Bergugurnya Dosa Manusia Saat Ditimpa Kemalangan
Pagi itu suasana di sebuah pedesaan diliputi air mata, bagaimana tidak kalau orang yang selama ini bersama mereka harus pergi meninggalkannya. Walau kepergiaannya hanya sekedar menjalankan tugas namun kedekatan yang telah terjalin cukup untuk meluruhkan air mata. Ya, begitulah kehidupan ada yang datang pasti ada yang pergi. Kesedihan dan kegembiraan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan.
Kehidupan ini seperti permainan melewati rintangan, setiap episodenya memiliki rintangan, tantangan dan kesukaran yang harus dilalui. Kesulitan dan kepahitan dunia sangat banyak tetapi tidak semua orang dapat melewatinya dengan aman dan nyaman.
Orang-orang yang berhasil melewatinya adalah mereka yang telah menganggap bahwa hidupnya hanyalah sesuatu yang fana (tidak abadi) dan sebagai sesuatu yang tidak bermakna sedikit pun lalu dia mewakafkan dirinya untuk keagungan dan keperkasaan Allah Ta’ala. Selanjutnya dia menjalin hubungan dengan-Nya, sebab semua hubungan dengan manusia merupakan sesuatu kepastian bahwa kepahitan akan dialami. [1]
Banyak hal yang telah diajarkan oleh kehidupan, segala pengalaman manusia, baik pengalaman secara pribadi maupun pengalaman orang lain memberikan pengarahan untuk menjalani kehidupan yang diridhai Allah Ta’ala. Semua kepahitan dan kesulitan sebenarnya menggiring manusia untuk kembali mengingat Sang Pencipta, bahwa kehidupan ini akan berakhir. Oleh karena itu sudah selayaknya kalau kehidupan ini diisi dengan segala kebaikan, bila waktu berakhirnya tiba maka kita bisa mengakhirinya dengan akhir yang baik (husnul khatimah).
Hadhrat Rasulullah saw. bersabda:
“Tidaklah suatu kegalauan, kesedihan, kebimbangan, kekalutan yang menimpa seorang mukmin atau bahkan tertusuk duri sekalipun, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya.” [2]
Manusia dalam menjalani kehidupan ini tak pernah bisa terbebas dari dosa, baik yang disengaja maupun tidak, dosa besar maupun dosa kecil. Akan tetapi sifat Maha Pengampun Allah Ta’ala selalu hadir menghibur manusia yang senantiasa mau kembali mengingat-Nya. Seperti sabda Nabi saw. di atas menunjukkan bahwa pintu pengampunan Allah Ta’ala selalu terbuka bagi siapapun yang mau kembali kepada-Nya.
Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda:
“Rasa takut yang timbul karena mengakui Allah Ta’ala sebagai Dzat yang Maha Agung, Maha Unggul, Maha Kuasa akan menyelamatkan manusia dari dosa serta akan menciptakan keimanan (kepercayaan hakiki).” [3]
Manusia memiliki dua rasa yang bisa menyelamatkannya dari dosa. Pertama adalah rasa takut seperti yang dijelaskan dalam sabda Hadhrat Masih Mau’ud as. di atas. Kedua adalah rasa cinta. Ketika manusia merenung, mengenang segala kebaikan Allah Ta’ala dalam hidupnya maka gejolak kecintaan pada-Nya akan menjauhkannya dari berbuat dosa.
Gejolak rasa cinta ini akan terwujud dalam amal perbuatan baiknya. Tak peduli tentang surga atau neraka dia akan mengamalkan segala perintah-Nya. Kecintaan semacam ini akan menghapuskan sisi takut dan optimis secara fitrati. Selanjutnya kecintaan ini akan menghapuskan segala kekotoran dalam dirinya seperti api yang menghanguskan. Inilah derajat kesempurnaan manusia yang penting bagi kita untuk mencapainya. [4]
Referensi:
[1] Malfuzhat, Additional Nazir Isyaat, London, 1984, jld. VII, p. 21-23
[2] HR. Bukhari dan Muslim
[3] Malfuzhat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, jld. IV, hal. 308-313
[4] Malfuzhat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, jld. IV, hal. 308-313
Views: 15
