SEGENGGAM BERAS YANG MEMBAWA BERKAH

Kehidupan tak selamanya berjalan dengan indah. Adakalanya kita mengalami keterpurukan dalam kehidupan, sedang diuji suatu cobaan dan masalah yang dihadapi  dalam menjalaninya.

Ada seorang ibu sebut saja ibu Rumi. Ia seorang Ahmadi dan menceritakan kisahnya dahulu, setelah ia dan kelurganya berpindah tempat tinggal, menempati sebuah rumah di komplek perumahan jauh dari kota.

Sebelumnya ia dan keluarganya aktif menjalankan kewajibannya sebagai anggota Jemaat Ahmadiyah dengan membayar candah dan pengorbanan lainya dengan dawam juga selalu mengikuti kegiatan yang dilaksanakan baik shalat jumat maupun menghadiri pengajian-pengajian.

Karena jarak yang jauh, lama-lama kaki pun enggan melangkah untuk datang ke masjid karena terbentur dengan biaya yang lumayan besar bila semua anggota keluarganya pergi. Karena ongkos yang dikeluarkan dapat digunakan untuk biaya makan satu minggu sekeluarga. Rasa takut kekurangan pun berkecamuk, hingga akhirnya ia memilih jalan-jalan dunia.

Hanya suaminya saja yang datang ke masjid itupun hanya untuk melaksanakan sholat jumat. Itupun bila ada waktu senggang di tempat kerjanya.

Bu Rumi dan anak-anaknya datang ke masjid Jemaat hanya untuk melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Ibadah yang wajib kadang dilaksanakan di rumah dan membiarkan anak-anaknya sholat dan mengaji ke masjid ghair. Karena terpaksa ia lakukan daripada anak-anaknya tidak dapat mengaji.

Sesuai dengan penuturannya, suatu masa Ia di tegur Allah Ta’ala. Keluarganya mengalami ujian dan cobaan yang sangat dahsyat.  Ketiga anaknya sakit dalam waktu berturut-turut dan harus dirawat di rumah sakit. Hari pertama anak pertamanya didiagnosa terkena Demam Berdarah Dangue (DBD), selang tiga hari adiknya yang nomor dua dan  empat demam bersamaan dan setelah diperiksa harus dirawat juga karena sama terkena DBD.

Sementara keempat anaknya yang lain di rumah, untuk makan mengandalkan bantuan dari tetangganya. Ujian dan cobaan bersamaan dengan kondisi ekonomi yang terpuruk. Jangankan untuk biaya rumah sakit untuk kebutuhan sehari-hari saja sangat kurang.

Dalam kebingungan dan kebimbangan, bu Rumi jalani dengan penuh kesabaran dan terus meningkatkan ibadahnya sholat lima waktu, tahajud dan dhuha tak pernah terlewatkan.

Untuk menutupi biaya rumah sakit ia dan suaminya mencari pinjaman kepada saudara maupun teman-temannya.

Tak lama setelahnya, datang lagi ujian dan cobaan menimpa keluarganya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah ungkapan yang kurang lebih menggambarkan nasib keluarga bu Rumi. Motor satu-satunya milik mereka yang biasa dipakai untuk berangkat bekerja suaminya dan untuk mengantarkan sekolah anak-anaknya raib  ketika di parkiran kantor kecamatan.

Suami pulang diantar tukang ojeg dengan lemasnya. Bu Rumi dan anak-anaknya terperanjat melihat suaminya datang diantar ojeg tanpa motor kesayangan mereka.

Entah siapa yang berani mencurinya, sehingga kesedihan kembali menyelimuti keluarga ini. Mulai saat itu suaminya bila hendak bekerja mengandalkan ojeg dan angkot sebagai moda transportasi walau harus menguras isi dompet dan berbagi dengan biaya dapur.

Pernah beberapa kali dialami, suaminya bu Rumi, pulang bekerja tanpa membawa uang sepeserpun karena belum mendapat upah yang sering terlambat.  Kebingungan menghampiri bu Rumi anak-anaknya mau dikasih makan apa bila tak punya uang? Akhirnya bu Rumi memberanikan diri datang ke pemilik warung sekedar meminjam beras dan garam yang akan dibayar nanti saat  suaminya sudah mendapatkan upah.

Karena kebaikan bu Rumi dan keluarganya yang selalu membantu bila ada tetangganya yang membutuhkan bantuan, entah itu dengan materi maupun dengan tenaga yang dapat diberikan. Sehingga saat bu Rumi mengalami keterpurukan, tetangga dengan ikhlasnya membatu keluarga bu Rumi dengan memberi makanan ataupun pinjaman beras dan uang.

Suatu hari bu Rumi berdiskusi bersama suaminya dalam hal menjalani kehidupan yang penuh ujian dan cobaan. Ia dan suaminya menjalani hidup dalam keterperukan, walau berusaha untuk menjalaninya dengan penuh kesabaran namun hati terasa hampa dan penuh kegelisahan. Hingga bu Rumi mengatakan kepada suaminya,  “Apa yang salah dari kita ya? Padahal semua ibadah dilakukannya dengan baik.”

“Entahlah… kita hanya dapat terus berdoa dan berusaha yang terbaik untuk kehidupan ini”. Hanya itulah kata yang terucap dari suami bu Rumi.

Untaian kata yang terucap tak pernah terlewatkan dalam doa di setiap sepertiga malam, bu Rumi panjatkan kepada Allah Ta’ala memohon petunjuk supaya dapat keluar dari ujian dan cobaan yang menimpa keluarganya.

Hingga suatu waktu terbesit dalam ingatan bu Rumi tiba-tiba ingat kepada saudara-saudara rohaninya. Entah apa yang menggerakan hatinya, suatu Jum’at ia turut suami ikut melaksanakan sholat Jum’at dan tentunya bertemu dengan saudara-saudara rohaninya.

Hati bu Rumi merasa tentram dan damai setelah bertemu saudara-saudara rohaninya. Sambil melepas kerinduan dan menanyakan kabar keluarganya masing-masing. Bu Rumi diajak kembali untuk hadir mengikuti pengajian-pengajian.

Pulang dari masjid, di sepanjang jalan ia merenungi  bahwa mungkin segala ujian dan cobaan hidupnya salah satunya karena ia dan keluarganya telah lalai dan menjauh dari Jemaat. Tak terasa air matanya telah membasahi pipinya dan seperti ada kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan dan ingin dekat lagi ke Jemaat.

Ia mengutarakan apa yang dirasakan kepada suaminya, dan suaminya pun menyadarinya. Bahwa segala ujian hidup yang menimpa keluarganya mungkin salah satunya karena kelalaiannya tidak memenuhi kewajibannya sebagai anggota Jemaat yaitu tidak membayar candah dan menghadiri kegiatan.

Akhirnya, bu Rumi dan suaminya berniat kembali untuk berusaha membayar candah dengan cara apapun. Ia teringat akan penjelasan salah satu pengurus LI yang ia temui saat ke masjid dan mengatakan bahwa bila kita ingin membayar candah dan tidak memiliki uang sama sekali. Uang hanya untuk kebutuhan makan saja, untuk itu coba dengan cara menyisihkan segenggam beras disetiap kita akan memasak nasi. Setelah satu bulan terkumpul, beras bisa diuangkan dengan cara dibeli kembali oleh kita hasilnya dapat kita gunakan untuk membayar candah dan iuran LI.

Rupanya penjelasan dari saudara rohaninya itu langsung dipraktekkan oleh bu Rumi. Setiap hendak menanak nasi iya sisihkan segenggam demi segenggam hingga satu bulan beras sudah terkumpul. Senang rasanya beras yang terkumpul lumayan banyak hingga akhirnya ia dapat membayar kewajibannya dalam pengorbanan.

Setelah beberapa bulan berjalan manfaat dari membayar pengorbanan dengan rutin ia dan keluarganya dapat dirasakan kenikmatannya. Ada ketentraman hati yang tak bisa diungkapkan begitu juga melihat kondisi anak-anaknya sehat dan ekonomi keluarganya beranjak meningkat.

Selain itu dengan niat supaya dapat menambah membayar candah dan supaya memiliki ongkos untuk kegiatan jemaat, bu Rumi membuat kue donat atau makanan apa sja yang ia olah untuk dijual hingga mengahasilkan uang.

Dibantu anak-anaknya membuat kue dan menjajakannya. Alhamdulillah dari usahanya ia dapat menambah membayar candah dan untuk ongkos ke masjid.

Setahun berlalu, ia dengan rutin membayar candah dari cara menyesihkan segenggam beras dan dari hasil berjualan kuenya. Suatu hari, dari tempat bekerja suaminya mendapat bonus sepeda motor dari hasil kerjanya sebagai pegawai yang berprestasi.  Alhamdulillah keluarga bu Rumi bahagia dapat memiliki motor kembali untuk memudahkan suaminya dalam bekerja dan mengantar anak-anaknya ke sekolah.

Kebiasaan bu Rumi menyisihkan beras segenggam setiap kali masak terus berlanjut dan menanamkan contohnya itu kepada anak-anaknya untuk membayar candah dari menyisihkan uang jajan yang ia berikan kepada anak-anaknya.

Setiap minggu ia dan anak-anaknya datang untuk menghadiri pengajian di Masjid Jemaat. Walaupun jauh sekarang tidak menjadi penghalang untuk dapat datang meski harus mengeluarkan biaya yang banyak untuk ongkos keluarganya.

Semua ia jalani dengan ikhlas demi meningkatkan kerohaniannya dan menjalin ikatan kepada khalifahnya. Alhmdulillah rezeki selalu ada saja untuk itu. Entah dari penghasilan dari suaminya atau hasil dari berjualan kuenya.

Segala kebutuhan keluarga bu Rumi tercukupi tempat tinggal, kebutuhan anak-anak terpenuhi dan dapat bersekolah hingga ke perguruan tinggi.

Itulah kisah bu Rumi yang sempat lalai membayar candah dan menjauh dari Jemaat, ia bersyukur Allah masih sayang kepada keluarganya hingga akhirnya ia menyadari kelalaiannya dan diselamatkan untuk tetap menjalin ikatan keikhlasan dan ketaatan dengan Khilafat.

Kisah diatas kita dapat petik hikmahnya bahwa ujian dan cobaan datang terkadang dari ulah kita sendiri yang telah melalaikan kewajiban kita kepada Jemaat Illahi ini.

Meningkatkan semua amal ibadah tidak cukup bila tidak dibarengi dengan pengorbanan harta di jalan Allah.

Segala usaha yang kita lakukan dengan penuh kesabaran, keikhlasan serta tanpa ada rasa takut kekurangan harta untuk pengorbanan, Insyaa Allah. Allah Ta’ala selalu memberikan jalan untuk mendapatkannya.

Hadhrat Muslih Mauud r.a bersabda:

Kemudian secara ruhani faedah infak itu adalah bahwa barangsiapa yang membelanjakan hartanya untuk Allah maka dalam agama dia lama kelamaan akan menjadi bertambah kuat, karena itulah saya berlakali-kali menyampaikan kepada anggota Jemaat saya. Bahwa barangsiapa yang lemah agamanya maka jika dia tidak mengambil bagian pada kebaikan yang lain maka seyogianya dari mereka candah harus diambil. Sebab, apabila dia membelanjakan hartanya maka dari itu dia akan mendapat keteguhan iman dan keberanian dan kemantapan dirinya akan menjadi bertambah dan dia akan berpartisipasi dalam kebaikan-kebaikan yang lain. (Tafsir Kabir Jilid 2, hal. 612)

.

.

.

Penulis: Liana S. Syam

Editor: Muhammad Nurdin

Hits: 739

Liana S. Syam

3 thoughts on “SEGENGGAM BERAS YANG MEMBAWA BERKAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories