KENANGAN PAHIT ATAS SEBUAH PENOLAKAN

Sesaat saya terkenang kembali akan sebuah peristiwa yang menyedihkan dan hanyut dalam kisahnya. Kisah ini terjadi ketika saya masih duduk di kelas tiga SD.

Di bulan Ramadhan kala itu, di kota Bandung, suatu takdir yang tidak bisa dihindari harus terjadi. Keluarga harus siap dan menerima ketika kakak perempuan tertua yang sangat saya cintai meninggal dunia.

Ia meninggal karena pendarahan hebat ketika kehamilan bayi pertamanya. Segala upaya sudah diusahakan. Tapi Allah Ta’ala berkendak lain.

Sehari sebelum meninggal saya dan Kakak sempat bercengkrama sambil mencatat pembayaran candahnya. Kakak terlihat mengeluarkan sejumlah uang dari dompet berwarna merahnya. Ternyata itu adalah pengorbanan harta terakhirnya.

Tengah malam dengan lampu temaram disaksikan anggota keluarga, disebuah rumah orangtua yang sederhana, walau tanpa suaminya karena tuntutan kerja diluar kota, akhirnya Malaikat sakratul maut pun menjemput ajalnya dengan tenang untuk kembali ke haribaan-Nya. Dengan membawa janinnya yang belum sempat mengecap indahnya dunia.

Keesokan harinya jelang siang dengan kesepakatan keluarga dan suaminya, akhirnya jenazah Kakak akan dikebumikan di Kota Tasikmalaya di sebuah pemakaman keluarga. Dengan diantar keluarga, kerabat dan tetangga yang turut mengiringi jenazah ke peristirahatan terakhirnya.

Tiba di Tasikmalaya menjelang sore hari. Proses pemakaman pun dilaksanakan dengan segera mengingat hari tak lama menginjak malam.

Namun, terjadi hal diluar dugaan yang membuat kami terkejut. Saat jenazah akan dimasukan liang lahat, terlihat beberapa warga sekitar mendatangi. Dengan nada suara tinggi sambil sesekali berteriak, mereka menolak jenazah Kakak dimakamkan disini.

Kata-kata yang selalu terkenang dan mengiris-iris nurani dari mereka adalah “sesat, kafir dan sebagainya”. Semua itu terjadi hanya karena kami pengikut Jamaah Ahmadiyah. Yang bahkan jenazahnya pun yang sudah terbujur kaku dianggap najis.

Betapa sedihnya kami saat itu. Sudah sedih karena ditinggalkan oleh Kakak dalam usia yang masih sangat muda, kini jenazah kakak pun ditolak pemakamannya oleh warga.

Rasa lelah setelah melewati perjalanan panjang Bandung-Tasik, kini kami tengah diliputi kebingungan. Entah bagaimana nasib jenazah Kakak yang kini terkatung-katung. Dan saat itu, belum ada alat komunikasi.

Setelah berembuk, akhirnya kami putuskan untuk menghubungi pengurus Jemaat terdekat. Alhamdulillah akhirnya mendapat respon cepat dari Pengurus Jemaat daerah Babakan Sindang Tasikmalaya, agar jenazah diarahkan untuk dibawa ke daerah Babakan Sindang dekat Mesjid Baiturohim.

Jenazah yang hampir masuk liang lahat diangkat kembali dan dimasukan kedalam kain sarung. Jenazah ditandu dengan dua batang bambu dan digotong ramai-ramai oleh sebagian pelayat dengan melewati pematang-pematang sawah yang licin.

Perjalanan menuju lokasi cukup jauh dan melelahkan. Dengan sarana ala kadarnya, pemakaman jenazah Kakak demikian dramatis yang makin membuat kami makin menitikkan air mata.

Hari mulai gelap. Langkah kaki mulai gontai. Kami mulai hati-hati dalam melangkah. Peluh membanjiri pakaian.

Sampai di lokasi, kami disambut seluruh anggota Jemaat Babakan Sindang. Karena sudah malam, jenazah diinapkan semalam untuk dikebumikan besok paginya.

Jenazah Kakak akhirnya bisa dimakamkan di sebuah bukit milik umum. Dan selang dua tahun setelahnya, dipindahkan ke area pemakaman milik Jemaat di belakang Masjid Baiturohim. Berdekatan dengan makam Kakak laki-laki yang ketiga, yaitu Bapak Mubaligh Yahya Sumantri.

Akhirnya dari kejadian yang dialami di masa lampau dan apabila dikaitkan dengan keadaan sekarang, saya turut merasakan sekali rasa kesedihan mendalam, kekecewaan yang dirasakan oleh sebuah keluarga atas penolakan dari warga sekitar ketika jenazah anggota keluarganya yang positif covid-19 yang meninggal dunia baik sebagai masyarakat atau paramedis mendapat penolakan keras untuk dimakamkan dengan layak sebagai bentuk penghormatan terakhirnya.

Disatu sisi penolakan karena dianggap berbeda akidahnya dan disisi lain penolakan karena ketakutan penularan akan virus. Tidak jauh berbeda. Sama-sama mengiris nurani kemanusiaan kita.

Inilah gambaran sebagian masyarakat kita. Rasa takut yang berlebihan yang seringkali tidak masuk akal terjadi dengan membunuh rasa kemanusiaan kita. Padahal, apa yang bisa dilakukan oleh jasad yang sudah terbaring kaku dalam tanah? Bukankah manusia diciptakan dari tanah dan kembali ke tanah?

Khalifah Ahmadiyah yang kelima memberikan sebuah nasihat yang menyejukan, “Yang dibutuhkan dunia saat ini adalah cinta, kasih sayang dan persaudaraan.”

Harapan yang terdalam, semoga sikap penolakan ini tidak terulang kembali dengan alasan apapun dan Ibu Pertiwi tersenyum kembali dalam keharmonisan dan kesucian hati nurani. Virus corona juga virus intoleransi semoga segera pergi dari bumi pertiwi ini.

Hits: 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories