HARI PENGHAPUSAN PERBUDAKAN INTERNASIONAL: MELEPASKAN DIRI DARI PERBUDAKAN NAFSU DUNIA

Hari ini, 23 Agustus 2020, dunia internasional memperingati Hari Penghapusan Perbudakan. Definisi dari perbudakan menurut Wikipedia adalah “Segala hal mengenai pengendalian terhadap seseorang oleh orang lain dengan cara paksaan.” 

Perbudakan pertama kali ditemukan pada tahun 3500 tahun Sebelum Masehi. Perbudakan mulai dihapuskan satu persatu di berbagai negara sekitar tahun 1800-an. Islam sendiri bahkan, 1200 tahun sebelumnya, sudah memberikan kesadaran akan buruknya perbudakan dan perlahan-lahan menetapkan hukum untuk penghapusan perbudakan di tanah Arab.

“Siapa saja seorang Muslim yang membebaskan seorang budak  yang Muslim, maka perbuatannya itu akan menjadi pembebas dirinya dari api neraka.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini adalah salah satu dari sekian banyak ajaran dalam Islam mengenai penghapusan perbudakan. Islam mendorong umatnya untuk menghapuskan perbudakan demi kemaslahatan dirinya sendiri sebagai manusia. 

Perbudakan, selain menzalimi orang lain, ia juga menzalimi diri sendiri. Orang-orang yang melakukan atau melibatkan diri dalam perbudakan adalah orang-orang yang hanya akan mematikan hati nuraninya. Kematian hati nurani sama saja dengan kematian rasa kemanusiaan. Padahal, rasa kemanusiaan inilah yang membedakan kita dari binatang.

Matinya nurani manusia, matinya rasa kemanusiaan, hanya akan membuat manusia larut dalam nafsu dunia. Ia tidak akan merasakan ketenangan dan kedamaian sejati karena dirinya sendiri telah ‘diperbudak’ nafsu pribadi. Ia akan terus diburu oleh nafsu dan egoisme yang tidak ada habisnya, karena perbudakan menciptakan ilusi perasaan bahwa dia memiliki kekuasaan. Ketika sedikit saja ada yang dianggap mengusik kekuasaannya, dia menjadi tidak tenang. Artinya dia telah menzalimi diri sendiri dan itu adalah perwujudan dari ‘neraka dunia’.

Karena itulah Islam menyadarkan umatnya betapa buruknya perbudakan dan penghapusannya harus dilakukan. Karena keburukannya tidak saja dialami orang lain, tetapi juga diri sendiri. 

Islam juga senantiasa mengajarkan umatnya untuk mengedepankan cinta kasih. Ajaran Islam yang sejati tak pernah memaksa orang lain, pun untuk menerima kebenaran Islam itu sendiri. Bahkan dalam peperangan yang dulu terjadi di zaman Rasulullah saw., ada begitu banyak syarat yang ditetapkan Islam sehingga tak semua orang layak dijadikan tawanan perang, apalagi menjadi budak. Islam mengedepankan cinta kasih dalam setiap aspek ajarannya, dan itu pulalah yang senantiasa ditanamkan pada setiap umatnya.

Semoga kita semua, khususnya umat Muslim di dunia, mampu merepresentasikan diri sebagai agen anti ‘perbudakan’ di manapun berada. Selalu menunjukkan cinta dan kasih dalam setiap langkah, setiap pengamalan ajaran Islam, tanpa memaksa siapapun.

Selamat Hari Penghapusan Perbudakan Internasional! Hari ini, kita masih berjuang untuk benar-benar menghapus perbudakan di dunia. Tapi selangkah demi selangkah, kita bisa ikut serta dalam perjuangan tersebut, dimulai dari diri sendiri.

 

 

Ilustrator: Marya Sameera

 

Hits: 90

Lisa Aviatun Nahar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories