Jangan Melangit Karena Pujian, Tak Perlu Terhina Sebab Celaan

“Asal Bapak Senang (ABS)”, pasti sering mendengar ungkapan ini. Sebuah frasa yang menggambarkan dua sisi perilaku manusia. Satu sisi, orang yang gila pujian dan satu lagi orang yang senang memberikan puja sanjung.

Bagi pengagung sanjungan dan kehormatan, kalimat-kalimat manis yang dilontarkan si pemuji tentu akan membuatnya melambung, busung dada dan semakin bangga dengan dirinya. Sementara sang empunya pujian, tujuannya tak lain untuk mendapat posisi tertentu di mata orang yang dipujinya.

Bisa jabatan yang diincarnya, mungkin sejumlah proyek yang memikat, atau sekedar ingin mempengaruhi penilaiannya saja. Namun tak jarang, pujian disampaikan justru dengan maksud tersembunyi yang jauh dari niat baik.

Dari dunia fabel, kita jumpai satu kisah menarik syarat hikmah. 

Dikisahkan, ada seekor kera yang sedang memanjat pohon dan hampir sampai di puncaknya. Tiba-tiba datanglah 3 jenis angin yang bertaruh bisa menjatuhkan kera tersebut dengan kekuatannya.

Angin topan memulai serangannya, sekuat tenaga ditiupnya sang kera. Mendapat serangan kuat, kera berpegangan sangat erat, dan selamatlah dia.

Menyaksikan angin topan gagal, Tornado pun tampil pamer kegagahannya. Dihempasnya kera tadi dengan kekuatan penuh. Adapun sang kera tak tinggal diam, semakin erat dia berpegangan. Tornado pun tak berhasil menjatuhkan kera.

Kini giliran angin Bahorok unjuk gigi, segera diterjangnya sang kera dengan upaya maksimal, ujub dalam hatinya, dialah yang bakal mampu menjatuhkan kera tadi. Namun apa yang terjadi? Nihil. Kera tetap kuat bertahan. 

Tak lama kemudian, datanglah angin sepoi-sepoi menyapa ketiga angin ganas itu. Angin sepoi- sepoi mengatakan kalau dia bisa menjatuhkan kera tadi.

Tertawalah ketiga angin tersebut. Mereka serta merta menyepelekan angin sepoi-sepoi. Bagaimana mungkin?

Angin sepoi- sepoi kemudian menghampiri kera yang masih berpegangan erat. Ditiuplah ubun-ubun kera dengan lembutnya.

Demi mendapat hembusan angin yang demikian lembut, rasa nyaman dan kantuk menyerang kera, dan tanpa sadar pegangan yang sedari tadi begitu eratnya terlepas begitu saja. Jatuhlah sang kera.

Cerita ini mungkin saja hanya rekaan. Namun apa yang tersirat di dalamnya, sesungguhnya itulah yang sering nampak dalam kehidupan manusia.

Ketika dihadapkan pada ancaman, bahaya, serangan, musibah, manusia pada umumnya bersiap dan berikhtiar sekuat tenaga untuk menghadapinya. Namun sering terlena karena kesenangan, kebahagiaan, kenikmatan, kesuksesan yang dibumbui dengan puja puji sanjungan.

Kemudian mereka merasa hidupnya paling segalanya. Lupa akan jati diri sesungguhnya. 

Inilah bahaya sebuah pujian. Imam Ghazali meriwayatkan bahwa sekali waktu seseorang memuji sahabatnya di depan Rasulullah Muhammad SAW. Saat itu beliau bersabda, ”Celaka kamu. Kamu telah memotong leher sahabatmu.” 

Sebuah pujian diibaratkan seperti memotong leher, yang artinya berujung kematian. Maka demikianlah, kehancuran yang akan diderita seseorang akibat pujian. Jatuh dengan meninggalkan segala kebanggaan diri.

Sementara mereka yang selama ini memberikan pujian, belum tentu akan membela, mungkin akan tertawa, bersorak bahagia, bahkan balik mencela.

Maka, 

“Jangan biarkan hati Anda mendapat kesenangan dengan pujian dari orang lain atau Anda akan sedih dengan kecaman mereka.” (Imam Al-Ghazali)

Hits: 239

Ai Yuliansah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories