Ketulusan Taubat Dapat Menghapus Dosa

Dunia sedang tidak baik-baik saja, banyak terjadi permasalahan yang berawal dari hal yang dianggap biasa dan sepele namun nyatanya membawa dampak yang tak lagi sederhana. Di media sosial sempat viral ada pasangan selingkuh dimana sang pelakor di cap pelakor syar’i karena secara penampilan ahli agama, merupakan putri dari tokoh agama pula. Yang menjadikan hal ini viral karena ditemukan bukti video syur mereka oleh istri sah, namun dibalik itu sang pelakor merayu suaminya dengan chat yang berbau islami bahkan salah satu chat yang tersebar itu dimana sang pelakor menyebutkan bahwa tidak apa-apa melakukan perzinahan karena setiap manusia tempat khilaf dan bisa menebus dosanya dengan bertobat bahkan setelah melakukan zina tersebut, pasangan selingkuh tadi sepakat untuk melaksanakan ibadah puasa Asyura karena ada hadits yang mengatakan bahwa dengan berpuasa di hari Asyura maka akan dihapuskan dosanya setahun yang lalu dan 1 tahun yang akan datang.

 

Pemahaman yang keliru ini, sangat disayangkan keluar dari orang yang seharusnya memberikan wejangan kepada umat bukan untuk membenarkan atas kesalahan yang mereka perbuat. Dengan dalih bertobat untuk menghapus dosa ,tapi mereka melanjutkan kembali dosa tersebut berulang-ulang, apakah itu yang dimaksud dengan tobat? Lalu bagaimana pandangan Islam mengenai hal ini? Mari kita kupas dan pahami satu persatu kesalah pahaman ini agar di masa mendatang tidak ada yang mengikuti jejak mereka.

 

Sejatinya, Tuhan telah mengaruniakan suatu bentuk wahyu kepada setiap orang yang disebut sebagai cahaya hati yang merupakan fitrat guna membedakan di antara yang baik dan yang buruk. Sebagai contoh, ketika seorang pencuri melakukan tindak pencuriannya, atau seorang pembunuh melakukan pembunuhan, Tuhan akan menanamkan dalam batinnya rasa penyesalan karena telah melakukan suatu hal yang buruk. Hanya saja yang bersangkutan lalu tidak memperhatikannya karena cahaya hatinya amat lemah dan kalah di bawah pengaruh fitrat hewaniah serta egonya.

 

Kegalauan ego orang-orang seperti itu tidak mungkin diatasi oleh orang lain, namun Tuhan telah menyediakan obat penawarnya. Apakah

penawar tersebut? Penawar itu bernama pertobatan, memohonkan pengampunan dan rasa penyesalan.

 

Itu berarti pertaubatan yang sejati (taubat nasuha) adalah taubat yang diiringi dengan penyesalan dan tidak mengulangi dosa yang sama.

Allah SWT berfirman dalam Al-qur’an.

 

“Barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian ia meminta ampun kepada Allah atas dosa-dosanya, akan didapati olehnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. 4, An-Nisa: 111).

 

Kemudian Hadhrat Rosulullah saw pun bersabda

 

الرَّجْمُ التَّوْبَةُ / اَلنَّدَمُ تَوْبَةٌArtinya: “Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, dan Hakim).

 

Hadits ini menegaskan bahwa inti dari taubat yang benar bermula dari rasa penyesalan mendalam di dalam hati atas maksiat yang telah diperbuat.

 

Maka, dilihat dari beberapa penjelasan dalam Al Qur’an, hadits maupun sumber lain yang merujuk kepada ajaran Islam ,dapat disimpulkan bahwa taubat yang tulus adalah taubat yang memenuhi syarat berikut:

 

1. Segera Berhenti: Melepaskan diri dari perbuatan dosa atau maksiat saat itu juga.

2. Menyesal: Merasa sedih dan bersalah atas dosa yang telah dikerjakan.

3. Bertekad Kuat: Memiliki niat yang jujur dan sumpah dalam hati untuk tidak mengulangi dosa tersebut selamanya.

4. Menyelesaikan Hak Sesama: Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain (zhalim, mencuri, merusak nama baik), maka wajib meminta maaf atau mengembalikan hak tersebut kepada pemiliknya.

 

Jadi, kisah viral yang mengatasnamakan taubat setelah melakukan dosa perzinahan,namun kemudian mengulanginya kembali tidak mencerminkan sama sekali ajaran Islam yang sesungguhnya.

 

Beberapa tokoh agama pun sepakat akan hal di atas karena memang perbuatan dosa bisa diampuni dengan taubat yang sesungguhnya yang tidak hanya diucapkan tapi juga dilihat dari perbuatan setelahnya

 

Terdapat kutipan dari Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, atba., yang disampaikan dalam salah satu khutbahnya yakni :

 

“Setiap yang baiat berjanji untuk menjauhi dosa-dosa. Orang yang benar-benar bertobat maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni. Namun syaratnya adalah kesucian hakiki dan itu benar-benar ditunjukkan dengan amal, bukan sekedar di mulut saja.”

 

(Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khutbah, 02 Februari 2018)

 

Pernyataan di atas sangat penting sekali dipahami sebagai langkah kita agar tidak terjerumus kepada dosa secara berulang-ulang maka perlu kontrol diri agar kita senantiasa tetap memperbaiki diri dari waktu ke waktu dan terbebas dari dosa . Jangan pernah menganggap ada dosa kecil dan besar karena dosa besar yang terjadi merupakan kumpulan dosa-dosa kecil yang kita anggap biasa namun lama kelamaan menjadi darah daging yang sulit untuk dilepaskan. Semoga dengan tulisan ini ,kita semua makin memahami setiap nasehat yang telah kita dapat dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.amiin.

 

 

Referensi:

1. Https://rumaysho.com/40077-taubat-nasuha-syarat-tanda-diterima-dan-bahaya-menunda-taubat.html

 

2. Https://ahmadiyah.id/tobat-membersihkan-noda-dosa.html?amp

Views: 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *