SEPERTIGA MALAM RAMADAN: WAKTU YANG PALING ISTIMEWA
Di tengah lelahnya aktivitas seharian, pernahkah terlintas keinginan untuk memiliki waktu khusus hanya antara kita dan Allah? Tahajud adalah jawaban itu.
Tahajud, salat sunnah di sepertiga malam terakhir, adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Hadhrat Rasulullah saw. sendiri sangat menekankan pentingnya tahajud sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra., periwayat hadits terkenal yang juga merupakan putra dari Sayyidina Umar bin Khattab ra., beliau berkata, “Sudah menjadi kebiasaan seseorang pada masa hidup Nabi saw. bila bermimpi, biasanya dia menceritakannya kepada Rasulullah saw. Aku pun berharap bermimpi hingga aku dapat menceritakannya kepada Rasulullah saw. Ketika itu aku masih remaja. Pada suatu hari di zaman Rasulullah saw, aku tidur di masjid lalu bermimpi ada dua malaikat memegangku, lalu membawaku ke dalam neraka. Aku melihat neraka yang ternyata adalah lubang besar bagaikan lubang sumur (jurang). Neraka itu memiliki dua anjung dan aku melihat di dalamnya ada orang-orang yang sebelumnya aku sudah mengenal mereka. Dengan melihat mereka, membuat aku berkata: “A’udzubillahi minannaar (Aku berlindung kepada Allah dari neraka).” Kemudian kami berjumpa dengan malaikat lain lalu dia berkata kepadaku: “Janganlah kamu takut.” Kemudian aku ceritakan mimpiku itu kepada Hafshah (kakak Ibnu Umar), lalu Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah saw. Maka Nabi pun bersabda, “Sungguh Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) adalah seorang yang beruntung (bahagia) bila dia mendirikan salat malam.” Setelah peristiwa itu, Ibnu Umar tidak tidur malam kecuali sedikit. [1]
Sejak itulah Ibnu Umar tidak pernah meninggalkan salat tahajud sampai akhir hayatnya. Beliau selalu menghabiskan waktu malam dengan salat dan menangis di hadapan Allah Ta’ala. [2]
Hadhrat Rasulullah saw. sangat menekankan pentingnya tahajud sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dalam hadits riwayat Muslim, beliau bersabda, “Bersemangatlah untuk hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan Allah, dan jangan lemah!”
Tahajud bukan hanya sekedar salat, tapi juga merupakan waktu untuk bermunajat, berdo’a dan meminta ampunan kepada Allah. Di tengah kesibukan sehari-hari, tahajud menjadi kesempatan emas untuk mereset diri, memohon petunjuk dan meningkatkan keimanan. Dengan semangat yang kuat, kita bisa meninggalkan kenyamanan tidur dan bangun di sepertiga malam untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.
Hadits di atas mengingatkan kita untuk tidak lemah dan selalu meminta pertolongan Allah Ta’ala dalam setiap usaha kita. Selain meraih keberkatan, kita juga menjadi lebih kuat, dan sabar dalam menghadapi tantangan hidup.
Bagaimana cara membangkitkan semangat melaksanakan tahajud? Pertama, mulailah dengan niat yang kuat dan tekad untuk konsisten. Kedua, berdo’a sebelum tidur, agar Allah Ta’ala membangunkan kita di sepertiga malam, jika perlu boleh memasang alarm. Ketiga, persiapkan diri dengan berwudu dan membaca Al-Qur’an sebelum tidur. Keempat, mulai dengan salat tahajud yang ringan, lalu tingkatkan secara bertahap.
Hadhrat Nabi Muhammad saw. melaksanakan salat tahajud dengan beragam cara, terkadang ia melaksanakan empat rakaat sekaligus. Kadang beliau saw. melaksanakan beberapa rakaat secara singkat dengan bacaan pendek, dan kadang beliau memperpanjangnya. Kadang-kadang beliau melakukan beberapa rakaat tahajud lalu tidur, lalu bangun dan setelah berwudhu kembali, beliau melanjutkan salat tahajud.
Untuk salat tahajud, Hadhrat Nabi saw. mengerjakan delapan rakaat yang masing-masing terdiri dari dua rakaat dua rakaat, kemudian salat witir, jadi total sebelas rakaat. Kadang-kadang beliau juga mengerjakan dua kali empat rakaat dan salat witir. Dalam beberapa riwayat disebutkan, Hadhrat Rasulullah saw. terkadang mengerjakan salat tahajud di awal malam, terkadang di tengah malam dan juga di akhir malam. Hadrhat Rasulullah saw. biasa berbaring, memejamkan mata dan tidur sebentar setelah salat tahajud hingga azan subuh dikumandangkan. [3]
Meski awalnya terpaksa dan terkantuk-kantuk, tetaplah laksanakan tahajud. Dengan semangat tahajud yang kuat, kita bisa meraih keberkahan dan ketenangan jiwa. Jangan lupa, untuk selalu meminta pertolongan Allah Ta’ala dan tidak lemah dalam beribadah. Semoga kita menjadi Muslimah yang istiqomah melaksanakan tahajud dan meraih ridha Allah Ta’ala.
Referensi:
[1] Sahih Al-Bukhari, Muslim
[2] https://amanahummat.com/hikmah/sahabat-nabi
[3] Ahmadiyah.id/bagaimana cara mengerjakan tahajud
Views: 36
