TERKABULNYA DOA BERGANTUNG PADA KONDISI SAAT BERDOA
“Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk.” [1] (Qs. Al-Baqarah: 187)
Tujuan Allah Ta’ala. menciptakan manusia di muka bumi ini adalah untuk beriman kepada-Nya. Siapa yang beriman kepada Allah. pasti akan mendapat keselamatan di dunia dan akhirat. Apabila seseorang tidak beriman, maka celakalah hidupnya di dunia dan akhirat.
Setiap orang beriman, apabila mendapat cobaan maka ia akan mengingat Allah Ta’ala.
Dalam hal ibadah (yang mana merupakan tujuan diciptakannya manusia), berdoa merupakan identitas utama yang tak bisa lepas dari diri seseorang. Ia merupakan amal ibadah yang mudah dan praktis untuk dikerjakan, serta bersifat fleksibel karena tidak terikat oleh waktu dan tempat. Kapan pun waktunya dan di mana pun tempatnya, seorang hamba dituntut untuk senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala. [2]
Berangkat dari sini, seorang hamba, baik kaya maupun miskin, kuat maupun lemah; kesemuanya butuh dan dituntut untuk berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dalam setiap permasalahan yang dihadapi.
Mengapa berdoa menjadi sangat penting dalam kehidupan kita?
Perlu kita ketahui juga, doa merupakan obat utama dari segala macam cobaan dan ujian. Karenanya, ia akan melindungi kita dari marabahaya. Doa akan menghilangkan dan menyembuhkan penyakit. Doa akan mencegah turunnya malapetaka, mengangkatnya atau minimal meringankan malapetaka yang sedang terjadi.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
إنِّي لا أحمل هَم الإجابة ولكن أحمل هَم الدُعاء فإذا أُلهِمت الدعاء فإن الإجابة معه .
“Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tetapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa. Oleh karenanya, jika kalian diilhami dan diberi hidayah untuk berdoa, sesungguhnya (ijabah) terkabulnya doa tersebut mengikutinya.” [3](Majmu’ Fatawa Syekhul Islam, 8: 193)
Doa merupakan senjata utama bagi seorang Muslim saat menghadapi ujian dan memiliki keinginan. Doa juga menjadi sebab terbesar tergapainya impian dan cita-cita. Betapa banyak kesedihan dan cobaan menjadi mudah karena berdoa.
Dalam Khutbah Jumat Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba. menceritakan tentang satu buah keajaiban terkabulnya doa:
Hadhrat Amir Khan Shahib meriwayatkan bahwa pada tahun 1915, anaknya Abdullah terserang wabah penyakit pes. Dalam tempo dua hari, demamnya membuat kondisinya semakin lemah. Ketika beliau pulang kerja, keadaannya semakin kritis. Padahal, dia itu adalah anak satu-satunya. Ibunya [ibu si anak] yang sudah tidak sanggup menyaksikannya, meminta beliau untuk menungguinya. Cuaca panas menyengat di dalam rumah yang kecil dan diterpa perasaan tidak ada yang mempedulikan, membuat suasana semakin mencekam takut akan kematian. Maka beliau pun menggendong anaknya ke atas bahunya. Lalu, dengan air mata bercucuran beliau pun menangis berdoa kepada Allah Ta’ala: ‘Ya Allah, pada situasi sudah di ambang kubur seperti ini, tidak ada lagi yang dapat menolong selain Engkau. Hanya Engkau-lah yang dapat menghilangkan penderitaan kami ini. Hanya Engkau yang dapat memberikan kesembuhan yang sempurna dari serangan penyakit ini.”
Beliau terus menerus berdoa seperti itu, hingga kemudian timbul inspirasi di dalam hatinya untuk menilawatkan suatu ayat dari Al-Qur’an lalu beliau mengusap-usapkan tangannya ke seluruh tubuh anaknya sambil menangis-nangis. Selang beberapa menit kemudian, demamnya menurun. Beberapa hari kemudian anaknya berangsur-angsur sembuh dari ancaman maut penyakit tersebut secara mukjizat. [4]
Kisah Nabi Yunus as. yang keluar dari perut paus adalah salah satu kisah inspiratif dalam Al-Qur’an. Ceritanya seperti ini:
Nabi Yunus as. diutus untuk berdakwah kepada kaumnya yang hidup di kota Niniveh. Namun, kaumnya menolak ajarannya dan tidak mau beriman. Karena merasa gagal dan frustrasi, Nabi Yunus as. meninggalkan kaumnya dan naik kapal.
Di tengah laut, kapal yang ditumpangi Nabi Yunus as. dihantam badai besar. Untuk meringankan beban kapal, para penumpang memutuskan untuk mengundi siapa yang harus dibuang ke laut. Nabi Yunus as. yang terundi, dan dia dilempar ke laut.
Seekor paus besar menelan Nabi Yunus as., tapi dia tetap hidup di dalam perut paus. Di dalam perut paus, Nabi Yunus as. berdoa dengan sungguh-sungguh, “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” [5](QS. Al-Anbiya: 87).
Allah mendengar doa Nabi Yunus as. dan memerintahkan paus untuk mengeluarkan beliau ke pantai. Nabi Yunus as. keluar dari perut paus dalam keadaan lemah, tapi Allah menjaganya dan memberinya kekuatan. [6]
Kisah ini menunjukkan bahwa doa yang tulus dan pengampunan Allah Ta’ala bisa membawa kita keluar dari kesulitan yang paling berat.
Referensi:
[1] QS. Al-Baqarah 2: 187
[2] Meta AI
[3] Majmu’ Fatawa Syekhul Islam, 8: 193
[4] Ahmadiyah.id
[5] Muslim.or.id
Views: 18
