Mengikuti Jejak Langkah Rasulullah saw., Bukti Nyata Mencintai Allah Ta’ala
Siapapun dengan mudah dapat mengatakan, “Aku mencintai Allah.” Namun cinta sejati tidak diukur dari kata-kata belaka. Cinta itu jujur ketika tidak sepasang mata pun yang melihat, sabar ketika diuji, dan tulus memaafkan ketika disakiti. Inilah sikap nyata yang telah dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah saw.
Sebagaimana yang disampaikan oleh pendiri Jamaah Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., bahwa pengakuan kecintaan kita kepada Allah Ta’ala baru akan terbukti keotentikan dan kesungguhannya apabila kita mengikuti Rasulullah saw. Beliau tidak sekadar mengajarkan kita tentang cinta, melainkan juga cara konkret untuk membuktikan cinta itu—cinta yang tidak hanya terucap di lisan, tetapi terbukti dalam amal ibadah dan akhlak.
Seringkali kita menangis saat mendengar nama-Nya, dan bibir kita bergetar menyebut “Aku cinta Allah.” Namun pernahkah kita bertanya, seberapa besar upaya yang sudah kita lakukan untuk membuktikan cinta ini? Allah tidak pernah meminta cinta yang kosong. Dalam kamus langit, cinta bukanlah puisi indah semata; cinta adalah jejak kaki yang mengikuti, gerak tubuh yang meniru, dan hati yang terus istikamah untuk meneladani.
Salah satu bentuk keliru yang sering terjadi adalah menganggap cinta cukup diucapkan, padahal cinta tanpa bukti adalah dusta. Bayangkan jika ada seseorang yang berkata, “Aku cinta guruku,” tetapi ia tidak pernah duduk di majelisnya, tidak pernah mendengar dan mencatat setiap proses belajarnya, serta tidak pernah mengamalkan ilmunya. Layakkah ia disebut pecinta? Maka demikian pula dengan kita kepada Allah Ta’ala. Kita mengaku sebagai hamba-Nya, tetapi malas bersujud; kita mengaku merindukan Rasulullah saw, tetapi abai terhadap sunnah-sunnahnya.
Sayyidina Al-Hasan Al-Bashri pernah ditanya tentang kaum yang mengaku cinta Allah. Beliau menjawab, “Ujilah mereka dengan ayat ini,” lalu beliau membaca firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 32: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Karena Allah Maha Tahu; Dia tahu bahwa air mata bisa dipura-pura dan kata “Aku cinta” bisa diucapkan oleh siapa saja. Dia hanya mengakui cinta setiap hamba yang benar-benar mengikuti Rasul-Nya.
Mencintai Allah Ta’ala bukan berarti terbang meninggalkan dunia, melainkan berjalan pelan dan menapak di jejak beliau. Rasulullah saw. makan sedikit, maka kita belajar qanaah; beliau biasa melaksanakan qiyamul lail, maka kita belajar tahajud walau hanya dua rakaat; beliau memiliki hati yang begitu luas hingga selalu memaafkan siapa pun yang menyakiti, maka setidaknya kita harus berupaya menahan lisan agar tidak menyakiti orang lain.
Mengikuti Rasulullah saw. tidak berarti harus mampu menjadi seperti beliau seratus persen, karena tingkat kerohanian yang sempurna mustahil dicapai tanpa karunia Allah Ta’ala. Namun, mengikuti beliau artinya setiap hari kita maju satu langkah ke arah beliau. Hari ini kita berusaha salat tepat waktu, besok kita tambahkan sunnah rawatibnya, lusa kita tahan amarah, kemudian kita tinggalkan dusta, dan seterusnya. Itu semua sudah merupakan bukti cinta yang nyata.
Mungkin saat ini banyak di antara hamba yang sedang diuji, dengan kondisi tubuh yang lemah dan sakit-sakitan, usaha yang gagal, hati yang cemas, sehingga masa depan terasa suram. Namun justru di sinilah Allah Ta’ala bertanya, “Bukankah kau mencintai-Ku? Apa bukti yang sanggup kau persembahkan?”
Bukti nyata yang bisa dipersembahkan adalah tetap salat walau sambil duduk, tetap bersabar walau sakit, tetap bersyukur walau doa belum dijawab, dan tetap mentadaburi Al-Qur’an walau dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Karena Rasulullah saw. pun pernah mengalami sakit dan selalu diuji, tetapi beliau tidak pernah berhenti mencintai dan menaati Allah Ta’ala. Maka sakit dan segala kesulitan hidup bukanlah penghalang cinta, melainkan jalan pembuktian cinta itu sendiri.
Kita memang bukan hamba yang sempurna; sujud masih sering lalai, lisan masih sering mengeluh. Namun kita berusaha terus belajar mencintai Allah dengan benar—cinta yang punya bukti, cinta yang berjalan di atas sunnah, dan cinta yang mampu mengetuk pintu rida-Nya. Tuntun kami, Ya Allah, agar setiap langkah kami menyerupai langkah kekasih-Mu, Muhammad saw, dan agar setiap hela napas kami menjadi bukti cinta kami kepada-Mu.
Views: 14
