan mereka juga harus melakukan upaya-upaya keras. Pekerjaan ini tidak akan berhasil selama kedua orang tua tidak terhitung dalam kelompok orang-orang yang saleh.
Pada zaman sekarang, pergaulan yang diharapkan adalah pergaulan yang bernilai positif, membangun dan saling membawa kebaikan serta kemanfaatan bagi kita ke depannya. Oleh sebab itu kita dituntut untuk selalu bergaul dengan seseorang yang memiliki akhlak yang baik. Dalam kitab Talim Mutaalim, Syaikh al-Zarnuji menganjurkan untuk memilih teman yang memiliki kepribadian baik, tekun, wara, jujur, pandai dan menghindari teman yang memiliki kepribadian yang buruk, pemalas, kikir, banyak bicara, suka fitnah dan suka berbuat kerusakan. Hal ini akan berdampak terhadap perkembangan sosial remaja ke arah positif. Sikap yang dibawa oleh teman akan saling mempengaruhi satu sama lain.
Fenomena yang terjadi sekarang sangat memprihatinkan di kalangan remaja, terutama pergaulan bebas tanpa adanya batasan antara lawan jenis yang makin dinormalisasi. Pergaulan bebas di kalangan remaja memiliki dampak yang signifikan, baik dari segi psikologis, kesehatan fisik, hubungan sosial, pendidikan maupun hubungan antar personal. [5]
Referensi:
[1] Siyar A’lam An-Nubala 8: 445
[2] HR. Abu Daud
[3] QS. At-Taubah 9: 119
[4] QS. Al- Furqan 25: 29-30
[5] https//share.google/BY3KvuEUavvQdWPvc, Pentingnya Bergaul dengan Orang-orang yang Benar
Views: 9
