Ammar bin Yasir, Lelaki Penghuni Surga

Bekas luka apa ini?”
“Ini adalah bekas-bekas luka siksaan ketika di Mekkah yang ditimpakan pada saya dibawah terik matahari.”

Seorang lelaki keturunan Qahtani memperlihatkan punggungnya yang penuh dengan bekas luka. Terdapat sisa-sisa luka bakar tanda kekejaman kaum musyrikin. Lelaki itu tak lain adalah sahabat Rasulullah SAW, Hadhrat Ammar bin Yasir radiyallahu anhu.

Lahir dari keturunan pendatang yang tak punya kekuatan membuat orang-orang Quraisy dengan leluasa menganiaya mereka. Ayahnya bernama Yasir, berasal dari negeri Yaman dan menikah dengan seorang hamba sahaya bernama Sumayyah. Status sosial yang lemah dan tidak memiliki kabilah di Mekkah membuat mereka nampak rendah di pandangan masyarakat.

Di cuaca yang terik, ketika matahari tepat di atas ubun-ubun, Hadhrat Ammar dan kedua orangtuanya tak mampu menikmati semilir angin di bawah pohon yang teduh. Mereka diseret ke tengah lapang dan disiksa hingga menggelepar tak berdaya menahan kesakitan. Kekejaman ini terus berulang dari hari ke hari.

Orang-orang beriman yang miskin itu dijemur dan diikat terlentang diatas tanah berbatu, lalu di dadanya diletakkan batu besar sehingga karena saking panasnya lidah mereka terjulur keluar. Dalam keadaan menyakitkan itu mereka dipaksa mengucapkan kata-kata cacian untuk Rasulullah SAW.

Ada saat dimana mereka tengah disiksa dan kebetulan Rasulullah SAW melihat mereka. Rasulullah SAW menghampiri dan bersabda dengan nada yang perih, “Wahai keluarga Yasir! Bersabarlah. Jangan melepaskan kesabaran, karena tempat kembali kalian adalah surga. Akibat penderitaan-penderitaan kalian itu, Tuhan telah menyediakan surga untuk kalian.”

Pada akhirnya, sang ayah wafat dalam siksaan itu, dan sang ibu ditusuk pahanya dengan tombak oleh Abu Jahal hingga membelah tubuhnya sampai kemaluannya. Sehingga wanita paruh baya yang tak berdosa itu menggelepar tak berdaya sampai wafat di tempat itu. Dan sekarang tersisa Ammar, yang dengan kejamnya disiksa oleh mereka yang mengatakan, “Sebelum kamu mengingkari Muhammad, kami akan terus menyiksamu.”

Mereka juga menyiksa Hadhrat Ammar dengan memasukkan kepalanya kedalam air. Suatu ketika, Rasulullah SAW menjumpai Hadhrat Ammar yang tengah menangis. Menyeka air matanya dan bersabda, “Orang kafir suka menyeret kamu lalu menenggelamkanmu ke dalam air dan kamu mengatakan ini dan itu. Jika mereka mengatakan lagi hal-hal itu engkau terpaksa menjawab lagi seperti itu.”

Kaum musyrik juga telah membakar Hadhrat Ammar dengan api. Ketika itu Rasulullah SAW lewat di dekat Hadhrat Ammar dan mengusap kepalanya lalu bersabda, “Wahai api! Dinginlah engkau dan jadilah keselamatan bagi Ammar seperti perlakuan engkau dulu kepada Ibrahim.”

Hadhrat Ammar bin Yasir, lelaki yang setia dan pemberani. Ia menyertai Rasulullah SAW dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq dan seluruh peperangan yang dipimpin Nabi. Suatu hari dalam Perang Yamamah, seorang sahabat lainnya melihat satu telinga Hadhrat Ammar terpotong dan bergerak-gerak. Namun ia tetap gigih dan sibuk bertarung. Sungguh sahabat yang rela mengorbankan apapun di jalan Allah.

Rasulullah SAW sangat menyayanginya. Bahkan ketika Khalid bin Walid berkata dengan keras kepadanya, sehingga menyebabkan ia menangis, Rasulullah SAW besabda, “Wahai Khalid! Jangan berkata buruk kepada Ammar! Karena siapa yang memaki Ammar, maka Allah membalas caciannya. Siapa yang benci kepada Ammar, maka Allah pun akan membencinya. Siapa yang mengatakan bodoh kepada Ammar, maka Allah akan mengatakan hal yang sama kepadanya.”

Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, ia memikirkan bagaimana caranya agar Rasulullah SAW punya tempat untuk bernaung dan shalat. Sehingga ia meletakkan pondasi masjid Quba. Itulah masjid pertama yang dibangun dan dibuat oleh Hadhrat Ammar.

Di masa kekhalifahan Hadhrat Umar bin Khattab, ia pernah ditunjuk sebagai Gubernur Kufah. Dan pada masa kekhalifahan Hadhrat Ali bin Abi Thalib ia ikut dalam peperangan Jamal dan Siffin.

Hadhrat Ammar bin Yasir, lelaki tua berperawakan tinggi, kulitnya berwarna gandum. Tangannya gemetaran memegang tombak. Sebelum terjun ke medan perang ia minta dibawakan susu. Ia pun tertawa mengingat dulu Rasulullah SAW bersabda, “minuman terakhir yang akan kamu minum adalah susu.”

Ia ditombak dan terjatuh, kemudian seseorang menyerang dan memenggal kepalanya. Hari itu ia disyahidkan pada usia 94 tahun di Perang Siffin. Hadhrat Ali memimpin shalat jenazah dan memakamkannya dalam pakaiannya sendiri. Seorang sahabat setia, yang dari telapak kaki hingga ujung rambutnya dipenuhi dengan keimanan. Akibat dari penderitaan yang dialami semasa hidupnya, Tuhan menyediakan surga baginya.

Surga berada dibawah kilauan pedang dan orang yang kehausan akan pergi menuju sumber mata air. Pada hari ini akan kutemui para kekasihku, hari ini aku akan berjumpa dengan Muhammad (saw) dan kelompok sahabat beliau.”
(Ammar bin Yasir)

.

.

.

Diceritakan ulang oleh: Mumtazah Akhtar

Disadur dari: Khutbah Hadhrat Khalifatul Masih Al-Khamis aba yang disampaikan pada 22 Juni 2018 di Masjid Baitul Futuh, London UK

Hits: 10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories