KENANGAN MASA SMA SEORANG PENGIKUT AHMADIYAH

Saya adalah seorang muslim Ahmadi. Ahmadi adalah istilah untuk para pengikut Ahmadiyah. Dulu waktu sekolah, sebagian teman saya mengetahui hal ini, sebagian lagi tidak. Alhamdulillah, saya tidak pernah mendapatkan diskriminasi dari teman-teman saya atas ke-Ahmadiyahan saya.

“Apa salahnya berteman dengan orang Ahmadiyah”, kira-kira begitu kata mereka. Saya bersyukur kepada Allah swt. atas sikap teman-teman saya. Mereka begitu berpikiran terbuka. Sampai saat ini.

Namun sayangnya sikap diskriminasi itu justru datang dari pihak guru. Setiap pelajaran agama Islam, guru saya acap kali mengatakan hal-hal yang buruk mengenai Ahmadiyah, terlepas dari bab apa pun yang sedang dibahas di kelas. Sesat, murtad, bukan Islam, menjadi kata-kata yang acap kali terlontar kala ia mengajar. Saya hanya bisa diam. Lagi pula waktu itu apa yang saya bisa lakukan selain diam.

Sampai tiba suatu hari, ketika pelajaran bahasa Inggris, guru bahasa Inggris saya memberikan tugas mengarang. Karena waktu itu di kelas 3 SMA dan mendekati masa-masa kelulusan, Pak Guru meminta supaya tema karangannya adalah mengenai resolusi setelah lulus dari SMA.

Tanpa ada motif apa pun, saya menulis dalam karangan saya, bahwa resolusi saya setelah lulus SMA adalah melanjutkan pendidikan ke Jamiah Ahmadiyah Indonesia yang ada di Parung Bogor, sebuah lembaga pendidikan untuk mencetak para Mubaligh Ahmadiyah. Kebetulan waktu itu 2008, sedang ramai-ramainya isu mengenai Ahmadiyah di media.

Ketika menulis itu saya tidak banyak berpikir ini-itu. Saya tidak memiliki motif apa pun. Niat saya menulis itu betul-betul murni hanya untuk mengerjakan tugas pelajaran bahasa Inggris, that’s all.

Namun selang beberapa hari kemudian, sebuah peristiwa yang tidak terduga terjadi. Saya dipanggil oleh guru Agama saya ke ruang guru – ini ruang guru yang sebenarnya, bukan brand sebuah aplikasi bimbel online – dan saya diinterogasi mengenai isi dari karangan saya tersebut.

Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa tugas pelajaran bahasa Inggris diperiksa oleh guru Agama? Apakah ada yang salah dengan kaidah nahwu sharaf saya di karangan tersebut? Tapi saya pikir lagi ini kan pelajaran bahasa Inggris. Nampaknya tulisan saya ini menjadi perbincangan di ruang guru.

“Betul kamu nulis mau nerusin kuliah ke Jamiah Ahmadiyah?”, tanya guru tersebut membuka pembicaraan. Saya mengiyakan.

“Kamu pengikut Ahmadiyah?”, tanyanya lagi. Saya mengiyakan.

“Bapak-ibu kamu Ahmadiyah?”. Saya mengiyakannya juga.

“Kamu tahu Ahmadiyah itu sesat?”.

“Setahu saya tidak Pak”, jawab saya singkat.

Tiba-tiba melintas seorang staf tata usaha, dengan nada tinggi dan ketus dia mengatakan, “Bohong dia ini, apa yang di hatinya gak sesuai sama apa yang dia ucapkan”.

Kalimat ini tidak nyambung dengan dialog saya sebelumnya dengan guru agama tadi, karena memang dia tidak mengikuti pembicaraan sebelumnya, tiba-tiba saja dia menyela. Saya berpikir, bagaimana bisa dia tahu isi hati saya dan menghakimi saya berkata bohong.

“Ahmadiyah itu mengaku ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad saw,” terang guru Agama tersebut.

“Memang tidak ada lagi Nabi Pak setelah Nabi Muhammad saw.?”, tanya saya singkat.

“Iya, jelas tidak ada”, jawab beliau.

“Dalam corak apa pun kenabian itu?”, tanya saya lagi.

“Lha, iya jelas tidak ada lagi”, jawab beliau tegas.

“Bapak percaya Nabi Isa a.s. akan datang lagi di akhir zaman?”.

“Iya percaya”, jawabnya singkat dan terlihat ragu.

“Lalu apa kedudukan Nabi Isa a.s. ketika beliau turun lagi ke dunia ini?”.

Lalu saya mengutip ayat berikut ini:

ٱللَّهُ يَصْطَفِى مِنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ ٱلنَّاسِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌۢ بَصِيرٌ

Yang artinya, “Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

“Kata yashtofi yang artinya memilih menggunakan bentuk fi’il mudhari, yang artinya sedang memilih dan akan terus memilih. Pasti bapak lebih paham apa itu fi’il mudhari bukan? Jadi bagaimana mungkin pintu kenabian tertutup semantara Allah sendiri berfirman: sedang dan akan terus memilih utusan-utusan-Nya (rasul-rasul) dari malaikat dan manusia?”

Mendengar pertanyaan ini beliau terdiam cukup lama. Ruangan menjadi hening untuk beberapa saat. Kemudian beliau mengatakan, “Begini saja lah, kalau kamu ada waktu, kamu bisa ikut Bapak ke Pak kyai, di dekat sini ada pesantren. Nanti kita diskusi lagi di sana dengan Pak Kyai.”

Saya menolak secara halus. Saya beralasan rumah saya jauh dan kalau saya pulang terlambat orang tua saya akan khawatir. Setelah kejadian itu hubungan saya dengan Pak Guru tadi tetap terjalin dengan baik. Beliau pun tidak pernah membicarakan mengenai Ahmadiyah lagi pada saat jam pelajaran. Meskipun konsekuensinya adalah, nilai mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam saya di ijazah adalah 6.

Saya tidak merasa sedih dan kecewa dengan hal ini, toh ini hanyalah penilaian manusia. Penilaian Allah swt. atas keislaman dan keimanan saya lah yang lebih patut untuk saya khawatirkan.

Kita tidak menjadi Muslim karena adanya pengesahan dan pengakuan dari suatu lembaga apalagi individu. Kita hanya akan menjadi Muslim jika Allah swt. menganggap diri kita layak disebut Muslim.

Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad saw. telah memberikan sebuah definisi minimal mengenai keislaman seseorang dalam kalimat, “Siapa yang shalat seperti shalatnya kami, menghadap qiblat kami, dan memakan sembelihan kami, maka dia itu adalah muslim“. (HR. Anas bin Malik dalam Shahih al-Bukhari, no. 384-385)

Sepanjang seseorang melaksanakan poin-poin yang disampaikan oleh Rasulullah saw. tersebut, tidak ada hak kita untuk menyatakannya sebagai kafir atau non-muslim. Apa lah kedudukan kita dibanding Yang Mulia Rasulullah saw?

Hits: 29

Penulis | Website

Faith fighter
Moslem/Interpreter/Interisti/Coffee Lover

1 thought on “KENANGAN MASA SMA SEORANG PENGIKUT AHMADIYAH

  1. Kisah tentang keteguhan keimanan yg sangat menginspirasi. Semoga diberikan anak keturunan yg sholeh dan sholehah. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories