Dzikir, Ibadah Yang Paling Allah Senangi
‘Adati dzikr bhi dalo keh yeh mumkin hii nehi. Dil me shanam lubb peh magar naam nah hoo”
“Biasakan pula berdzikir Ilahi sebab, tak mungkinlah andaikata Sang Kekasih bersemayam di hati namun, bibir tak menyebut nama-Nya”
Bagaimana jika kita ingin selalu dekat dengan Allah, tetapi tidak dibiasakan untuk selalu berdzikir Illahi. Seperti yang kita simak dari bait syair karya Hazrat Masih Mau’ud a.s tersebut diatas.
Arti kata dzikir ialah mengingat. Jadi dzikir Illahi berarti, mengingat Allah. Yakni, menghadirkan di muka kita gambaran sifat-sifat Allah Ta’ala; menyebut sifat-sifat dengan mulut berulang kali; mengungkapkan sifat-sifat itu dan dalam lubuk hati, dan mengkaji kekuatan kekuatanNya serta kekuasaan-kekuasaan-Nya itulah dzikir Ilahi.
Allah SWT telah berfirman bahwa Zikir Illahi itu adalah yang paling besar dan paling penting.
“….wa laa dzikrullahi akbar”
Mengingat Allah itu yang terbesar antara segala urusan dan terbesar dari antara segala ibadah.
(QS. Al Ankabut ; 46)
Rasulullah saw bersabda bahwa suatu majelis dimana wujud Allah Ta’ala disebut-sebut majelis itu dikitari oleh para malaikat dan Allah Ta’ala menurunkan RahmatNya.
Demikian pentingnya menghadirkan wujud Allah dimana pun kita berada dan dalam keadaan apapun. Seperti Allah Ta’ala berfirman dalam Al-quran:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran 190-191)
Di tempat lain Allah Ta’ala juga berfirman:
“Maka berdzikirlah kepada-Nya dalam keadaan berdiri dan duduk dan berbaring miring pada rusukmu.”
(QS. An-Nisa: 104)
Demikian pula Rasulullah saw bersabda, seperti diriwayatkan oleh Abu Musa Asy’ari sebagai berikut:
“dari Abu Musa radliallahu ‘anhu dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tamsil orang yang mengingat Tuhan-nya dan orang yang tidak mengingat-Nya adalah tak ubahnya seperti orang hidup dan orang mati.
(Shahih al-Bukhari, Kitaab ad-Da’waat, Bab Fadhl Dzikrullah/Bab tentang Keutamaan Dzikrullah)
Yakni barangsiapa yang berdzikir kepada Allah mereka itu hidup dan siapa yang tidak berdzikir ia mati. Dari sini kita maklum bahwa betapa penting dan perlunya dzikir Ilahi itu.
Pada sebuah hadits lain tercantum bahwa Rasulullah saw bersabda bahwa dzikir Ilahi itu sangat tinggi derajatnya.
Sahabat bertanya: “Ya, Rasulullah, apakah itu lebih tinggi pula derajatnya daripada jihad? Beliau bersabda: Ya! Lebih tinggi daripada itu. Sebabnya ialah dzikir Ilahi merangsang manusia untuk berjihad.”
Dzikir Illahi yang sebenarnya dan ditekankan benar perintah mengenai itu di dalam Al-Qur’anul Karim ada empat cara. Jika kita meninggalkan keempat itu kita menjadi terluput dari pahala yang besar.
Oleh karena itu, hendaknya jangan sekali-kali berhenti dari kebiasaan itu. Itu adalah:
- Salat;
- membaca Al-Qur’an;
- menyebut-nyebut sifat-sifat Allah secara berulang-ulang dan menerangkan dengan mulut sendiri sifat-sifat Allah;
- menyebut sifat-sifat Allah dalam keadaan menyepi dan menyendiri juga menyatakannya di depan orang banyak.
Hendaklah kita ingat ini bahwa kita harus menentukan satu bagian Al-Qur’anul Karim untuk kita baca setiap hari. Jangan hendaknya seperti ini: kadang-kadang mengambil Kitab Suci Al-Qur’an dan membaca ala kadar, melainkan hendaknya secara teratur dan panjangnya sesuai dengan yang telah ditetapkan. Membaca tidak teratur, yakni, kadang-kadang membaca dan kadang-kadang tidak, cara tu tidak ada faedahnya.
Pendek kata, mengenai Al-Qur’anul Karim diharapkan agar menentukan satu bagian daripadanya dan setiap hari menepatinya. Bagian itu boleh saja satu ruku’ atau setengah ruku’ atau dua atau empat ruku’. Bacalah bagian yang ditetapkan itu dan jangan sampai ada hari yang kosong.
Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa ibadah yang paling disenangi oleh Allah Ta’ala ialah apabila manusia mengerjakannya dengan dawam dan tidak membiarkan ada selang waktu yang kosong.
(HR. Muslim)
Menurut Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a dalam bukunya yang berjudul Zikir Illahi, manfaat terbesar yang diraih dari berdzikir Illahi adalah kita memperoleh keridhaan Allah. Dan sebanyak orang melakukan pekerjaan yang besar, sebanyak itu pula ia diberi pahalanya.
Ada beberapa manfaat dari berdzikir yaitu:
– Meraih Ridha Allah
– Memperoleh Ketenangan Batin
– Menjadi Sahabat Allah
– Tercegah dari Hal Nista
– Hati Menjadi Tegar
– Berhasil Mencapai Maksud
– Mendapat Teduhan di Hari Kiamat.
– Terkabulnya Doa.
– Pengampunan Dosa
– Terbukanya pintu-pintu ilmu dan makrifat.
– Menciptakan Ketakwaan
– Menumbuhkan Kecintaan Kepada Allah.
Cinta akan semakin berkembang, sebab merupakan suatu kaidah pada manusia bahwa manusia akan jatuh hati pada sesuatu yang ia setiap waktu berhubungan dengannya. Wahasil, bila seorang hamba Allah pagi dan petang, bahkan setiap saat, mengingat serta menyebut nama Tuhan secara berulang kali, maka kecintaan kepada Tuhan akan berkembang di dalam dirinya secara perlahan-lahan.
Dengan menjaga hati kita untuk selalu mengingat Allah maka batin kita akan menjadi hidup dan jika kita melupakannya maka batin kita menjadi mati kering dari curahan Rahmat dan KaruniaNya bagaimana kita bisa menjadi hidup tanpaNya, tanpa kehadiranNya oleh karena itu berusahalah terus untuk mengingat-Nya maka Allah pun akan mengingat kita.
“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku pun akan ingat kepadamu,….”
(QS. Al-Baqarah ;153)
Seperti faedah dzikir yang ketiga ialah, Tuhan mengambil seorang hamba yang biasa berdzikir sebagai sahabatNya dan di dalam dunia ini juga Dia akan senantiasa ingat kepadanya. Berdzikir kepada Tuhan berarti Dia memberi kesempatan menghadap kepada-Nya. Seperti halnya seorang raja dunia biasa memanggil seseorang ke istananya, demikian pula Tuhan berbuat seperti itu.
Sumber :
H.M.Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a., 1999, Zikir Illahi
Views: 9
