JALAN MENUJU SURGA
“Bagi orang-orang yang telah beriman dan baiat kepadaku kepadaku maka hendaklah mereka membiasakan diri mengerjakan shalat lima waktu. Tinggalkanlah dusta dan perbuatan mengambil hak orang lain. Berhentilah bersikap sombong. Hiduplah dengan penuh kasih sayang satu dengan yang lainnya.” (Hadhrat Masih Mau’ud as.)
Jika kita perhatikan dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud as. tersebut ada 5 poin yang dituliskan yaitu:
1. Biasakan salat 5 waktu
2. Tinggalkan dusta
3. Tinggalkan perbuatan mengambil hak orang lain
4. Berhenti bersikap sombong
5. Hidup dengan penuh kasih sayang
Salat 5 waktu merupakan salah satu rukun Islam yang wajib kita laksanakan. Sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala firmankan dalam Surah An-Nisa ayat 103 yang artinya:
“Sesungguhnya salat itu suatu kewajiban bagi orang-orang mukmin yang telah ditentukan waktunya.” [1]
Tidak hanya itu bahkan Hadhrat Masih Mau’ud as. menuliskan dalam 10 syarat bai’at salah satunya adalah dengan sekuat tenaga akan selalu mendirikan salat Tahajud. [2]
Hadhrat Masih Mau’ud as. menulis kepada seorang pengikut beliau bahwa:
“Kalian harus terus mendirikan salat tahajud dan bacalah secara berulang-ulang wirid-wirid (doa-doa) dan tasbih-tasbih yang al-ma’tsurat (yang ada disebutkan oleh Al-Qur’an dan diriwayatkan dari Nabi saw.) berkali-kali dan biasakanlah dengan itu. Ada banyak berkat di dalam tahajud. Rasa malas untuk mendirikannya sungguh tidak bernilai apa-apa. Seseorang yang malas dan suka bersantai-santai tidak akan memperoleh apapun. Allah Ta’ala berfirman: ‘Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulana.’ – “Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah SWT. beserta orang-orang yang berbuat kebaikan.” (29:70) [3]
Dusta bisa disamakan dengan syirik karena dia takut dengan selain Allah, sehingga berani berdusta, orang yang berdusta tidak bisa masuk surga. Sebagian salaf mengatakan bahwa perkataan bohong atau persaksian dusta setara dengan dosa syirik. [4]
Dusta akan membawa ke neraka, hal ini diriwayatkan oleh Hadhrat Abdullah bin Mas’ud ra. bahwa Hadhrat Rasulullah saw. bersabda:
“Kalian diwajibkan untuk selalu jujur karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa kepada surga, dan seseorang yang terus-menerus berkata jujur dan senantiasa berusaha untuk jujur, ia akan dicatat di sisi Allah sebagai Ṣiddīq [orang yang sangat jujur], dan kalian harus menjauhi dusta karena dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka, dan seseorang yang terus-menerus berdusta dan senantiasa berusaha untuk berdusta, ia akan dicatat di sisi Allah sebagai Każżāb [pendusta], dan ketika ia dicatat sebagai pendusta, maka ia akan menuju neraka.”
Jadi, ini adalah suatu hal yang harus ditakutkan. Dusta dalam keadaan apapun harus dihindari sekalipun hanya sekedar bercanda. Diriwayatkan dari Hadhrat Abdullah ra. bahwa Hadhrat Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya dusta tidak benar dalam keadaan apa pun, tidak dalam keseriusan dan tidak pula dalam bercanda.”
Orang-orang kadang-kadang berkata ketika bercanda menyatakan bahwa mereka hanya bercanda saja ketika berdusta. Ini tidak diperbolehkan dalam bercanda, juga tidak diperbolehkan seseorang berjanji kepada anaknya kemudian tidak memenuhinya. [5]
Mengambil hak orang lain merupakan perbuatan yang merugikan bagi seseorang yang diambil haknya. Perbuatan ini sama dengan mencuri barang milik orang lain, tentu saja ini perbuatan yang sangat berdosa. Larangan mengambil hak orang lain dalam Al-Qur’an menunjukkan keluasan dan kedalaman pesan etis Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Al-Qur’an tidak hanya mengecam praktik kecurangan dalam bentuk yang tampak sederhana, seperti pengurangan timbangan dan manipulasi transaksi,tetapi juga menyoroti bentuk-bentuk kezaliman yang lebih sistemik, seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang. [6]
Pernyataan Allah SWT. begitu tegas dalam Al-Qur’an, firman-Nya:
“Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.“ (QS. Al-Baqarah 2: 188)
Sombong sama dengan takabur, merasa lebih tinggi lebih baik lebih segala-galanya dari yang lain. Barangsiapa yang memandang rendah saudaranya karena ia merasa dirinya lebih terpelajar, lebih bijak atau lebih ahli, sesungguhnya ia takabur karena ia tidak menghargai Tuhan sebagai Maha Sumber dari segala kecerdasan dan pengetahuan, serta merasa dirinya sebagai sosok yang punya arti lebih. Apakah dipikirnya Tuhan tidak mempunyai kekuasaan untuk mengenakan kepadanya penyakit kegilaan dan mengaruniakan kepada saudara yang dipandangnya rendah, karunia berupa pengetahuan dan keahlian lebih daripadanya? Begitu juga dengan ia yang karena merasa diri lebih dalam kekayaan, status sosial atau pun kehormatan lalu memandang rendah saudaranya, ia telah takabur karena melupakan bahwa kekayaan, status dan kehormatannya itu adalah karunia Ilahi. Ia itu buta dan tidak menyadari kalau Tuhan memiliki kekuasaan untuk menjadikannya dalam sekejap menjadi lebih rendah dari yang terendah, dan mengaruniakan kepada saudara yang dianggapnya rendah berupa kekayaan yang lebih daripadanya.
Demikian pula dengan ia yang menyombongkan kesehatan fisiknya, atau menjadi angkuh karena kecantikan wajah dan kekuatan badan, lalu menganggap rendah saudaranya dengan mengolok-olok atau mencemoohkan kekurangan diri saudaranya itu. Ia tidak menyadari bahwa Allah Yang Maha Agung mempunyai kekuasaan untuk menimpakan atas dirinya kekurangan fisik yang akan menjadikannya lebih buruk dari saudaranya serta
menganugerahkan kepada saudara yang dihinakan tersebut kesehatan yang baik atau kestabilan kondisi.
Serupa dengan itu adalah ia yang lalai dalam salat karena merasa yakin benar akan kemampuan fitrat dirinya. Ia dikatakan takabur karena ia tidak menyadari adanya Sang Maha Sumber dari segala kekuatan dan kekuasaan. Karena itu wahai kalian yang aku kasihi, ingat-ingatlah selalu peringatanku ini agar jangan sampai kalian tanpa disadari lalu dianggap takabur dalam pandangan Allah SWT. Ia yang mengoreksi saudaranya tentang cara pengucapan suatu kata, sesungguhnya termasuk takabur. Ia yang tidak mendengarkan bicara saudaranya dengan santun dan memalingkan wajahnya, ia termasuk takabur. Ia yang merasa enggan atau keberatan atas saudara yang duduk di dekatnya, ia termasuk takabur. Ia yang menertawakan atau mengolok-olok saudaranya yang sedang salat, ia termasuk takabur. Ia yang tidak taat sepenuhnya kepada sosok pribadi yang diutus Tuhan dan Rasul Allah, ia termasuk takabur. Ia yang tidak memperhatikan petunjuk sosok pribadi demikian serta tidak mempelajari. [7]
Hidup dengan penuh kasih sayang diantara sesama manusia adalah seperti motto Jemaat Muslim Ahmadiyah di seluruh dunia yaitu love for all hatred for none yang pertama kali diciptakan oleh Hadhrat Mirza Nasir Ahmad rh. (Khalifatul Masih ketiga) pada tahun 2008.
“Islam mengajarkan kita untuk hidup dengan saling mencintai dan menyayangi serta dengan kerendahan hati. Islam mengajarkan kita untuk tidak membedakan antara Muslim dan non-Muslim. Pesan saya kepada semua orang adalah bahwa Anda harus memiliki ‘Cinta untuk Semua, Kebencian untuk Tidak Seorang Pun!’”
(The Review of Religions, Maret 2008, hlm. 52)
Yang Mulia Nabi Muhammad saw. pun pernah bersabda:
“Orang-orang yang memiliki sifat kasih sayang itu disayangi oleh Allah Yang Mahakasih. Sayangilah penduduk bumi ini, maka kalian akan disayangi oleh mereka yang ada di langit!” (HR. Abu Dawud)
Dalam hadis lain, Nabi saw. bersabda:
“Tidaklah kalian masuk surga kecuali kalian beriman kepada Allah dan tidaklah kalian beriman (secara sempurna) kecuali kalian saling menyayangi.” (HR. Muslim)
Semua ini jika kita melaksanakan dengan sepenuh hati maka akan menjadi jalan menuju surga.
Referensi:
[1] Muhammad Sadiq H.A. bin Barakatullah, Tuntunan Ibadah Sholat, 2016, Cetakan ke 3, Neratja Press
[2] https://ahmadiyah.id/?amp 10 Syarat Baiat dalam Ahmadiyah
[3] Ringkasan Khutbah Jumat Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba., 16 Januari 2015, Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK
[4] https://www.abudzar.sch.id/index.php/konsultasi-seputar-islam/30-fiqihibadah/181-hindari-persaksian-palsu-etika-muamalat; Salim bin ‘Ied Al-Hilali, syarh Riyadush Shalihin, h. 65
[5] Khutbah Jumat Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba., 17 April 2026, Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford (Surrey), UK
[6] Al-Afkar: Jurnal Pemikiran Mahasiswa Pendidikan, Husna Mulyadi, Sekolah
Tinggi Ilmu Al-Qur’an As-Syifa Subang, Indonesia
[7] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s, Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, 2017, Neratja Press
Views: 7
