MENCINTAI MUBALIGH: JALAN MERAWAT KEIMANAN UNTUK ANAK KETURUNAN

Kisah berikut ini adalah bagian kedua dari tulisan yang berjudul “SEJUMPUT KENANGAN BERHARGA: MASJID PETOJO UDIK DAN KHARISMA TUAN UTUSAN”.

Pada bagian kedua ini, ada sesuatu yang mengelitik saya untuk bertanya sesuatu kepada Ny. Aisah Bermawi. Mengapa dari antara anak-anak Bapak Acep Bermawi, hanya anak keturunan dari Ny. Aisah yang hingga lima generasi kuat dalam Kejemaataannya?

Wanita 90 tahun yang biasa disapa Ibu Ngenget itu tersenyum sejenak. Dari balik matanya, beliau mulai membuka kembali arsip-arsip perjalanan hidupnya dulu, yang masih terawat tak termakan usia. Beliau mengatakan, mungkin ini adalah karunia Tuhan, sebab tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini.

Memang terlihat ajaib jalan hidup Ny. Aisah Bermawi. Mempunyai suami yang berlatar belakang Katolik yang taat. Hidup mengembara di berbagai negara sebagai diplomat. Anak-anaknya tumbuh dan berkembang di negeri orang.

Iftikhar Ahmad, seorang Khadim yang biasa disapa Iki pernah bercerita ke saya. Iki pernah bertanya kepada ayahnya Bapak Erwin Buditobias, yang kini mendapat amanat sebagai seorang Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia, “Pah, dulu belajar Jemaat sejak kapan?”

Ayahnya menjawab bahwa beliau baru belajar Jemaat saat sang Ayah, Bapak Abdullah Daud Ngenget, pensiun dan kembali ke tanah air sekitar tahun 1972. Masa-masa pensiun inilah yang dianggap Ibu Ngenget sebagai turunnya karunia Allah Ta’ala kepada keluarga mereka.

Saat pensiun, anak-anak yang berjumlah lima orang itu masih sekolah. Untuk menghidupi keluarga dan untuk memenuhi pendidikan anak-anak, uang pensiun sangat terbatas. Tapi kata Ibu Ngenget, kami tak pernah yang namanya enggak makan. Bahkan anak-anak pun bisa sekolah hingga sarjana.

Saya mencoba untuk menggali lebih dalam. Sebab bukan perkara mudah merawat keimanan anak keturunan untuk terus aktif di Jemaat dalam situasi dimana keluarga Bapak Ngenget yang terus menerus pindah, dari negara satu ke negara yang lain, dan tidak terjadi kontak sama sekali dengan Jemaat saat itu.

Hingga akhirnya, saya menemukan jawabannya. Beliau akhirnya membuka kembali arsip-arsip kehidupan orang tuanya dulu, ketika Jemaat baru lahir di Batavia. Puzzle-puzzle itu mulai tersusun dan menjadi sebuah jawaban pasti atas rasa penasaran saya tentang itu.

Bapak Acep Bermawi bekerja di dinas tata ruang Belanda sebagai Kepala Pengawas Bangunan. Ruang lingkup pekerjaannya hingga sampai ke Kota. Sering, Ibu Ngenget mengenang, ayah beliau dikirimi banyak sekali bahan makanan, mulai dari ikan hingga buah-buahan.

Satu hal yang selalu dilakukan oleh kedua orang tuanya adalah menyeleksi buah-buahan yang terbaik untuk di antar kepada Tuan Utusan, yakni Maulvi Rahmat Ali HAOT. Kedua orang tua Ibu Ngenget begitu mencintai dan menghormati mubaligh. Hingga ketika ada rezeki lebih kedua orang tuanya selalu mengutamakan mubaligh agar mendapatkan manfaat dari rezeki tersebut.

Ibunda Ny. Aisah juga demikian teliti dengan yang namanya candah. Beliau menghitung benar-benar berapa yang harus dikeluarkan untuk diberikan kepada Jemaat.

Hingga akhirnya, Ibu Ngenget mengambil satu kesimpulan bahwa apa yang terjadi dalam perjalanan hidupnya hari ini, sebenarnya itu adalah buah dari tanaman yang telah ditanam orang tuanya dulu yang bernama “pengorbanan”. Pengorbanan itulah yang kini tengah dirasakan oleh anak-anak keturunan Bapak Acep Bermawi.

Tuhan memang tidak sedang bermain dadu. Dia tengah menyiapkan satu skenario menakjubkan untuk keluarga Ibu Ngenget. Sebuah jalan cerita yang tak pernah mereka sangka-sangka. Mereka menjalaninya seperti air yang mengalir jernih di kali Cisadane dulu. Dan rupanya, Tuhan tak mau tinggal diam untuk menjalankan skenario-Nya.

Sebelum Bapak Ngenget kembali ke tanah air karena pensiun. Beliau sudah membeli sebidang tanah yang letaknya tak jauh dari Masjid Jemaat Kebayoran yang sekarang. Pada tahun-tahun itu, pusat kegiatan Jemaat di Jakarta Selatan masih berlangsung di rumah Bapak Abdurrahman Ahmadi di Jl. Senopati Blok R, Kebayoran Baru, sejak tahun 1950-an.

Hingga pada tahun 1962, Bapak Abdurrahman pindah ke Kebayoran Lama, dimana pusat kegiatan pun dipindahkan di rumah beliau. Dibuatlah masjid di rumah beliau. Dan pada tahun 1972 masjid dipindahkan ke rumah Ibu Sukmi Basuni, yang merupakan Bibi dari Ibu Ngenget, dimana rumah tersebut telah dihibahkan untuk Jemaat. Di atas tanah inilah, Masjid Jemaat Kebayoran yang sekarang berdiri.

Di tahun yang sama dengan pindahnya Masjid Kebayoran datanglah keluarga Bapak Ngenget yang tinggal hanya 50 meter dari Masjid. Tentu bukan satu kebetulan, meski Ibu Ngenget juga tak menyangka akan tinggal dekat masjid Jemaat lagi. Tapi baginya, itu adalah skenario yang tengah Dia jalankan.

Dari situlah keluarga Ibu Ngenget mulai kembali dekat dengan Jemaat. Anak-anak mulai belajar tentang Jemaat. Kecintaan itu terus tumbuh dan berkembang. Dalam sebuah lingkungan Jemaat, yang pada akhirnya membentuk Kejemaatan mereka menjadi seperti sekarang ini.

Meskipun berlatar belakang Katolik, Bapak Ngenget merupakan Katolik yang taat. Hingga warna ketaatannya terbawa dalam kehidupannya sebagai seorang Ahmadi.

Iki pernah bercerita bahwa yang spesial dari kakek-neneknya adalah keduanya bukan tipikal yang gemar menasehati. Mereka lebih suka mencontohkan. Itulah juga yang diteruskan oleh anak-anak Ibu Ngenget.

Dan tradisi mengkhidmati seorang mubaligh terus dilestarikan oleh Ibu Ngenget juga anak keturunannya. Sebab inilah yang menjadi penolong di tengah keadaan yang tak memungkinan untuk dekat dengan Jemaat sebelum masa pensiun itu.

Iki juga pernah menceritakan tentang ayahnya, Bapak Erwin Buditobias. Bahwa kebiasaan mengkhidmati seorang mubaligh juga diteruskan oleh ayahnya. Beberapa contoh ia ceritakan kepada saya. Dan  ayahnya juga bukan tipe yang gemar menasehati anak-anaknya. Ayahnya lebih suka mencontohkan. Sebab contoh adalah sebaik-baik nasehat, meski tanpa suara yang paling lembut sekalipun.

Dan saya pun akhirnya tahu dan paham mengapa tradisi mencintai mubaligh tak bisa dilepaskan oleh Ibu Ngenget. Selesai wawancara dengan beliau, saya pun pamit. Ibu Ngenget masuk ke dalam kamarnya. Tak lama, beliau keluar lagi sambil menggenggam secarik kertas berwarna putih yang mirip dengan amplop. Saat saya hendak salam pamit dengan tetap memakai protokol kesehatan, Ibu Ngenget menyodorkan kertas tersebut sambil mengatakan, “Ini hanya meneruskan tradisi orang tua.”

Secarik amplop ditambah satu kresek besar buah manggis untuk dibawa pulang merupakan ungkapan kecintaan wanita 90 tahun itu kepada seorang mubaligh. Saya bisa menangkap pesan cinta itu dari balik matanya yang berbalut kacamata.

Ibu Mia, anak keempat Ibu Ngenget yang merupakan istri dari Bapak Ekky O. Sabandi, yang kebetulan sedang di Jakarta tak ketinggalan ikut memberikan oleh-oleh berupa pempek siap goreng khas Jambi.

Saya sendiri telah menyaksikan demikian banyak para Ahmadi yang memiliki kecintaan serupa kepada mubaligh. Seolah-olah, hal itu menjadi sarana untuk meraih berkat Allah Ta’ala dalam bentuk mengkhidmati para mubaligh sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

.

.

.

Penutur: Ny. Aisah Bermawi

Penulis: Muhammad Nurdin

Hits: 29

Writer | Website

Sab neki ki jarh taqwa he, agar yeh jarh rahi sab kuch raha ~ Akar dari semua kebaikan adalah takwa, jika ini ada maka semua ada.

8 thoughts on “MENCINTAI MUBALIGH: JALAN MERAWAT KEIMANAN UNTUK ANAK KETURUNAN

  1. Masha Allah,, semoga kelak anak keturunan saya pun bisa belajar arti pengkhidmatan, pengorbanan dan tetao terjaga silsilah kejemaatannya. Aamiin YRA

  2. Semoga para Ahmadi bisa meneladani sifat2 baik dari para Beliau dlm mengkhidmati para Mubaligh yg adalah para Utusan Khalifah. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *