KETIKA KITA MULAI SADAR: MANUSIA ITU LEMAH

Dalam perjalanan hidup, seiring bertambahnya usia, kita sering dihadapkan pada kenyataan yang tidak kita duga. Waktu membawa kita ke berbagai ujian yang membuat kita sadar: kita ini bukan siapa-siapa. Hal-hal yang dulu terasa mudah, kini terasa berat. Di titik inilah kita mulai benar-benar memahami bahwa kita lemah. Sangat lemah.

 

Manusia diciptakan dengan banyak keterbatasan. Fisik kita terbatas, akal kita terbatas, waktu kita terbatas, bahkan keinginan kita pun terbatas. Semua itu menunjukkan bahwa kita bukanlah penguasa. Kita adalah hamba, bukan raja atas hidup kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

 

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa: 29)

 

Kita lemah karena memang diciptakan untuk bergantung. Bergantung kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Maka, ketika kita sudah berusaha sekuat tenaga tapi hasilnya belum sesuai harapan, sadarlah: hasil itu bukan milik kita. Keberhasilan bukan semata-mata karena usaha kita, tetapi karena anugerah dari Allah Ta’ala.

 

“Dan kalian tidak akan menghendaki kecuali jika Allah, Tuhan semesta alam, menghendakinya.” (QS. At-Takwir: 30)

 

Inilah sebabnya kita tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Kita butuh Allah dalam setiap langkah. Kita butuh petunjuk-Nya saat memilih. Kita butuh pertolongan-Nya agar tidak tersesat. Kita butuh kasih sayang-Nya agar tidak hancur saat menghadapi luka. Dialah pemilik kekuasaan yang Maha Besar. Ketika kita berserah diri kepada-Nya, Dia akan menolong kita.

 

Seperti yang disampaikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as., “Jangan pernah mengira Allah itu lemah. Sesungguhnya Dialah pemilik kekuasaan yang Maha Besar. Ketika kamu berserah diri kepada-Nya untuk meminta dukungan dalam segala hal, Dia akan datang membantumu.”

 

Namun, seringkali kita menilai kehidupan hanya dengan logika sebab-akibat. Padahal, dalam rencana Allah, tidak semua hal bisa kita pahami dengan logika. Banyak hal yang terjadi di luar dugaan kita. Banyak rencana yang gagal bukan karena kita kurang berusaha, tapi karena Allah Ta’ala belum mengizinkannya. Karena itu, kita perlu menerima takdir dengan penuh keyakinan, bukan hanya dengan pemahaman.

 

Rasulullah Saw., mengajarkan kita untuk menjadikan doa sebagai senjata. Doa adalah bentuk pengakuan bahwa kita lemah dan butuh pertolongan Allah Ta’ala. Beliau bersabda:

 

“Doa adalah senjata orang beriman.” (HR. Al-Hakim)

 

Maka ketika hatimu terasa sesak, bersujudlah. Ketika kamu merasa bingung harus ke mana, bentangkan sajadahmu. Di situlah kekuatan itu datang bukan dari dunia yang ramai, tapi dari langit yang mendengar.

 

Allah Ta’ala berfirman:

 

“Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa ketika dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 187)

 

Saat semua pintu terasa tertutup, ada satu pintu yang selalu terbuka: pintu langit. Saat semua orang meninggalkanmu, ada satu Dzat yang tetap dekat: Allah Ta’ala. Maka jangan pernah berhenti berharap, jangan pernah lelah berdoa.

 

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.” (QS. Al-Mu’min: 60)

 

Allah Maha Melihat tangisan hati yang tak bersuara. Dia Maha Tahu air mata yang jatuh tanpa kata. Maka tenangkan hatimu. Serahkan semuanya kepada-Nya. Yakinlah, setiap luka pasti ada obatnya. Setiap malam pasti akan berganti fajar. Dan setiap kesulitan pasti akan diikuti kemudahan.

 

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6-7)

 

Mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah Ta’ala. Jangan tunggu sampai semuanya hancur baru kita mendekat. Karena petunjuk sejati justru datang saat kita bersimpuh, bukan saat kita berdiri tegak. Berserah diri bukan berarti menyerah tanpa usaha. Berserah diri adalah tanda bahwa kita mempercayakan segala urusan kepada Yang Maha Kuasa. Dan saat itulah kita akan menemukan makna sejati dari kehidupan: menjadi hamba yang sadar akan dirinya.

 

 

 

Referensi:

Al-Qur’an Terjemah Dan Tafsir Singkat, penerbit Neratja Press

 

 

Views: 29

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *