MUHASABAH DIRI SETELAH RAMADAN SELESAI
Ramadan telah usai. Bulan penuh pengampunan telah berlalu. Akankah semangat ramadan masih tersisa dalam diri kita? Atau justru telah hilang, sirna terbawa gegap gempita penyambutan hari kemenangan?
Masjid yang dulunya penuh sesak kini terasa lebih luas dan lapang karena berkurangnya jamaah. Seakan lupa bahwa kewajiban ibadah tidak hanya dilakukan di bulan Ramadan, tetapi juga harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Islam tidak melarang umatnya untuk mencari dan mengumpulkan harta melalui berbagai aktivitas dan rutinitas pekerjaan. Namun, Islam mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan ruhaniah dan jasmaniah, antara keinginan diri dan kehendak Sang Pemilik kehidupan.
Untuk itulah pentingnya muhasabah diri, yaitu introspeksi agar kita tidak terlena dengan apa yang dimiliki hingga lalai terhadap kewajiban kepada Sang Khalik. Muhasabah menjadi alarm bagi hati, pengingat agar kita tersadar dari kelalaian dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
Terdapat sebuah kisah yang dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.
Suatu hari, Tsa’labah dikisahkan datang menghadap Rasulullah saw. Ia meminta agar Rasulullah mendoakannya supaya dianugerahi rezeki yang banyak. Namun, Rasulullah saw. menolak permintaan tersebut.
Meski demikian, Tsa’labah terus mendesak. Ia berkata, “Doakanlah kepada Allah agar Dia memberiku harta kekayaan.”
Rasulullah saw. kembali menolak dan bersabda, “Tidakkah engkau ridha menjadi seperti Nabi Allah? Demi Zat yang menguasai diriku, seandainya aku menghendaki agar gunung berjalan bersamaku menjadi emas dan perak, niscaya hal itu akan terjadi.” Namun, Tsa’labah tetap memohon dan bersumpah, “Demi Zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau memohon kepada Allah dan Dia memberiku harta, niscaya aku akan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya.”
Akhirnya, Rasulullah saw. berdoa, “Ya Allah, anugerahkanlah harta kepada Tsa’labah.” Allah Ta’ala pun mengabulkan doa tersebut. Tsa’labah memperoleh ternak yang terus berkembang. Pada awalnya, ia tetap istiqamah dalam beribadah, bahkan ikut serta dalam Perang Badar.
Namun, seiring bertambahnya harta, kesibukannya pun meningkat. Ia mulai meninggalkan sebagian shalat berjamaah, hingga akhirnya meninggalkan shalat Jumat. Bahkan, ia enggan menunaikan zakat dan menganggapnya sebagai beban.
Ketika kabar ini sampai kepada Rasulullah saw., beliau bersabda, “Celakalah Tsa’labah.”
Allah Ta’ala kemudian menurunkan firman-Nya dalam Surah At-Taubah ayat 75–77 yang menegur orang-orang yang mengingkari janji setelah diberi kelapangan rezeki.
Saat ayat tersebut sampai kepada Tsa’labah, ia pun menyesal dan datang membawa zakatnya. Namun, Rasulullah saw. tidak menerimanya karena Allah telah melarangnya.[1]
Penyesalan itu datang terlambat.
Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya muhasabah diri. Jangan sampai kenikmatan dunia membuat kita lalai dan terjerumus dalam kerugian, baik di dunia maupun di akhirat.
Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [2]
Ayat ini mengingatkan kita untuk senantiasa mengevaluasi diri terhadap amal yang telah dilakukan. Ibarat seorang pengrajin yang meneliti kembali hasil karyanya, apakah sudah sempurna atau masih perlu diperbaiki.
Demikian pula seorang hamba, ia harus terus mengevaluasi amalnya. Jika amal tersebut baik, maka pertahankan dan tingkatkan. Jika masih terdapat kekurangan, maka segera perbaiki dengan taubat dan amal kebaikan.
Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap hamba untuk bermuhasabah setiap hari, baik di pagi maupun di sore hari. Pagi hari menjadi waktu untuk menata niat dan tekad, sedangkan sore hari menjadi waktu untuk mengevaluasi, apakah tekad tersebut telah terlaksana dengan baik.
Jadikan setiap hari sebagai sarana pembelajaran untuk terus memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah Swt., Sang Pemilik kehidupan.
Hal ini sejalan dengan nasihat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. dalam bukunya Bahtera Nuh:
“Ingatlah, setiap fajar menyingsing hendaknya menjadi saksi bahwa kamu telah melewatkan malam dengan ketakwaan, dan setiap petang menjadi saksi bahwa kamu menjalani siang dengan rasa takut kepada Allah.”[3]
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa bermuhasabah diri dan terus meningkatkan kualitas ibadah, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi juga di bulan-bulan berikutnya. Aamiin.
Referensi:
(1)https://www.republika.co.id/berita/pf1vhh313/kisah-tsalabah-dan-pelajaran-bagi-umat-islam
(2) QS. Al-Hasyr [59]: 18
(3) Bahtera Nuh, hlm. 2
Views: 37
