PERBANYAK KEBAIKAN: KUNCI TERHAPUSNYA SEGALA KEBURUKAN

Abu Al Yusr pernah mencium seorang wanita yang bukan mahramnya, kemudian apa yang terjadi padanya ketika dia pergi mengadu kepada Hadhrat Rasulullah saw.? Apakah yang dilakukannya adalah sebuah keburukan yang terampuni?

 

Ada peribahasa yang mengatakan bahwa ‘seribu kebaikan akan kalah dengan satu kesalahan’ karena fitrah manusia pada umumnya akan selalu mengingat keburukan seseorang dibandingkan dengan kebaikannya, namun di sisi Allah SWT., justru kebaikanlah yang bisa menghapus keburukan itu sendiri. Jadi, alangkah kasih sayang Allah SWT. kepada umatnya, sungguh luar biasa. Hal ini sejalan pula dengan sabda Hadhrat Nabi Muhammad saw. sebagai berikut:

 

“Iringilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan baik, niscaya akan menghapuskan yang buruk.” [1]

 

Kita tentu sudah tidak asing dengan kisah Hadhrat Rosulullah saw. yang ketika diludahi, dilempari kotoran oleh seorang nenek kemudian dibalas dengan senyuman dan kelembutan, bahkan ketika sang nenek sakit beliau saw. menjenguknya sampai sang nenek pun masuk Islam. Teladan Hadhrat Rasulullah saw. ini begitu indah dan mulianya yang menjadi teladan bagi kita semua sebagai pengikutnya. Kita diajarkan untuk selalu berbuat baik bahkan kepada orang yang telah berbuat buruk kepada kita. Begitu mulianya akhlak Hadhrat Rasulullah saw., sehingga tak heran beliau dijuluki sebagai Uswatun Hasanah (suri tauladan yang baik).

 

Allah SWT. selalu menciptakan sesuatu dengan seimbang seperti siang dan malam, baik dan buruk, besar dan kecil serta contoh lainnya. Semua pilihan ada pada kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Allah SWT. berfirman sebagai berikut:

 

“Dan dirikanlah shalat pada kedua penghujung siang dan pada beberapa bagian malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapus keburukan-keburukan. Ini adalah suatu peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat.” [2]

 

Dalam ayat ini Allah SWT. memberikan peringatan kepada manusia agar selalu berbuat baik untuk menghapus keburukan yang kita miliki. Semoga kita dalam hidup ini senantiasa memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan karena niscaya hal itu akan kembali pada kita.

 

Ayat Al-Qur’an di atas nyatanya turun ketika ada seorang sahabat nabi yang bernama Abu Al Yusr. Beliau datang kepada Hadhrat Rasulullah saw. karena menyesal telah melakukan keburukan yakni telah mencium wanita yang bukan mahramnya. Abu Al Yusr telah tergoda oleh wanita tersebut ketika ingin membeli kurma di tokonya, kemudian ia membujuk wanita itu untuk masuk ke dalam rumahnya kemudian ia menciumnya. Menyadari kesalahan yang telah terjadi dan beliau segera bertaubat dan pergi menemui Hadhrat Rasulullah saw. dan melakukan amalan salat seperti yang diperintahkan dalam Al-Qur’an surah Hud tadi untuk menghapus keburukan yang telah dia perbuat.

Kisah Abu Al Yusr ini tertuang dalam Bukhari, Muslim, Ahli Sunan dan selainnya mengeluarkan hadis dari Ibnu Mas’ud dengan bunyi lengkap sebagai berikut:

 

“Sesungguhnya ada seorang lelaki mencium wanita (yang bukan mahramnya). Kemudian ia datang kepada Nabi saw. dan menceritakan hal tersebut. Kemudian turunlah ayat “Dan dirikanlah salat di kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa-dosa. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” Lelaki tersebut bertanya, “Apakah ayat ini khusus untukku wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk semua umatku yang melakukan perbuatan tersebut.” [3]

 

Alangkah Maha Pengampunnya Allah SWT. kepada hamba-Nya yang telah khilaf dan selalu memberikan kesempatan untuk berbuat baik. Marilah kita semua senantiasa berbuat baik karena kita tidak pernah tahu amalan mana yang akan membawa kita ke pintu surga-Nya.

 

Referensi:

[1] HR. Abu Dâwud, Ahmad

[2] QS. Hud 11: 115

[3] HR. Bukhari/6/75, Muttafaq ‘alaih

 

Views: 13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *