MAKNA DAN HAKIKAT PUASA YANG SERINGKALI LUPUT

Umat Islam di seluruh dunia tengah bersuka cita dapat dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan. Dimana di dalamnya kita akan disuguhkan dengan ibadah “shaum” alias berpuasa.

Berpuasa merupakan ibadah wajib yang dijalankan oleh setiap umat Islam. Kita perlu banyak-banyak menafakuri makna dan hakikat puasa ini, agar menjadi pijakan kuat bagi kita mendulang banyak berkat juga rahmat dari bulan suci ini.

Makna dan hakikat puasa memiliki makna yang sangat luas. Arti shaum (puasa) secara bahasa adalah berhenti dan tidak melakukan suatu pekerjaan.

Dalam istilah syariat, berhenti makan, minum dan berhubungan badan mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat ibadah disebut shaum atau puasa.

Jadi, secara sederhana puasa berarti “berhenti”. Kebanyakan kita memaknainya hanya sampai pada berhenti makan dan minum. Padahal, Allah Ta’ala menghendaki setiap mukmin untuk “berhenti” juga dalam aspek-aspek lain yang seringkali kita lalai terhadapnya.

Puasa bukanlah sekedar nama berhenti makan dan minum saja. Bahkan maksudnya adalah berhenti melakukan segala macam perkara yang tidak berguna dan perbuatan keji. Serta dapat menahan dan mengendalikan diri dengan mengekang gerak tubuh untuk tidak melakukan berbagai hal yang dibenci oleh Allah.

Dengan berpuasa kita dapat mengendalikan mata dari pandangan yang tidak sepantasnya untuk dilihat. Mengendalikan lidah dari bertutur kata kasar, kotor dan dusta. Mengendalikan hati untuk selalu bersabar dan menahan emosi sehingga menimbulkan empati. Serta mengendalikan anggota tubuh lainnya seperti telinga, tangan dan kaki untuk menjauh dari segala perbuatan fasik.

“Jadi, wahai orang yang berpuasa! Seandainya seseorang mencacimu atau membuatmu marah, maka katakanlah kepadanya bahwa aku sedang berpuasa. Barangsiapa yang mencaci, meskipun berpuasa, maka puasanya hanya untuk lapar dan haus saja, yang menyebabkannya tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya.” (Darimi merujuk pada Misykat, jilid 1, halaman 177)

Dalam sebuah Khutbah Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba, menyampaikan bahwa Allah tidak tertarik supaya kamu merasakan lapar, sebab lapar itu bukan tujuan yang utama. Melainkan bahwa mutu ketakwaan yang tinggi segera diraih.

Ketakwaan tak bisa diraih sebelum kita berhenti dari adat kebiasaan buruk. Sebab cerminan puasa seorang mukmin adalah amalannya itu sendiri. Amalannya lah yang akan memberi kesaksian seberapa baik kualitas puasanya.

Jangan sampai puasa kita tak menyisahkan apapun selain lapar dan dahaga. Karena kita bisa untuk berhenti makan dan minum, tapi kita tak bisa berhenti dari mengamalkan larangan-larangan Allah Ta’ala.

Sebuah hadits mengatakan,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَ اْلعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ فِىْ اَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَ شَرَابَهُ

Yakni, barangsiapa tidak meninggalkan berbohong, bahkan mengamalkannya pada waktu puasa, lalu apa perlunya meninggalkan makan dan minum demi Allah Taala. (Bukhari; kitab Al-Shaum, jilid 1, halaman 255)

Ringkasnya, puasa telah mengajarkan kita sebuah jalan untuk meninggalkan keburukan. Dan salah satu jalan utamanya adalah berhenti makan juga minum (diwaktu yang telah ditentukan). Sehingga darinya, kita bisa melangkah kepada “keberhentian” yang lebih luas lagi. Yakni, berhenti melakukan keburukan juga kejahatan.

.

.

.

editor: Muhammad Nurdin

Hits: 264

Liana S. Syam

1 thought on “MAKNA DAN HAKIKAT PUASA YANG SERINGKALI LUPUT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories