Memaknai Kemerdekaan dengan Kontribusi Nyata
Bulan kemerdekaan telah tiba. Bangsa Indonesia di seluruh nusantara menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Bendera merah putih berkibar dengan gagah, di setiap halaman rumah. Berderet rapi di sepanjang jalan, menghiasi sudut kota serta pedesaan.
Semangat kemerdekaan juga dirasakan oleh warga Jemaat Ahmadiyah di berbagai daerah. Hal ini terlihat dari antusiasme para warga Ahmadiyah dalam memperingati hari kemerdekaan tersebut. Mereka bersama-sama dengan warga sekitar bergotong royong membersihkan lingkungan, memasang umbul-umbul, dan menghias gapura dengan penuh rasa persatuan.
Para anggota Ahmadiyah tidak melewatkan upacara peringatan detik-detik proklamasi yang diadakan di daerahnya masing-masing. Suasana menjadi sangat hening dan sakral saat pembawa baki melangkah perlahan menjemput Sang Saka Merah Putih. Seluruh pandangan mata tertuju ke arah bendera yang perlahan naik dikibarkan, diiringi dengan lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang menggetarkan hati setiap jiwa yang hadir pada acara kemerdekaan tersebut.
Setelah berakhirnya upacara, mereka juga turut memeriahkan suasana dengan ikut serta dalam berbagai perlombaan. Suasana khidmat upacara bendera berganti menjadi riuh dan penuh keakraban, bahagia, dan penuh kegembiraan terlihat dalam raut wajah mereka. Lapangan menjadi arena persatuan yang menyatukan berbagai kalangan, baik kaya maupun miskin, baik muda maupun tua, semua bersorak penuh canda dan tawa. Penonton bersorak riang menyaksikan permainan lomba balap karung, tarik tambang, makan kerupuk yang digantung, lari kelerang, dll.
Namun, di balik semua kebahagiaan itu, masih ada rasa perih yang tertahan dalam hati para Ahmadi. Kapankah mereka bisa merdeka melaksanakan ibadah dan kegiatan keagamaan di negara yang mereka cintai itu? Keberadaan mereka sebagai organisasi minoritas di Indonesia kerap mendapatkan ketidakadilan dengan adanya batasan aktivitas keagamaan, penolakan sosial, diskriminasi akibat kebijakan pemerintah, penolakan dari kalangan mayoritas, dan stigma sebagai aliran yang menyimpang.
Presiden pertama Indonesia, yaitu, Ir. Soekarno pernah menyampaikan bahwa:
“Merdeka hanyalah sebuah jembatan, walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa, satu ke dunia sama ratap sama tangis!”
Dengan karunia Allah Taala dan perjuangan para pahlawan, bangsa Indonesia sudah merdeka. Kemerdekaan bukan hadiah yang jatuh begitu saja dari langit. Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan sebuah jembatan berharga yang dibangun dengan keringat, air mata, dan nyawa para pahlawan kita.
Perjuangan tidak berhenti pada pengusiran penjajah. Di atas jembatan inilah kita berdiri, bukan untuk berhenti, tetapi untuk terus melangkah menuju cita-cita luhur bangsa. Karena di ujung jembatan itu, kita dihadapkan pada dua pilihan jalan hidup. Jalan pertama menuju kehidupan yang sama rata sama rasa, di mana keadilan menjadi dasar segala hal, hak setiap warga negara terjaga, persaudaraan dan toleransi dijunjung tinggi, kemajuan dan kesejahteraan dinikmati oleh anak bangsa tanpa terkecuali. Di jalan ini, persatuan lebih mahal dari pada kepentingan pribadi.
Sedangkan jalan kedua mengarah pada kehidupan yang sama ratap sama tangis, yang lahir jika kemerdekaan hanya dinikmati segelintir orang, jika keserakahan menguasai hati, jika persatuan retak karena perbedaan. Di jalan ini, kemerdekaan menjadi sia-sia, dan kita kembali menderita, kali ini bukan karena penjajah asing, melainkan kegagalan kita sendiri menjaga amanah bangsa.
Pesan Bapak Proklamator, Bapak Ir. Soekarno, menjadi refleksi abadi bagi perjalanan bangsa. Kemerdekaan memberikan kita alat dan kedaulatan untuk berjuang membangun bangsa dengan sikap saling menghormati, semangat persatuan, gotong-royong, adil makmur.
Meskipun keberadaan Jemaat Ahmadiyah masih dipandang sebelah mata dinegara sendiri, Warga jemaat Ahmadiyah memaknai sebuah kemerdekaan bukan hanya dengan seremonial semata, akan tetapi berjuang ikut berkontribusi nyata bagi bangsa dan negara. Melakukan aksi kemanusiaan seperti donor darah, donor mata, bakti sosial, dan pelayanan kemanusiaan seperti Humanity First.
Semoga aksi nyata Jemaat Ahmadiyah bisa menjadi bagian dari perjuangan menuju kehidupan sama rata sama rasa dalam mengisi kemerdekaan negara ini.
Views: 20
