SANG KAKEK TUA YANG MEMBUKA HATI SEORANG GURU BESAR UNTUK BAI’AT

Salah seorang Guru Besar dari Universitas Islam Negeri Bandung pernah mengadakan penelitian untuk disertasi S3nya di Desa Manislor, kampung Ahmadiyah di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Segala hal tentang kehidupan warga Ahmadiyah beliau gali. Setiap sendi keyakinannya pun tak luput dari penelitiannya.

Beliau sangat senang dengan sambutan hangat dari warga Ahmadiyah Manislor. Pengkhidmatan terhadap tamunya demikian membekas.

Hingga pada tahun 2016, beliau membawa rombongan mahasiswanya untuk ikut melihat langsung kehidupan warga Ahmadiyah di desa Manislor dalam acara “Live in”.

Sang Guru Besar paham betul soal Ahmadiyah. Tak sedikit penerimaannya tentang akidah-akidah Ahmadiyah yang dianggap berseberangan dengan mainstream umat Islam.

Beliau pun tak pernah berpikiran nanti para mahasiswanya masuk Ahmadiyah karena terlalu dalam mempelajari Ahmadiyah. Baginya, ruang intelektual selalu terbuka untuk semua golongan.

Dalam program “Live in”, salah satu mata acaranya adalah keliling halqah-halqah di Jemaat Ahmadiyah Manislor. Karena setiap halqah mempunyai masjid-masjidnya sendiri.

Ketika berkeliling, sang guru besar bertemu seorang kakek tua yang tengah menjemur padinya. Seperti biasa, beliau dan para mahasiswanya selalu menyapa dan berbincang sesaat dengan warga yang ditemui.

Obrolanpun tak tentu arah. Mulai dari bercerita tentang aktivitas keseharian sampai dengan kenangan pahit saat penyerangan dulu. Hingga sang guru besar mengajukan satu pertanyaan yang mengejutkan banyak orang.

Pak, seandainya cabang ini diserang massa lagi, bapak mau pilih mana: mencari keselamatan walaupun harus keluar dari Ahmadiyah, atau tetap teguh pada keimanan walaupun nyawa taruhannya?”

Sang guru besar tak pernah tahu bahwa pertanyaan inilah yang membuka satu jalan baru baginya untuk memberikan tempat selebar-lebarnya kepada Jemaat Ahmadiyah di kedalaman kalbunya.

Kakek tua itu terlihat menghela nafas. Matanya seolah hendak menyampaikan sebuah pesan penting yang bersumber dari kedalaman batinnya.

Tentu ia tak bisa memberikan dalil apapun untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi ia hendak memberikan jantung kehidupannya di balik lidahnya yang demikian kental dengan bahasa Sunda.

Kanggo abdimah Ahmadiyah tos sakulit sadaging, iwal ti kamatian nu misahkuen kayakinan abdi. Jadi mun aya penyerangan deui dipiwarang milih, nya tos pasti abdi milih kayakinan. Abdi moal sien ku manusia wios nyawa taruhanana.

yang artinya, buat saya mah Ahmadiyah itu sudah sekulit-sedaging, kecuali kematian yang pisahkan kematian saya. Jadi kalau ada penyerangan lagi, lalu saya disuruh pilih, ya sudah pasti saya pilih keyakinan. Saya tidak akan pernah takut manusia meski nyawa taruhannya.

Sang guru besar tak menyangka akan mendapat jawaban yang demikian jujur, tulus, dan lahir dari sebuah keteguhan iman yang tak mungkin dibuat-buat.

Mata beliau mulai berkaca-kaca. Ada secercah cahaya iman menembus dan menerangi kedalaman batinnya. Tak kuasa menahan pendalaman batin yang demikian menyayat-nyayat nuraninya, beliau pun mulai menangis haru.

Jawaban sang kakek sangat tidak ilmiah dalam dunia akademis. Tapi terkadang, itulah yang butuhkan ketika berbicara soal iman. Karena jawaban tersebut tak mungkin lahir dari proses akademis atau taklim yang panjang dan mendalam.

Jawaban tersebut lahir dari sebuah proses panjang tentang arti pengorbanan, keikhlasan juga perjuangan menjadi seorang Ahmadi. Harus siap menghadapi setiap pengorbanan yang Allah Ta’ala berikan. Harus ikhlas memberikan yang terbaik yang dimiliki untuk dipersembahkan di jalan agama.

Dan rupanya. Jawaban sederhana inilah yang membuka pintu hati sang guru besar untuk menerima kebenaran Jemaat Ahmadiyah.

Tak lama setelahnya, sang guru besar bai’at masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah di markas Ahmadiyah di Parung, Bogor.

Sebuah pesan yang teramat dalam yang telah dizahirkan oleh sang kakek, yang hingga kini belum terungkap siapa di balik sosok tersebut, bahwa dalil terbesar yang dimiliki setiap Ahmadi adalah dirinya sendiri.

Sudah sampai di titik mana kita menjadi seorang Ahmadi? Bukankah setiap Ahmadi dituntut untuk siap mengorbankan jiwa, raga, harta, waktu dan kehormatannya untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa?

Sudah sampai di titik mana kita?

.

.

.

edito: Muhammad Nurdin

Hits: 7

Uminah Dimyati

3 thoughts on “SANG KAKEK TUA YANG MEMBUKA HATI SEORANG GURU BESAR UNTUK BAI’AT

  1. Assalamualaikum Allhdulillah Mubarak bu Uminah tulisannya bagus dan terkesan sekan menguatkan kita rasa syukur kita menjadi Ahmadi serta menguatkan kita semuanya sejauh mana pengorbanan dan ketulusan keikhlasan untuk mengorbankan harta jiwa dan kehormatan untuk kepentingan Agama dan bangsa . Mubarak atas karunia-Nya (Allah) tulisan menjadi Inspirasi Tabligh tidak selamanya dengan bukan dengan dalil tapi tapi ketulusan hati yang bersih untuk keimanan

  2. Jazakumullah ahanal jaza atas tulisannya … Bisa kami jadikan penguat arsenal tabligh kami … Kpd yg kami tablighi online.
    Akan kami sharekan kpd kyai dan Prof teman kami yg ngajar di pasca sarjana itb… InsyaAllah Ta’ala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *