Rida Allah Ta’ala: Puncak Segala Tujuan

Seringkali kita terjebak dalam rutinitas. Kita menghitung keuntungan duniawi, padahal keuntungan sejati hanya ada pada saat setiap ucapan, perbuatan, dan keputusan kita kembalikan pada satu kompas utama, yaitu meraih keridaan-Nya.

 

Rida Allah Ta’ala adalah keadaan di mana Allah Ta’ala rela, rida, dan menerima seorang hamba dengan limpahan kasih sayang serta keberkahan-Nya.

 

Tidak ada yang lebih mulia dan lebih besar daripada keridaan Allah Ta’ala, karena keridaan-Nya merupakan karunia besar bagi orang-orang muslim yang sadar akan keislamannya. Jika seorang muslim benar-benar memahami urgensi keridaan Allah Ta’ala, niscaya hatinya bergetar dan ia akan berusaha sekuat tenaga agar Allah Ta’ala rida kepadanya. Keridaan-Nya adalah cita-cita dan harapan tertinggi bagi seorang muslim; bahkan hal ini merupakan tujuan utama kehidupan manusia.

 

Betapa agungnya hal ini tergambar dalam diri Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ketika beliau diperintahkan untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail ‘alaihissalam. Tanpa banyak bertanya, Ibrahim dan Ismail sama-sama berserah diri semata-mata untuk meraih rida Allah Ta’ala, meskipun secara naluri kemanusiaan itu adalah ujian terberat. Ketika pisau sudah dihujamkan, Allah Ta’ala menggantinya dengan seekor domba. Kisah ini mengajarkan bahwa ketika rida Allah Ta’ala menjadi tujuan, maka ujian seberat apa pun akan terasa ringan, karena Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan hamba-Nya.

 

Allah Ta’ala pun telah berjanji kepada umat-Nya yang selalu berusaha meraih keridaan-Nya, sebagaimana firman-Nya:

 

“Dan Keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.”

(QS. At-Taubah: 72)

 

Berdasarkan tafsir surat At-Taubah ayat 72 dijelaskan bahwa, “rida Allah Ta’ala kepada hamba-Nya di akhirat jauh lebih agung dan bernilai daripada seluruh kemewahan fisik surga, dan keberhasilan mendapatkan rida-Nya merupakan puncak kebahagiaan serta kemenangan yang paling besar bagi manusia.”

 

Lalu, bagaimana cara kita untuk meraih keridaan-Nya? Langkah kita adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, mengimani rukun Islam dan rukun iman, ikhlas dalam beramal, serta sabar dalam menerima setiap ketentuan dan takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan.

 

Dalam hal kesabaran, kita memiliki teladan agung dari Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Beliau kehilangan harta, anak-anak, dan menderita sakit parah selama bertahun-tahun, namun ia tidak pernah mengeluh kepada manusia. Istri dan orang di sekitarnya mungkin bertanya, “Di mana balasan atas ibadahmu?” Namun Nabi Ayyub justru tetap berzikir dan memohon kepada Allah Ta’ala, semata-mata karena rida-Nya. Di akhir cobaan, Allah Ta’ala memulihkan kesehatannya dan menggandakan hartanya. Ini membuktikan bahwa orang yang bersabar demi rida Allah Ta’ala akan mendapatkan ganti yang jauh lebih baik.

 

Karena hidup adalah rangkaian pilihan. Setiap hari kita berbicara, bertindak, dan mengambil keputusan. Ketika kita menjadikan keridaan Allah Ta’ala sebagai tujuan utama, maka seluruh aktivitas hidup berubah nilai menjadi ibadah dan mendatangkan kedamaian.

 

Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Hz. Khalifatul Masih V atba pada sesi Lajnah Jalsah Salanah UK Tahun 2026, beliau menyampaikan bahwa:

 

“Setiap perbuatan, setiap ucapan dan setiap keputusan hendaknya dipandu oleh keinginan untuk meraih keridhaan-Nya.”

(Hz. Khalifatul Masih V atba)

 

Oleh karena itu, bagi seorang muslim hendaknya terus berusaha untuk meniti keridaan-Nya, karena keridaan Allah Ta’ala adalah puncak pencapaian tertinggi dalam kehidupan. Ketika seluruh elemen hidup—mulai dari tindakan, tutur kata, hingga pilihan—digerakkan hanya untuk mencari keridaan-Nya, maka aktivitas duniawi berubah menjadi bernilai ibadah.

 

Dengan menjadikan keridaan Allah Ta’ala sebagai pemandu utama dalam ucapan, perbuatan, dan keputusan, itulah esensi penghambaan yang sejati. Di saat kita sibuk mencari rida-Nya, Allah Ta’ala akan mencukupkan kebutuhan kita dan menganugerahkan kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan materi. Sebab, sebaik-baik jalan adalah jalan yang berujung pada keridaan-Nya, dan sebaik-baik puncak adalah puncak yang ditempuh dengan langkah-langkah yang diridai-Nya.

 

—

Referensi:

(1) QS. At-Taubah: 72

(2) Sabda Hz. Khalifatul Masih V pada sesi Lajnah Jalsah UK 2026.

 

Views: 45

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *