HISAB DIRI: PEMENUHAN KEHENDAK ALLAH TA’ALA ATAU SEKEDAR BERBANGGA DIRI
Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda, “Setiap orang hendaknya memperbaiki hisab (hitungan) diri masing-masing, hendaknya kita memikirkan amal-amal perbuatan kita sendiri yang dipenuhi dengan ketakwaan, yakni sejauh mana kita telah memenuhi kehendak Allah Ta’ala atau sekedar berbangga diri saja?” [1]
Manusia tidak luput dari kesalahan karena memiliki fitrah yang lemah. Tanpa disadari, kita sering lebih mudah mengkritik orang lain daripada mengoreksi diri sendiri. Hal ini sesuai dengan peribahasa, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.”
Bahkan urusan shalat seseorang saja, kita tidak boleh membicarakannya dengan orang lain. Pernah suatu ketika ada seseorang yang mengadukan orang lain tentang shalatnya begini begitu (shalatnya kurang baik) kepada Huzur, lalu Huzur mengatakan bahwa kita jangan membicarakan kelemahan orang lain, urus saja kelemahan kita sendiri karena masing-masing orang ada masalahnya sendiri-sendiri. Jihad setiap orang tidaklah sama. Ketika kita mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya terasa sulit, itulah bentuk kebaikan. Itulah jihad kita.
Allah SWT. Berfirman di dalam Surah Al-Hasyr 59: 19-20 yang artinya:
“Hai, orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah; dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang didahulukan untuk esok hari, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang telah melupakan Allah; maka Dia pun menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Perintah Allah Ta’ala sangat perlu untuk dipahami dan dimengerti dengan penuh perhatian dan perenungan. Hendaknya seseorang berjalan di atas ketakwaan dan senantiasa mengawasi perilakunya sendiri serta memperhatikan hal-hal tersebut yang akan menghiasi hari esoknya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hingga sudut-sudut hati kita yang terdalam sekalipun. Dia Maha Mengetahui semuanya tentang kita. Tidak mungkin dapat menipu-Nya dengan hal-hal superfisial (dangkal atau yang terlihat di permukaan) saja. Melainkan, Dia adalah Dzat Yang dapat membedakan antara yang salah atau palsu dan yang benar sebagaimana telah disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Amal-amal perbuatan palsu dan menipu takkan diterima oleh Allah Ta’ala selamanya. Karenanya, ia harus tidak menganggap dunia ini sebagai segalanya seperti anggapan orang-orang yang tidak beriman. Melainkan, kita harus berjalan di atas jalan ketakwaan untuk meraih keberhasilan yang hakiki. [2]
Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra. Telah bersabda dengan kalimat-kalimat yang singkat lagi jelas bahwa seorang mukmin hendaknya pertama-tama memikirkan akibat dari apa yang ia mulai atau akan lakukan.
Ketika marah, manusia cenderung bertindak kasar dan melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Karena itu, ia harus merenungkan akibat dari perbuatannya. Kesadaran akan konsekuensi inilah yang akan menuntunnya menuju ketakwaan.
Segala keburukan dan kejahatan berasal dari kenyataan bahwa di dalam pikiran kita ini terdapat setan dan kita melakukan apapun yang kita ingin lakukan tanpa memberikan sedikit pertimbangan terhadap akibat yang akan timbul dari hal ini.
Jika keluarga-keluarga yang mengalami kehancuran oleh hal-hal kecil dan sepele, dengan merenungkan perintah Allah Ta’ala ini serta juga mengamalkannya, maka tidak hanya perintah-perintah ini akan memberikan jaminan suatu kehidupan keluarga yang penuh kedamaian namun juga akan menghiasi masa depan anak-anak mereka. Keluarga-keluarga yang sedang mengalami kehancuran karena masalah-masalah duniawi yang sepele hendaknya merenungkan hal ini. Generasi mendatang tidak hanya milik kalian, mereka juga aset Jemaat dan bangsa.
Para orang tua bertanggung jawab untuk menunjukkan jalan yang benar kepada anak-anak mereka dan hal ini hanya dapat terwujud jika para orang tua mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik pada setiap mukmin terhadap aspek ini.
Hadhrat Rasulullah saw. bersabda: “innasy syaithona yajri min ibni aadama majrad dam. Setan mengalir di dalam pembuluh darah setiap anak Adam (setiap orang).”
Kemudian beliau saw. menambahkan bahwa setan yang ada dalam aliran darah beliau saw. telah menjadi Muslim. Ketika kita dalam kondisi tidak sehat, mungkin kita terinfeksi oleh sesuatu yang masuk ke dalam aliran darah kita. Pada awalnya kita bahkan tidak menyadari penyakit ini dan bahkan terkadang dokter pun tidak dapat menunjukkan secara tepat penyakit apa yang telah masuk ke dalam aliran darah kita. Ada banyak sekali virus sebagaimana kita lihat akhir-akhir ini ada suatu penyakit yang menyebar luas. Bagaimanapun juga, penyakit yang paling berbahaya akhir-akhir ini adalah penyakit rohani yang sedang merajalela. Manusia bahkan tidak mengetahui kapan dan bagaimana setan masuk ke dalam aliran darahnya. Paling tidak, dengan penyakit jasmani seseorang merasakan beberapa gejala, merasa waspada dan mencari pertolongan medis.
Namun, hal ini tidaklah seperti penyakit rohani. Orang-orang terdekat melihat timbulnya tanda-tanda penyakit rohani serta mencoba untuk menasehatinya. Mereka yang telah mencapai penyakit rohani pada tahapan yang lebih buruk akan menganggap segala nasehat orang-orang terdekatnya sebagai sesuatu yang salah. Memang, serangan setan dan penyakit rohani ini jauh lebih buruk dan lebih berbahaya daripada penyakit jasmani karena manusia tidak siap untuk penyembuhannya.
Inilah mengapa para mukmin sejati hendaknya mengambil tindakan pencegahan sebelum serangan demikian terjadi. Kita memerlukan praktek dan pengobatan yang terus menerus untuk melindungi diri kita karena penyakit rohani ini sedang merajalela. Kita perlu terus merasa waspada, kita perlu terus berjalan di atas ketakwaan, kita perlu terus mengintrospeksi diri, kita perlu terus mencari ampunan Ilahi dan kita perlu terus memperhatikan bagaimana cara untuk menjaga keimanan kita. Kita hendaknya jangan pernah melepaskan hubungan kita dengan Allah Ta’ala yang tidak berpisah dari kita di dalam kehidupan dan kematian. [2]
Referensi:
[1] Malfuzat, Jilid V, hal 297-298
[2] Ringkasan Khutbah Jum’at Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba, 6 Maret 2015, di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK
Views: 182
